Ketika Abrasi dan Sedimentasi Menghampiri Pesisir Kota Makassar

Screenshot_20190414_020130

Pada Desember 2018 banjir rob kembali terjadi di Jakarta, kendaraan yang terendam air pasang, saat melintas di Jalan Muara Baru Jakarta Selatan.

Saya pertama kali mendengar istilah banjir rob saat tahun pertama di universitas, istilah itu disebutkan oleh dosen saya pada mata kuliah pendahuluan.

Saya berkuliah di Kota Makassar, sebuah kota yang menjadi pusat paling terang di seluruh pulau Sulawesi setelah daerah tambang nikel (Sorowako). Lalu saya terpikirkan oleh Kota Jakarta, Jakarta adalah kota paling terang di seluruh pulau yang ada Indonesia.

images (1)

(Penampakan Indonesia pada malam hari, sumber gambar NASA)

Dosen saya menyatakan banjir rob pernah terjadi di Jakarta, beliau lalu menjelaskan bahwa banjir itu disebabkan oleh air pasang laut yang menggenangi daratan. Sebuah pengetahuan baru bagi saya kala itu bahwa banjir tak hanya disebabkan oleh hujan deras dan tersumbatnya saluran-saluran tapi juga bisa diakibatkan oleh air laut.

Kehadiran banjir rob pada wilayah perkotaan dekat pesisir semakin diperparah dengan turunnya muka air tanah, tentunya bisa diperkirakan karena hal tersebut dampak banjir rob bisa semakin parah.

Catatan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Jakarta mengalami penurunan muka tanah 5-12 cm per tahun. Jika laju penurunan muka tanah di Jakarta terus berlangsung, Jakarta akan semakin rentan tergenang air pasang dan banjir.

Beberapa hal yang bisa menyebabkan turunnya muka air tanah di kota-kota besar yaitu, adanya faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yaitu bisa ditinjau dari kondisi daerah tersebut tersusun oleh tanah atau batuan yang memang bersifat lunak. Dari kombinasi faktor alam semakin diperparah dengan faktor manusia, seperti pengambilan air tanah yang secara berlebihan dan pembebanan berlebihan pada permukaan tanah, (banyaknya pembangunan gedung-gedung tinggi atau infrastruktur berat lainnya di daerah perkotaan)

Saat ini saya semakin menyadari bahwa manusia kadang melupakan lingkungannya, atau bahkan tak mengenal dirinya sendiri, sehingga kadang ia melakukan hal yang terasa tak pernah cukup untuknya.

Sisi lain dari dampak positif perkembangan pembangunan tentunya harus selalu berdampingan dengan lestarinya suatu lingkungan, suatu tantangan bahwa disetiap kemajuan manusia harus tetap menoleh ke alam dan lingkungan sekitarnya.

Prediksi para ahli melihat bahwa adanya kemungkinan kota Jakarta tenggelam, turunnya muka air tanah, dan karena bersebelahan dengan laut, daratannya kemudian sering tergenang.

Jakarta sebagai salah satu kota yang berada di pesisir atau tepian pantai, tentu tak asing lagi dengan bajir rob, saya kemudian teringat dengan daerah pesisir Mariso, yang bersebelahan langsung dengan selat Makassar tentu termasuk juga dalam daerah yang rentan terhadap kehadiran banjir rob.

Jika hal tersebut telah terjadi di Jakarta lalu bagaimana dengan Makassar?

Berdasarkan perubahan bentang alam Makassar sendiri yang diakibatkan oleh sifat alami alam berupa dinamika pantai telah terjadi proses sedimentasi atau ekresi (penambahan badan pantai), dan juga abrasi (pengikisan badan pantai). Selain faktor alami oleh alam itu sendiri, sifat atau aktivitas alam ini kemudian dipercepat dengan keberadaan faktor antropogenik alias aktivitas manusia berupa pembangunan atau aktivitas lain di sekitar pantai.

Screenshot_20190418_105634

(Gambar Google earth. Garis Pantai Makassar Losari dan sekitarnya tahun 2008)

Screenshot_20190418_105614

(Gambar Google earth. Garis Pantai Makassar Losari dan sekitarnya tahun 2019)

Perubahan bentang alam ini tentunya juga berpengaruh pada lingkungan sekitar misalnya yang terjadi pada pulau-pulau kecil di sekitar Selat Makassar. Ketika warga Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang pada tahun 2017 secara swadaya mengumpulkan dana dan membuat sendiri tanggul pemecah ombaknya untuk mencegah terjadinya abrasi.

Untuk wilayah Makassar sendiri, telah terjadi abrasi yang ditunjukkan oleh semakin bergesernya garis pantai di sekitar Pantai Tanjung Layar Putih Makassar, ketika tugu layar putih perlahan semakin bergeser dan mulai terendam air laut, padahal dahulu tugu tersebut dibangun pada daerah daratan.

IMG_20190418_112325

Kehadiran abrasi selalu sejalan dengan sedimentasi. Jika ada bagian yang terabrasi maka yang lain mengalami sedimentasi. Upaya untuk menghadapi sifat pantai tersebut dengan membangun bangunan breakwater, groin, jetty, dan timbunan pantai.

IMG_20190418_113125

Sepertinya memang kondisi Pantai Makassar sendiri masih belum terlalu berdampak parah, belum mengalami banjir rob yang mulai menimbulkan kekhawatiran seperti di Pesisir Kota Jakarta, setidaknya untuk saat ini, karena disisi lain bahwa Kota Makassar masih belum semaju Kota Jakarta.

Referensi

https://metro.tempo.co/read/895343/penyebab-permukaan-tanah-di-jakarta-turun-12-cm-per-tahun

https://nationalgeographic.grid.id/read/13931978/penurunan-permukaan-tanah-jakarta-utara-tenggelam-32-tahun-lagi

Advertisement

9 thoughts on “Ketika Abrasi dan Sedimentasi Menghampiri Pesisir Kota Makassar”

  1. Saya jadi ingat duu banget awal tahun 2000-an tugu layar putih memang benar masih ada di atas daratan yang jauh dari bibir pantai. Dan sekarang perubahannya berbeda drastis, malah tugunya sering tersapu ombak. Kalau dari yang saya pelajari juga kenaikan muka air laut ini efek dari pemanasan global yang juga mempengaruhi banjir rob yang terjadi di kota-kota pesisir. Selain itu, pengerukan tanah dan air tanah di dekat pantai juga berpengaruh apalagi sekarang ada reklamasi besar-besaran di sepanjang Pantai Losari. Tapi yang perlu di antisipasi sih, para pembangun harusnya juga membuat tanggul atau kanal yang dapat membuang air langsung ke laut.

    Like

  2. dulu masih mendapati Tugu Layar Putih itu masih berada di daratan. makin lama tugu itu akan makin tenggelam nanti.

    Like

  3. Mengerikan juga ini banji rob. Selain itu bisa juga terjadi kalau air tanah sedikit sekali atau habis maka air laut juga bisa masuk ke dalam tanah maka air tanah menjadi asin. Itu bisa dari efek manusia karena lingkungan rusak sehingga daya serap tanah berkurang 😦

    Like

  4. Saya tinggal di Makassar 3 tahun lebih sejak 2015, baru tahun 2017 dan 18 saya rasakan banjir di Makassar. Memang sih banyk faktor2 lingkungan yang menyebabkan banjir di Kota besar.

    Like

  5. Sebuah pembahasan yang sangat menarik tentang banjir rob ini.. Mudah2an Kota Makassar aman dari banjir begini dan mudah2an juga pemerintah Kota Makassar bisa sadar akan bahaya banjir Rob dan mengambil langkah pencegahan..

    Like

  6. Mencairnya es di Kutub Utara juga berpengaruh akan naiknya permukaan air laut, dan kita sebagai Negara Kepulauan yang akan merasakan dampak besarnya. Pembangunan di Pantai Losari memang indah meskipun sayangnya kita akan sulit memandang sunset secara cuma-cuma lagi, juga menimbun daerah resapan dan membabat bakau, jadi ya… tunggu saja sih 😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s