Kuda, Gengsi, dan Sepiring Gantala Jarang

Seorang kakak senior yang sangat baik hati mengajak saya menghadiri acara makan-makan. Dalam hajatan itu saya kemudian mencicipi makanan khas Jenneponto, Sulawesi Selatan.

Jarak tempuh dari Makassar ke Jenneponto sekitar 3 jam. Acara makan-makan itu merupakan acara syukuran sunatan adik dari salah satu teman kerja si kakak senior. Ramai dengan teman-teman lain yang juga diajak, kami langsung menuju ke tempat hajatan. Setelah sampai di sana, rumah itu sudah dipenuhi dengan para tamu undangan, dekorasi rumah panggung milik tuan rumah bak  acara pengantin khas Bugis Makassar, dari luar penyanyi dangdut melantunkan lagu berbahasa daerah setempat diiringi oleh organ tunggal (padahal hanya acara sunatan tapi ramai banget),  banyak lamming yang menghiasi langit-langit dan dinding rumah, di antara desakan tamu udangan yang memang sudah lapar, langsung aja nih salam-salaman dulu dengan si ibu, si tuan rumah yang ceria dan ramah banget.
Saya sempat bertanya pada kakak senior saya, dimana anak laki-laki yang sudah sunatan tersebut. Bayangan saya nih, kalau adat Bugis Makassar yang lebih ekstrim sih, si anak harusnya pake baju adat terus duduk di ruang depan pas ada tamu, tapi ini sama sekali enggak ada.
Senior saya pun menjawab bahwa si adik laki-laki itu sudah disunat tahun lalu tapi baru dibuatkan acara tahun ini karena baru ada biaya.
Luar biasa sekali acara sunatannya, yang berkali-kali saya katakan bahwa acara sunatan aja udah kayak hajatan pengantin. Senior saya pun berkata bahwa orang-orang di sana memang punya gengsi yang tinggi dan sajian yang harus ada adalah sajian gantala jarang alias masakan daging kuda.
Saya kemudian mengangguk dan mulai memahami bahwa yah, mungkin begitulah culture mereka di sana.
Jadi kembali ke tujuan awal ke hajatan yaitu untuk makan-makan, khususnya mau makan makanan khas daerah itu,
Jadi saya kemudian makan daging kuda. Kuda disebut “jarang” nama masakannya sendiri disebut “gantala jarang.”
Tidak terlalu makan banyak, sedikit aja, kalau makan banyak soalnya daging kuda bisa membuat suhu tubuh menjadi panas, efeknya sama kayak makan durian kebanyakan.
Jadi dari ceritanya sih kalau ada hajatan afdolnya gantala jarang itu dimasak oleh bapak-bapak (kaum laki-laki) dimana dimasaknya dalam kuali besar dan direbus lama, nanti dicampur dengan garam dan sedikit rempah.

kude 3
Saat saya sendok memang kuah gantala berbeda dengan kuah coto yang banyak rempahnya, kuah gantala jarang cenderung minimalis. Rasa dagingnya khas, kalau menurut saya sih tetap aja mirip daging sapi, tapi dagingnya empuk dan aromanya khas. Dagingnya tidak amis, sepertinya dimasak dengn sempurna oleh si bapak-bapak chef di sana.

kude
Berbicara tentang kuda yang saya makan, kuda memang telah menjadi simbol dari daerah Jenneponto. Di tengah pusat daerah ini bahkan didirikan patung kuda sebagai landmark.  Penduduk daerah itu memang suka makan kuda, daging kuda sendiri dijadikan sebagai daging olahan untuk masakan konro, gantala jarang, ataupun coto. Jadi jika dibandingkan dengan daging sapi, daging kuda memang lebih popular.
Karena kuda dijadikan sebagai makan favorit, maka kuda kemudian banyak diternakkan oleh warga.

Untuk kondisi alam daerah Jenneponto sendiri cenderung tandus dan juga berangin. Saking beranginnya,  potensi ini kemudian melahirkan jajaran tiang-tiang kincir raksasa untuk pembangkit listrik tenaga bayu.  Suhu udara disini lumayan terik, saking teriknya bisa membuat emosi jiwa karena dehidrasi.

Untuk bahasa sehari-hari masyarakat menggunakan bahasa Makassar, tapi meskipun sama dalam kosa kata bahasa orang Makassar, dalam segi dialek, warga Jenneponto punya satori alias logat khusus.
Untuk intonasi bahasa sendiri, bahasa Makassar itu cenderung tegas dan intonsi keras sehingga sering kali muncul stereotype bahwa orang Makassar cenderung kasar. Tapi ini tergantung perspektif, sama dengan umat manusia di segala penjuru dunia pada umumnya, ada yang kasar, ada yang halus. Seperti permukaan alas sepatu gunung harus kasar biar bisa napak medan pendakian dan enggak terpeleset lebih sering, atau sepatu para penari balet yang alas sepatunya datar dan halus agar si balerina bisa menari dengan lembut dan gemulai. Jadi secara umum saya lihat ibuk-ibuk di Jenneponto ini ramah dan ceria, meski kalau bicara emang agak rame dan volumenya keras.

Dalam perbincangan biasanya,  kalau mau panggil orang dewasa, kayak ibu-ibu, bapak–bapak biasanya ada sebutan “karaeng.”
Awalnya aku bingung sebutan apa nih, artinya apa? Nah setelah mencari tahu sejarahnya memang “Karaeng” itu sudah jadi culture juga di daerah Jenneponto. Berdasarkan sejarahnya sendiri, saat Indonesia masih zaman keajaan di Jenneponto, Karaeng merupakan julukan buat keturunan bangsawan atau orang penting.

Nah gelar “karaeng” ini masih bertahan hingga sekarang,  dan secara tidak langsung juga berpengaruh pada meriah dan ramainya penampilan dan penyelenggaraan suatu hajatan, utamanya oleh orang yang disebut karaeng. Yah muaranya kembali lagi ke pusaran antara kuda dan gengsi.

Beberapa menit kemudian, pada akhirnya,  sepiring gatala jarang yang saya santap,  kini kosong. Daging kuda telah saya lumat dan masuk ke lambung. Terima kasih untuk undangan makan-makannya,  ditunggu undangan selanjutnya.

 

 

 

 

DI BALIK MANISNYA KUE TRADISIONAL BUGIS MAKASSAR

Hari itu ibuku membawa sepiring kue yang berasal dari acara pernikahan sepupuku. Sejak kecil aku sering melihat kue-kue itu. Kue tradisional khas bugis Makassar dengan rasa yang sangat manis.

IMG_2710
Sepiring kue

Di atas piring itu, yang menarik perhatianku adalah kue bolu kecil yang berbentuk bunga dan bentuk seperti perahu itu, kue yang terlihat lebih modern, jika dibandingkan dengan kue Bugis Makassar lainnya seperti kue Barongko (kue pisang yang dibungkus daun pisang), ataupun kue Bannang-bannang (kue yang terbuat dari gula merah).

Aku menduga bahwa keberadaan kue itu masih ada kaitannya dengan pengaruh peninggalan budaya kolonial Belanda di Indonesia. Kue bolu yang sama seperti kue Eropa.

IMG_20180319_100449
Kue bolu

IMG_20180319_100537

Di sisi lain piring ada kue yang jelas menegaskan pengaruh budaya kolonial Belanda, namanya Kue Baruasa Belanda, kue ini berwarna putih (kemungkinan ibu-ibu yang meraciknya dengan gula putih bukan dengan gula merah), biasanya bahan utamanya tepung yang dicampur dengan gula merah sehingga ketika dipanggang kue itu berwarna kecoklatan dan mengeluarkan aroma khas gula merah dan kayu manis.


IMG_20180319_100403
Kue Baruasa Belanda

Kue yang lain ada kue yang terbuat dari tepung yang dibentuk sedemikian rupa dan dibalut dengan tepung gula pasir. Waktu kecil aku menyebutnya kue kacamata karena menurutku bentuknya menyerupai kacamata. Rasanya sangat manis, terkadang jika memakannya terlalu banyak, bisa menyebabkan kerongkongan menjadi kering. Kue ini selalu ada di acara pernikahan Bugis Makassar.

IMG_20180319_100635 - Copy
Kue kacamata alias Kue Ajoa

Kemudian aku mengetahui bahwa kehadiran kue ini memiliki arti di balik kehadirannya. Sebuah kue yang berbentuk kacamata yang ternyata bernama Ajoa, (aku baru tau kalau namanya Ajoa) dan arti sebenarnya dari bentuk kue itu adalah reflika dari sebuah alat bernama Ajoa. Ajoa adalah alat yang digunakan untuk membajak sawah, alat itu dipasangkan di kedua leher kerbau. Zaman dahulu belum mengenal traktor dan yang digunakan adalah ajoa sebagai alat sederhana. Kalau dari filosofinya sendiri ajoa yaitu agar pengantin baru dapat saling berjuang bersama dan saling membantu dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Jika Ada Ajoa, maka ada lagi Se’ro-se’ro, bahan utamanya sendiri serupa dengan Kue Ajoa, tepung beras, telur dan ditaburi tepung gula putih.

Se’ro-se’ro sendiri berarti timbah (bahasa Bugis Makassar). Zaman dahulu belum ada mesin air, ataupun air PDAM jadi mandi biasanya mandi di sumur, kaitannya dengan adat jaman dulu, biasanya pasangan yang baru menikah bergantian menimbah air di sumur, maksudnya hampir serupa dengan Kue Ajoa, tapi untuk kue Se’ro-se’ro sendiri saya rasa filosofinya lebih romantis.

IMG_20180319_100658
Kue Se’ro-se’ro

Jadi sekian lama menikmati kue traditional ini sejak kecil, aku akhirnya mengetahui bahwa kue ini bukan hanya hadir sebagai pelengkap tetapi kue traditional ini memiliki doa dan filosofi mendalam di balik rasanya yang manis.

IMG_20180319_100056