Patung Megalitikum Palindo

Pada perjalanan saya menuju lembah Bada di bulan Oktober, teman saya sudah berpesan bahwa saya harus menjaga kesehatan agar tidak muntah di dalam mobil.

Realitanya jalan menuju ke lembah Bada itu memang memiliki banyak sekali kelokan serta tikungan tajam dan tipikal jalan membosankan khas pegunungan dimana kiri kanan pemandangan kebanyakan hutan dan jurang dan jalan menanjak.

Untungnya kesehatan saya memang sedang fit, jadi saya bisa melewati perjalanan dengan aman.

Di Lembah Bada ini saya menjumpai Patung Palindo, sebenarnya saya hampir tidak berkunjung ke Patung megalitikum ini, karena arahan dari bos di kantor, kami harus menyelesaikan tugas kantor di lokasi itu, baru kami dizinkan pergi jalan-jalan.

Untung saja lokasi Patung Palindo tidak terlalu jauh dari sisi jalan.

Patung Palindo merupakan patung dengan ukuran sekitar 4,5 meter. Berlokasi di Lembah Bada, Lore Selatan, Sulawesi Tengah.

Lembah Bada merupakan salah satu bagian dari Taman Nasional Lore Lindu, dan masuk dalam kawasan megalitik Lore Lindu.

Keberadaannya merupakan bukti kebudayaan daerah itu pada masa lampau.

Palindo sendiri berarti ” Sang penghibur” pantas saja wajah dari patung ini begitu ceria, karena memiliki senyuman di wajahnya. Meski ia tidak tersenyum lebar, dan hanya terukir sebuah senyum simpul.

Menurut informasi patung ini adalah patung megalitikum terbesar, jadi di lokasi lain juga ada patung megalitikum namun ukurannya lebih kecil.

Patung Palindo ini cukup mirip dengan menara pisa, kemiripan yang dimaksud adalah kemiringan dalam segi posisi miring. Warga lokal menduga bahwa dulunya patung palindo ini berdiri tegak.

Patung Palindo pada awal tahun 1930, di depannya berpose tiga orang Belanda, masih banyak semak-semak dan tumbuhan hijau lain di sekitarnya.

Patung Palindo pada Oktober tahun 2019, lihat sekelilingnya telah mengalami perubahan.

Patung ini bisa dikategorikan sebagai patung menhir karena bentuknya menyerupai menhir, berbentuk silinder, dengan pahatan wajah sederhana, dan tubuh tanpa kaki, di bagian bawah terpampang jelas bentuk jenis kemaluannya, berdasarkan bentuknya, patung Palindo sendiri adalah seorang laki-laki.

Pada tahun 1909, Albertus Christiaan Kruyt seorang etnografer sekaligus misionaris asal Belanda menulis artikel bertema antroplogis dan arkeologis berjudul “Het Landschap Bada in Midden Celebes” yang membahas tentang megalitik di Lembah Bada.

Pada abad ke-19, dimulai penjelahan orang eropa ke Sulawesi Tengah, beberapa penjelajah yang terkenal tersebut diantara dua misionaris Belanda, Kruyt dan Nicolaus Adriani, disusul oleh dua naturalis Swiss, Paul dan Fritz Sarasin.

Kedatangan misionaris eropa tersebut di masa lampau memberikan pengaruh yang besar di Sulawesi, dimana sebagian besar penduduk di Poso dan Toraja hingga sekarang merupakan penganut Kristiani.

Lembah Bada pada tahun 1912.

Lembah Bada di tahun 2019

The Malay of Archipelago : Catatan Perjalanan Wallace

Malay_Archipelago_title_page

Saya pertama kali mendengar nama Wallace saat kelas 5 SD, ketika guru IPA menjelaskan tentang garis Wallace. Garis Wallace adalah garis imajiner yang membagi flora dan fauna Indonesia berdasarkan kesamaan karakteristik  dan letak geografis.

Wallace bertugas sebagai naturalis yang ditugaskan oleh pemerintah Inggris untuk mengadakan penelitian di wilayah Asia Tenggara, khususnya di kepulauan Nusantara (karena saat itu negara Indonesia belum terbentuk, wilayah kepulauan Indonesia disebut dengan kepulauan Nusantara atau Malaka), sebagian wilayah Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan pengalaman perjalanannya tersebut, Wallace kemudian menuliskan sebuah buku berjudul The Malay Archipelago (1869). Dengan salah satu  edisi terjemahan Indonesianya yang berjudul “Sejarah Nusantara” (penerbit Indoliterasi).

Jika Wallace tidak menuliskan pengalamannya dalam buku The Malay Archipelago (1869), mungkin saya tidak akan membaca buku ini 150 tahun kemudian, buku yang memuat kisah tentang perjalanan wallace di Indonesia, cerita tentang kondisi flora dan fauna yang ia jumpai, cerita tentang suku-suku di wilayah yang ia singgahi, sebuah kisah  tentang kondisi Indonesia pada abad yang lalu. Kisah tentang manusia dan alam.

Jujur saja membaca buku The Malay Archipelago (1869), membutuhkan energi dan waktu yang cukup besar, buku ini hampir setebal kamus, merupakan buku yang saya pinjam dari perpustakaan dan memiliki batas waktu untuk membacanya,  saya kemudian membaca buku ini di akhir pekan selama dua hari. Karena membaca edisi terjemahan, saya kemudian penasaran dengan edisi aslinya yang ditulis dalam bahasa Inggris. Melalui website http://wallace-online.org saya membaca buku ini lagi.

Karena label judul terjemahan memuat kata sejarah.  Awalnya saya menduga, bahwa isi buku ini akan membosankan,  setelah membaca bukunya dugaan saya ternyata salah. Meski lembaran halaman bukunya banyak, Wallace menceritakan kisahnya dengan sangat mengalir, seolah saya membaca buku harian Wallace, semua dijelaskan oleh Wallace dengan cara sederhana. Buku ini dituliskan berdasarkan pengalaman Wallace secara langsung, ketika dibaca kisahnya begitu personal dan penuh kejujuran.

Salah satu kesuksesan Wallace dalam menjelajahi kepulauan nusantara karena adanya peran dari para asisten Wallace yang merupakan penduduk lokal, dalam perjalanannya. Saya memikirkan betapa kuatnya fisik mereka, penjelajahan menyusuri hutan rimba, mendaki pegunungan, menyusuri sungai, perjalanan pelayaran antar pulau, pada tahun 1854 sampai tahun 1862 dimana belantara Asia tenggara masih sangat liar.

Dari bab awal sampai seterusnya, buku ini memuat banyak informasi tentang  kondisi alam, jenis flora dan fauna hingga karakteristik suku yang mendiami kawasan yang ia datangi. Bab terakhir dalam buku The Malay Archipelago membuat saya terkejut, saya tidak menduga bahwa Wallace akan menuliskan hal itu. Sebuah pemikiran yang seolah menjadi sebuah muara dari perjalanan panjangnya menjelajahi kepulauan di Nusantara, yang kemudian mengantarkannya pada studi tentang manusia dan alam.

Catatan 

Seseorang yang menyakini bahwa kondisi sosial kita sudah mendekati kesempurnaan akan berpikir lagi bahwa perkataan itu terlalu kasar dan berlebihan, tetapi bagiku perkataan tersebut mungkin saja bisa menjadi kebenaran. Kita adalah negara terkaya di dunia, namun mendekati satu-duapuluh populasi penduduknya adalah para orang kaya dan satu-tiga puluh populasinya lagi dikenal sebagai  para kriminal. Sekedar tambahan, belum lagi kriminal yang dalam pelarian, umumnya hidup miskin, atau sebagian hidup dari bantuan biaya derma  (menurut Dr. Hawkesley, biayanya bisa menghabiskan sekitar tujuh juta sterling pertahun khusus daerah London), dan kita meyakini bahwa biayanya bisa lebih dari itu. 

Satu – sepuluh dari populasi warga kami sebenarnya adalah orang-orang kaya dan para kriminal. Kedua kelas ini selalu menjadi pemalas, atau tenaga kerja kurang produktif, dan tiap kriminal menghabiskan biaya tahunan di penjara sejujurnya lebih banyak dari upah buruh pertanian. Kita membiarkan ratusan ribu orang  mengetahui dirinya tidak memiliki arti dalam penghidupannya tapi malah melakukan kejahatan, mengingat betapa besarnya jumlah mereka dalam komunitas.  Ribuan anak-anak tumbuh besar sebelum mata kita mengabaikannya  dan menjadi kebiasaan  buruk karena secara tidak langsung kita telah memasok penjahat terlatih ke generasi selanjutnya. Di dalam negara yang membanggakan perkembangan yang cepat di dalam kekayaan, perdagangannya yang besar, dan manufaktur hebat, dengan keterampilan mekanik, pengetahuan sains dan peradaban tingginya.

Dalam kehidupan sosial ada sebuah istilah tidak beradab ( barbar). Kita mengaku cinta keadilan. dan hukum melindungi orang kaya dan orang miskin.  namun kita membayar uang denda dalam  sebuah hukuman, dan membuatnya langkah pertama untuk mendapatkan harga keadilan yang  mahal. kasus seorang tidak beradab dalam keadilan, adalah penyangkalan keadilan bagi orang miskin. Sekali lagi hukum membuat hal itu menjadi mungkin. ………………………………

(terjemahan bebas, The Malay archipelago, halaman 457 – 458 )

Pada bab terakhir Wallace mulai membicarakan tentang manusia, sejenis kritik yang dituliskan Wallace pada pemerintah Inggris, atau negara Eropa tempat ia berasal. Orang barat mengatakan bahwa manusia dari suku-suku terpencil, daerah-daerah yang jauh dari peradaban adalah orang yang barbar atau kurang beradab. Disinilah kemudian Wallace mempertanyakan tentang kata “barbar” atau arti dari “orang beradab”

Perjalanannya di menjelajahi kepulauan nusantara, dan pertemuannya dengan para suku-suku asing,  telah mengubah sudut pandangnya atas “label kaum tidak beradab” yang disematkan sebagai julukan para suku-suku itu.

Such cases have happened through the operation of the law of inheritance of landed property, and that such unnatural injustice of possible among us. shows that we are in a state of social barbarism. One more example to justify my use of the term, and i  have done. we permit absolute possession of the soil of our country, with no legal rights of existence on the soil to the vast majority who do not posses it. a great land holder may legally convert his whole property into a forest or a hunting ground, and expel every human being who has hitherto lived upon it. In a thickly-populated country like England. where every acre has its owner and its occupier, this is a power of legally destroying his fellow creatures; and that such a powe should exist, and be exercised by individuals, in however small degree indicates that, as regards true social science, we are still in state of barbarism. (Alfred Russel Wallace, The Malay archipelago)

 

#cerita3

 

Dinginnya Lukisan Cahaya di Danau Tanralili dan Lembah Loe

Pada akhir tahun 2017, ide ke Danau Tanralili dan Lembah Loe tercetus saat salah seorang teman dari Surabaya pulang ke Makassar untuk liburan. Dia adalah salah satu teman dari eskul photo saat kuliah dulu.

Bertujuan untuk refreshing dan reuni, teman-teman yang lain yang juga berasal dari eskul photo di angkatan yang sama setuju dan bersiap untuk berangkat.

Danau Tanralili

Danau Tanralili terletak di Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Waktu tempuh dari Makassar lewat jalur poros Malino hingga ke Kec. Parigi sekitar 3 jam, untuk ke daerah ini silakan gunakan kendaraan pribadi, karena kendaraan umum belum tersedia, kendaraan yang biasanya digunakan ke sana yaitu motor, meski sudah beraspal, jalanan ke basecamp lumayan sempit jadi lebih aman dan efisien menggunakan motor.

Untuk pergi ke Danau Tanralili, lapor dulu ke pos petugas yang ada di Desa Lengkese, biasanya bayar biaya registrasi (untuk biaya parkir dan keamanan, jika ada yang tersesat bisa langsung diketahui)

Di sini mulai perjalanannya dari Desa Lengkese, hiking dimulai dengan berjalan kaki selama 2 jam (tergantung kemampuan betis)

Jalur yang dilalui adalah pada awalnya datar-datar saja, sekitar 20-30 menit langsung disambut dengan pendakian dan jalan terjal berbatu, nanti dapat turunan, terus terjal lagi miring lagi, turunan lagi, begitu seterusnya sampai bosan.

Kadang jalanannya lebar, kadang sempit, kadang berbatu banget, kadang terjal kebangetan, oh iya nanti ada juga jalur yang jalanannya sempit dan berada di pinggir tebing curam, hati-hati saat berada di sana, soalnya angin lumayan kencang, dan batuan yang dipijak agak lunak.

Baiknya ke sana pada musim kemarau, agar saat hiking terhindar dari jalur dimana kaki harus berpijak pada batu licin, dan air hujan yang mungkin saja mengguyur di tengah jalan.

Bagusnya di jalur nanti akan dilalui sumber air, jadi siapkan botol air dan Nutrisari, nanti kalau nemu air dingin tinggal diracik saja dengan air yang ada di jalur. Saya paling suka duduk-duduk di pinggir tebing sambil minum air dingin, saat itu kulit wajah jadi sejuk karena disapuh dinginnya angin pegunungan.

Screenshot_20190325_225710

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Danau Tanralili, sayangnya Danau Tanralili hanya menjadi tempat persinggahan, karena tujuan utama dari team kami adalah Lembah Loe, dan berangkat ke Lembah Loe itu harus mendaki lebih tinggi lagi, dan itu berarti harus berjalan lagi ke atas.

Danau Tanralili sering dibandingkan dengan Ranu Kumbolo (mungkin karena sama-sama danau), Danau Tanralili merupakan bagian dari area Gunung Bawakaraeng.

Setelah beristirahat sejenak sambil melihat danau, perjalanan pun semakin panjang, namun harus tetap semangat sebab di atas sana ada Lembah Loe yang menanti kami.

Untuk di Danau Tanralili sendiri, tetap waspada dan hati-hati meskipun sangat indah dan rasanya ingin langsung nyebur ke dalam air kolam, sebelumnya di papan pintu masuk jalur ke Danau Tanralili sudah dipasang larangan untuk tidak berenang, (sepertinya masih ada trauma dari penduduk setempat, soalnya di danau itu pernah ada korban jiwa, ada seorang pengunjung yang mati tenggelam)

Lembah Loe

Sampai di Lembah Loe, Sudah ada kawanan sapi yang menyambut para pendaki, dan ada juga tenda dari pendaki lain.

Perlu diketahui bahwa faktanya penduduk sekitar gunung beternak sapi, dan sapi itu mereka rawat di atas gunung, agar sapinya itu makan-makanan fresh dan rumput hijau bergizi.

Akibatnya lahan yang hijau berupa lapangan yang luas di lembah Loe sebagian besar dipenuhi oleh Tesa ( Tai sapi). Jadi si sapi makan sambil defekasi feses ria di sana)

Mengabaikan kehadiran Tesa, saya lalu duduk-duduk di pinggir sungai sambil melihat tebing-tebing batu yang mengelilingi lembah, teman-teman datang bergelombang. Kami lalu mendirikan tenda di pinggir sungai, hawa di sana sangat sejuk dan dingin.

Setelah anggota lengkap, kami mendirikan tenda di pinggir sungai kecil yang letaknya memang strategis. Kami berada di sana selama dua hari, setelah itu kemudian kami pulang kembali ke Kota Makassar.

Dinginnya Lukisan Cahaya Lembah Loe

Dibandingkan dengan Danau Tanralili Lembah Loe hawanya lebih dingin, dan anginnya lebih sejuk, saat berada di sini setelah shalat dan bangun pagi-pagi rasanya sangat segar. Wudhunya pake air sungai kecil yang dinginnya kayak ditambain es batu, pas sapuin di wajahnya rasanya beku tapi segar.

Di sekitar lembah sempat jalan-jalan sebentar lihat pemandangan, di sekitar lembah ada pohon-pohon, dan saat itu seperti mendengar suara cuitan burung, dan benar saja seekor burung kecil gendut berwarna biru dan cantik bertengger di ranting pohon sambil bercuit-cuit. Matanya bulat lucu gemes banget.

Saat berada di sana, suasananya benar-benar berbeda dengan yang ada di Kota, sejenak melupakan kebisingan bunyi kendaraan, kemacetan, musik bervolume keras, suara TV, dan cahaya lampu listrik.

Dan kemudian di saat hening seperti itu, saat sebagian teman-teman tertawa dan ngobrol ngalor ngidul sepanjang hari, sebuah ingatan pun kembali.

Di masa kuliah, saat berniat untuk belajar photography lalu dipertemukan dengan orang-orang ini, mendaftar di gelombang angkatan yang sama saat eskul photo membuka penerimaan anggota baru.

Memang dulu sempat niat banget buat belajar photography, sebagai anak-anak yang suka gambar, waktu SD sering liat photo-photo keren di buku atlas dunia. Atlasnya hardcover, foto-fotonya full colour, kertasnya jenis Art Paper, licin tebal dan kualitas gambar ok. Selain peta Indonesia dan dunia, di atlas itu ada foto bentang alam, foto human, foto kebudayaan dari negara-negara di seluruh belahan dunia. Dalam hati langsung berpikir, “Ternyata dunia itu begitu indah, begitu luas dan kehidupan manusianya sangat beragam”

Nah, dari situ berlanjut sering liat-liat foto di majalah dan memperhatikan hasil fotonya yang keren banget, ditambah suka baca tulisan yang dilengkapi dengan photo ilustrasi. Foto yang diambil benar-benar hidup, seolah foto yang bercerita, terus ditambahkan narasi, dan akhirnya efek tulisannya jadi bertambah lebih hidup.

Tapi momen belajar photography untuk saya kala itu sepertinya kurang tepat, motivasi yang kurang, tumpukan tugas dan kewajiban kuliah, keaktifan di organisasi kampus yang diwajibkan (soalnya jumlah satu angkatan di jurusan saya orangnya cuman dikit, jadi merasa punya tanggungjawab besar), dan ditambah lagi saya ikut beberapa kegiatan lain juga.

Belajar photography akhirnya jadi tersisihkan secara alami, mulai dari enggak pernah ngumpul lagi dengan teman-teman, jarang praktek, jarak belajar teknik photo. Hingga waktu berlalu, teman-teman yang sama-sama daftar eskul photography kala itu sudah pada jago, sudah lincah banget jepret pake manual, ada yang juara lomba foto, ada pula yang sudah khatam banyak teknik photography.

Jadi benar kata pepatah, Apa yang kita tanam itulah nanti yang akan kita petik, sesuatu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh tentunya akan membuahkan hasil bukan?

Dan akhirnya meski tidak aktif di eskul photo, tetapi minat pada photo masih ada, sepertinya emang efek karena dari dulu suka liat gambar, dan satu hal lagi, ada sebuah kesyukuran.

Seperti dinginnya hawa lembah, tapi terasa sejuk, minat yang sama pada lukisan cahaya telah membantu saya menemukan teman-teman angkatan yang baik dan seru di eskul photo.

IMG_20170731_153826

IMG_20170731_155227

Uji Ketahanan Lutut di Gunung Bulusaraung

Gunung Bulusaraung, terletak di Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan, sekitar satu sampai dua jam perjalanan dari kota Makassar, ketinggian gunung ini sekitar 1353 meter di atas permukaan laut.

1353 mdpl? berarti enggak tinggi-tinggi amat ya?

Memang tapi…

Meskipun jarak tempuhnya pendek, gunung ini memiliki elevasi kemiringan jalur yang membuat kaki dan betis bekerja keras, utamanya sendi yang ada di lutut.

Bagi yang sudah sering mendaki, mungkin tidak masalah, tapi yang udah jarang, sebaiknya rajin-rajin jogging dulu beberapa hari sebelum ke sana, soalnya antisipasi agar enggak ngos-ngosan parah, dan ritme napas tetap aman terkendali.

Ya begitulah karena banyak tanjakan yang harus dilalui.

Saran saya, jangan membawa banyak barang, bawalah peralatan yang ringan-ringan saja namun bermanfaat.

Bagi yang belum pernah mendaki atau untuk pendaki pemula, bisa jalan-jalan ke tempat ini namun disarankan tetap ditemani oleh kawan-kawannya yang sudah biasa hiking. Kawan tersebut berupa teman yang ketahanan fisiknya kuat (tapi sempat prihatin juga karena teman kayak gini selalu menjadi objek penderita, dan seringkali orang seperti ini sepaket dengan sifat sabar, karena selain berperan sebagai leader tim perjalanan, dirinya juga akan merangkap sebagai porter dimana di pembagian team biasanya isi carriernya itu tenda dan benda berat lainnya hehe… )

Sebelum ke area pendakian, jalur yang ditempuh adalah Desa Tompo Bulu, Balocci, jalan di daerah ini “benar-benar jalur khas daerah gunung”

Untuk yang membawa motor usahakan, memakai motor yang baik, agar tidak bermasalah di tengah jalan, apalagi jika membawa carrier yang berat, jika motor bermasalah plus carrier yang berat maka perjalanan jadi terganggu.

Untuk yang menggunakan mobil, pastikan bahwa sudah terbiasa menyetir di jalan pegunungan. Jangan sampai tergelincir dan masuk jurang. Sebelum berangkat berdoa dulu, biar selamat, sehat dan bahagia.

Area pendakian Bulusaraung sendiri berada di Kawasan Konservasi Taman Nasional Bulusaraung, dekat dengan Makassar, sebagian wilayahnya itu mencakup daerah Maros dan juga Pangkajenne Kepulauan, Sulawesi Selatan.

Di luar area Taman Nasional itu juga terhampar bukit karst alias bukit kapur, di daerah tersebut dijadikan pertambangan batu gamping untuk produksi marmer dan semen. Kalau mau kepoin lebih tentang Taman Nasional Bulusaraung, bisa cari tahu di Kepoin Taman Nasional Babul

Untung saja sebagian area perbukitan gamping di sana dilindungi dan dijadikan area konservasi alias Taman Nasional.

Apa saja yang dilindungi di sana?

Habitat monyet, habitat kupu-kupu cantik, karst, tumbuhan dan masih banyak lainnya.

Jadi jika ke sana, pastikan tetap menjaga alam.

Saya ingat pertama ke sana saat saat saya SMP. Menuju ke Tompo Bulu naik truk, (saat itu ikut pelatihan pramuka).

Hari itu saya duduk di truk bersama anak-anak lain, saya merasa kami seperti segerombolan sapi dalam truk (efek baju pramuka mirip warna kulit sapi).

Tapi sayangnya dalam pelatihan tersebut area pelatihan saya hanya sampai di daerah Tompo Bulu, bukannya sampai hiking ke Bulusaraung,

Dan setelah sekian lama akhirnya saya punya kesempatan mendaki ke Bulusaraung, mulai pendakian pertama ke sana, sepertinya saat itu awal perkuliahan. Lalu kemudian mengunjungi gunung itu lagi dan lagi.

Seiring waktu, banyak perubahan yang terjadi di Tompo Bulu dan Bulusaraung, dulu waktu saya masih bocah, area Tompo Bulu hawanya terasa sangat dingin, tapi sekarang rasanya tidak sedingin dulu (apakah cuman perasaan saya kisanak?), lalu sekarang tempat pendakian lebih terkoordinir, pendaki harus melapor dulu ke pos pendakian, di area basecamp di Desa Tompo Bulu (mungkin untuk tindakan pencegahan kalau ada pendaki yang tersesat, bisa diketahui segera)

Nanti di sana akan ada petugas yang minta kamu untuk registrasi, kayaknya dikenakan biaya registrasi untuk ke sana, (dulu enggak ada, sekarang udah ada). Saya enggak pernah bayar biaya registrasi (soalnya selalu dibayarkan sama teman), tapi tenang saja biaya registrasinya enggak bakalan bikin kantong kamu bolong.

Setelah melapor, titip kendaraan dulu di rumah warga, dan langsung siap-siap go ke lokasi.

Hiking dimulai di belakang rumah warga, di dekat kebunnya, terus naik ke Pos 1, saya benar-benar merasakan perubahan yang terjadi di sana, dulu jalur ke Pos satu tidak ada tangganya, tapi saat saya mendaki terakhir di sana tahun 2018 sekarang sudah ada tangga.

Di jalur ke Pos pertama tenaga sudah dikuras, karena di awal pendaki sudah disambut oleh jalan menanjak.

“Atur napas kalian saudara-saudara”

Sumpah serapah sudah keluar kalau sendal atau sepatu membuat kaki kepeleset, apalagi kalau sudah ngos-ngosan gara-gara jalan menanjak. Jadi saran saya, daripada susah di jalan tetap utamakan safety, kalau mau hiking ya, sebaiknya pakai sendal atau sepatu gunung, kecuali buat para pendaki pro yah.. mungkin lewat jalur itu santai aja meski cuman pakai sendal swallow.

Masih bicara tentang Pos 1, memang Sekarang Pendaki dimanjakan dengan kehadiran tangga menuju pos pertama. Dulu gak ada tangganya, hanya tanah. Jadi sekali lagi berbahagialah kawan-kawan.

IMG_20170731_153826

Total Pos yang ada di gunung Bulusaraung ada 10 pos pendakian, sebenarnya aneh juga mengetik “Gunung Bulusaraung” secara dalam bahasa Bugis-Makassar, “Bulu” itu berarti gunung, kan jadi dobel nulisnya, dan akhirnya dalam tulisan ini saya putuskan untuk nulis Bulusaraung saja, daripada ribet.

Lanjut perjalanan, untuk durasi perjalanam hiking ke sana sekitar 3-5 jam, 3 jam jika berhenti cuman satu kali, dan jalannya buru-buru, kayak gaya lari-larinya Naruto.

Lima jam jika banyak singgahnya dan banyak foto-fotonya.

1 BLS

“eh ada tangga nih, rejeki anak sholeh”

Setelah itu siapkan lutut anda kawan-kawan, manjat-manjat dikit, terus hiking jalan lurus, manjat lagi, jalan lurus lagi, nanjak lagi…

Di jalur nemu bunga liar yang nempel di pohon, dijepret dulu.

7 BLS

Sempat tersangkut di Pos 8, disini spot dokumentasinya bagus banget, dari kejauhan sudah bisa hamparan pemandangan alam, disini juga ada tower besi.

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Pos 9 di Pos 9 ini area para pendaki buat bangun tenda, daerahnya juga datar, tapi enggak datar-datar amat soalnya banyak akar pohon, tapi lumayan kondusiflah. Di pos ini juga ada sumber air jadi aman, tapi sayangnya jarak sumber air lumayan jauh sekitar 15 menit jalan kaki nanti dapat sumber air, tapi jalur sumber airnya berupa turunan agak terjal, tips saat berada di Pos 9 yaitu sediakan jarigen air buat ngangkat air ke dekat tenda.

6 BLS

Menuju puncak, di puncak tringulasi Bulusaraung sudah menanti, disana ada bendara merah putih kebanggan kita.

Sebelum ke puncak amankan barang-barang-barang di tenda dulu, lalu siap-siap dan Let’s go!

Lalu 15 menit kemudian tiba di puncak, di area ini skill manjat lumayan diperlukan. Elevasinya miring-miring guys.

Yang paling seru itu duduk di pinggir tebing batu di puncak, rasanya tuh kayak ditampar angin (angin di atas sana memang lumayan kencang).

Kayak disadarkan bahwa manusia itu harusnya banyak bersyukur dalam hidup.

3 BLS

Anjing Setia

Dari pos satu ada anjing yang ngikutin saya terus, kata teman saya yang akhir-akhir ini sering mendaki di sana, anjing itu selalu ada. Saya memang sering melihat anjing itu di sana tapi anjing yang setia sampai ngikutin saya ke puncak baru pertama kali ini, masalahnya adalah penampilan si anjing, dia berkulit hitam legam, mengingatkan saya pada Sirius Black di buku Harry Potter.

Tapi karena mirip Sirius Black berarti si anjing itu awalnya keliatan jahat, tapi aslinya baik banget. Maka dari ini saya hapuskan sebuah cap negative yang saya stempelkan pada si anjing, maafkan saya Jing!

Sempat foto bareng ama si Sirius black nih.

2 BLS

Saat duduk di tebing, lalu sebuah pikiran melintas begitu saja, isinya yaitu “Manusia jangan pernah peliharain sifat sombong, karena sebenarnya dia itu bukan apa-apa, misalnya nih jika ia tergelincir sedikit aja ke tebing, rusuk dan tulang kaki manusia ini tentunya bisa patah-patah. takut jika nakal-nakal dengan merusak alam nanti bisa kenah karma.”

4 BLS

Ciri khas dari Bulusaraung kamu bisa melihat hamparan bukit-bukit hijau, bukit karst dan juga breksi gunung api.

5 BLS

Begitulah pemandangan yang ada di puncak Bulusaraung, rasanya tentu beda jika hanya melihat foto dengan melihat secara langsung dengan mata manusia ciptaan Tuhan.

Pada akhirnya manusia akan selalu merindukan alam. Meskipun betapa menyenangkan hiburan di kota, kota yang terus bersolek, kota dengan jalanan padat, lampu-lampu terang, kilau lantai Mall, ataupun aroma menyengat tempat nongki kekinian, dimana begitu banyak daya tarik kota yang menyilaukan mata, setelah hiking di area Bulusaraung, kemudian saya menyadari bahwa alam selalu punya daya tariknya tersendiri.

Inside Benteng Rotterdam Makassar

Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam telah menjadi salah satu landmark dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Nama lainnya adalah Benteng Ujung Pandang berlokasi di Jalan Ujung Pandang No. 1 Makassar. Sebagaimana namanya “Benteng” di masa lalu Benteng Rotterdam (dibangun tahun 1545) merupakan peninggalan masa kerajaan Gowa-Tallo (Indonesia sebelum semua daerahnya bersatu, dulunya wilayah-wilayahnya berkonsep kerajaan). Pada era kolonial Belanda, keberadaan Benteng Rotterdam ini kemudian selain dijadikan sebagai benteng pertahanan juga difungsikan untuk menampung rempah-rempah dari wilayah Indonesia Timur. Dan setelah kemerdekaan Indonesia Benteng Rotterdam dijadikan sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya Sulawesi Selatan.

2 RT
Berdasarkan filosofinya sendiri denah benteng Rotterdam menyerupai hewan penyu, sehingga nama benteng ini disebut juga benteng Penyyua. Penyu merupakan amphibi (bisa hidup di darat dan lautan) yang melukiskan bahwa kerjaan Gowa Tallo (kerajaan jaman dulu,  dimana area Makassar menjadi salah satu bagian wilayahnya) berjaya di darat dan lautan, untuk lokasinya sendiri Benteng Penyyua memang berada dekat dengan pantai. Untuk luasnya, Benteng Rotterdam yaitu sekitar 2,5 hektare.
Dari luar Benteng Rotterdam terdiri atas dinding-dinding batu alam tinggi,  dari sini lokasinya cukup strategis, benteng Rotterdam terletak di pinggir jalan besar, dan letaknya lumayan dekat dengan Pantai Losari. Saya sarankan kalau pagi sampai siang harinya bisa jalan-jalan ke Benteng Rotterdam, nanti sore hari bisa lanjut ke Pantai Losari, lanjut bisa melihat matahari terbenam di pinggir pantai.

4 RT
Berdasarkan dinding luar benteng Rotterdam yng hanya berupa dinding batu itu, apa saja isi dalamnya? hanya lapangankah? atau ada sesuatu yang lain?

Maka itu mari kita lihat, jadi setelah masuk ke dalam, isi dalam benteng Rotterdam itu adalah :

Museum
Dari pintu masuk di depan maka akan banyak jalur untuk berjalan kaki, sebelumnya jika membawa kendaraan, kendaraannya diparkir dulu di luar benteng. Jika tidak cukup berjalan masuk ke gerbang depan menuju jalur jalan kaki. Gedung Museum La Galigo itulah namanya, berada di dalam benteng. Bastion ini berada sebelah di kiri dan kanan jadi total ada dua bangunan museum yang terpisah.

3 RT

Untuk masuk ke dalam museum, di depan pintu masuk beli tiket dulu. Di dalam museum sebelah kiri itu ada maket, ada banyak lukisan-lukisan yang menggambarkan kebudayaan Sulawesi jaman kerajaan.
Beralih ke gedung museum La Galigo di sebelah kanan, di luar ada papan informasi yang memuat tentang kebudayaan Sulawesi seperti perahu phinisi, perahu phinisi memang sudah jadi ikon Sulawesi Selatan, dimana nenek moyang dari mayoritas suku yang mendiami wilayah ini memang terkenal sebagai pelaut ulung. Selain papan infomasi di luar gedung museum sebelah kanan, ada juga replika perahu phinisi yang sedang dibangun, pengunjung bisa juga membeli aksesoris yang sediakan di luar museum La Galigo.

8 RT-

5 RT

Untuk isi dalam museum La Galigo yang di sebelah kanan ini cukup banyak koleksinya, di lantai satu dipamerkan peninggalan peradaban yang ada di Sulawesi jaman dulu, ada alat-alat pertanian tradisional,  replika perahu phinisi ukuran sedang, lukisan, dokar, dan masih banyak koleksi lainnya.

6 RT
Naik ke lantai dua masih menyimpan banyak koleksi peradaban dan budaya Sulawesi mulai dari zaman purba zaman kerajaan, hingga zaman kolonial.
Kalau di lantai dua museum yang sebelah kanan ini, ini adalah bagian museum yang selalu bikin diriku merinding, gak tahu kenapa sejak SD setiap kali ke museum ini tepatnya di lantai dua pasti merinding, bahkan setelah dewasa naik ke lantai dua museum ini rasanya memang selalu merasakan hawa-hawa aneh dan misterius.

7 RT

Peninggalan Ruang Tahanan Pangeran Dipenogoro
Setelah museum di dalam benteng Rotterdam ada pula ruang tahanan Pangeran Dipenogoro (pejuang pada era penjajahan Belanda), setelah era perang Dipenogoro (1825-1830) Pangeran Dipenogoro ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Benteng Rotterdam. Ruangan penjara Pangeran Dipenogoro itu berada di sebelah dalam, jadi dari pintu gerbang berjalan lurus saja mengikuti jalan yang telah sediakan kemudian belok ke sebelah kanan di sana akan dijumpai papan nama bertuliskan “Ruang Tahanan P. Dipenogoro.”
Ruangan itu sendiri tertutup, biasanya pengunjung bisa menengok lewat jendela lengkung kecil dengan beberapa teralis.
Untuk melihat ke dalam ruang tahanannya sendiri pasti langsung tercipta hawa sedih, bisa dibayangkan gimana perasaan Pangeran Dipenogoro saat di tahan di sana, jauh dari keluarga, diasingkan ditempatkan asing oleh orang asing pula, ditempatkan dalam ruangan berdinding beton dengan pencahayaannya  yang redup.

11 RT

Dinding Benteng
Dinding benteng terbuat dari batu padas, dengan tinggi sekitar 3 meter, mengelilingi gedung-gedung tua yang ada di dalamnya. Batu itu diambil dari dari  bukit karst yang ada di daerah Maros. Kini bangunannya masih kokoh, batunya berwarna abu-abu gelap, dan berdasarkan umur bentengnya yang sudah empat ratus tahun lebih, bangunan ini sungguh berusaha bertahan agar tak dikikis oleh waktu. Dimana sekarang sang benteng tua masih berada di Kota Makassar yang kini menjelma menjadi pusat kota yang ramai, dengan kepungan gedung-gedung tinggi menjulang di sekelilingnya.

12 RT

10 RT

Taman

Taman berada diantara gedung-gedung tua membuat suasana terlihat lumayan teduh, itu kalau pagi sih, tapi menjelang siang (udara panas kota Makassar akan membuat gerah) dan gerah itu akan sangat terasa seiring semakin meningginya matahari. Saya sarankan kalau mau jalan-jalan ke sini jangan lupa bawa air minum, kalau bawa botol air yang bisa simpan air dingin juga boleh. Kalau saya biasanya rajin ke tamannya duduk-duduk buat baca buku, tanpa tikar langsung aja duduk di rumputnya sambil nyandar di pohon palem.

9 RT

1 RT

Demikianlah beberapa isi dalam dari Benteng Rotterdam.  Dari beberapa sudut-sudut yang ada di dalam Benteng Rotterdam kamu paling suka berada di bagian mana?