Mengikis Abai dan Pembiaran

Apa yang kamu lakukan jika melihat seseorang membuang sampah sembarangan?

Apakah membiarkannya? atau menegurnya. Beberapa orang mungkin akan menjawab dengan jawaban yang berbeda.

Ada yang menjawab membiarkannya, karena hal yang kerap dianggap sepeleh ini menjadi suatu kebiasaan yang terus mengakar dalam masyarakat. Terus mengamini bahwa orang Indonesia memang kebiasaannya buang sampah sembarangan.

Ada juga yang menjawab, akan menegur orang itu (atau hanya sebatas lisan saja, tak benar-benar dilakukan).

Untuk diriku sendiri, jujur awalnya saya membiarkannya. Memilih diam karena dalam hati toh, orang itu sebenarnya merugikan dirinya sendiri, (seperti jawaban pertama) meski sebenarnya itu tentu saja juga merugikan orang lain.

Hal Itu bertahan cukup lama, lalu seiring betambahnya usia akhirnya timbul perasaan aneh terlintas dalam benak karena adanya rasa bersalah dan kesal sendiri, karena melakukan pembiaran.

Sampai akhirnya mencapai titik kesadaran bahwa sudah saatnya untuk mengakhiri pembiaran, menghentikan sesuatu yang tidak benar di depan mata, mengakhiri hal-hal yang bisa merugikan orang lain atau diri sendiri. memilih untuk menegur.

Ya, yang terjadi kemudian saya memilih untuk memberikan teguran, ketika berada di tempat umum, ketika bersama keluarga,  teman atau saat berada di jalananan umum atau saat berada area fasilitas publik, ketika tidak sengaja melihat orang membuang sampah sembarangan.

Bukan hal mudah untuk menegur seseorang, karena respon pihak yang menerima teguran tentu memberikan reaksi yang berbeda-beda.

Ada orang yang marah (meski saya telah memberikan teguran dengan bahasa yang halus, dengan tingkat kesopanan  tinggi agar tidak menyinggung perasaan), ada yang merasah malu, ada yang mengindar atau pura-pura tidak mendengar, ada yang mencibir, dan demikianlah beragamnya setiap respon berbeda yang saya terima, seperti beragamnya rupa dan pikiran manusia.

Tentu pernah ada juga rasa gentar, dan bisikan untuk membiarkan perbuatan membuang sampah begitu saja. Ya hal terberat adalah menegur bukan hanya kepada orang lain. Tapi juga sebagai bentuk teguran kepada diri sendiri.

Ini bukan hanya berlaku pada kebiasaan membuang sampah sembarangan, tapi berlaku juga pada semua kebiaasaan buruk yang mungkin saja terjadi di depan mata kita. Tindakan nepotisme halus, menyerobot antrean, bully, ujaran kebencian/ komentar buruk di media sosial dan banyak hal lainnya.

Seseorang yang menegur, kadang dianggap bersaudara dengan tindakan orang yang terlalu banyak ikut campur, dan hal ini dianggap tidak baik, merepotkan, dan kadang mendatangkan masalah.

Ada suatu kisah dalam suatu Film, dua remaja laki-laki yang bersahabat. Menjelang sekolah menengah, suatu saat persahatan kedua anak ini menjadi renggang. Salah satu dari mereka mendapat perlakuan buruk di sekolah, anak yang satunya dibully sedangkan temannya yang satu tetap menjalani kehidupannya dengan damai. Saat melihat temannya ditindas si anak yang hidup damai itu membiarkn temannya, dan pura-pura tidak mengenalnya, ia khawatir jika ia ketahuan bersahabat dengan si anak yang ditindas, ia juga akan mendapat nasib yang sama. Istilahnya “Cari aman.”

Ya ikut campur maupun pembiaran bukan hal yang mudah untuk dilakukan, setiap tindakn yang dilakukan akan menghasilkan reaksi setelahnya.

Saya pernah ikut sebuah kegiatan, dan pemateri dalam kegiatan tersebut bercerita apakah respon yang kita lakukan jika kita melintas dan melihat segerombolan anak SMA merokok, (dimana seharusnya pelajar itu tidak merokok) duduk di motor dengan kawan-kawannya tampak mengobrol dengan serunya, dan ternyata salah satu remaja itu adalah anak tetanggamu. Sebagai orang dewasa yang melintas di depan anak-anak remaja itu, dan melihat seseorang yang kamu kenal, apakah pilihan yang akan kamu ambil?
Membiarkan kelakuan anak-anak remaja itu dan berlalu begitu saja? mengabaikannya atau menegurnya?

Berani menegur orang lain, berarti berlaku untuk diri sendiri. Seperti jarum kompas yang menunjuk ke arah Utara, jarum kompas itu juga akan menunjuk ke arah sebaliknya, menunjuk ke Selatan, seperti bentuk telunjuk yang mengarah pada orang lain arah sebaliknya juga akan berbalik kepadamu, berbalik pada batang hidungmu sendiri.

Akhir-akhir ini saya mulai memikirkan hal-hal ini, melakukan pembiaran atau menegur ketika melihat sesuatu yang mengusik hati nurani saya.

Advertisement

12 thoughts on “Mengikis Abai dan Pembiaran”

  1. Saya juga paling gemes banget klu liat orang buang sampah sembarangan, berasa pengen tegur tapi nggak enak. Ya memang bagusnya ditegur tapi tetap harus dengan cara yang baik dan gak membuat orang tersinggung atau paling tidak kita yang pertama kasih contoh gitu.

    Like

  2. Dilema yah kak, antara melakukan pembiaran atau menegur. Saya pribadi gemes juga kalau liat org buang sampah sembarangan apalagi klu buang sampah di mobil uh rasanya mau kujambak hahaha tp jujur kalau mw negur langsung harus punya mental besar

    Like

    1. bisa saya bayangkan klo kita jambak betulanki rambutnya kak, hahaha.. bahaya itu
      memang kak, kadang klo mauki menegur kayak dilema ki jg hehe.. .

      Like

  3. Saya pernah menulis terkait hal ini juga di salah satu media sosial ormawa kampusku hihi. Saya mengatakan prilaku ini seperti efek domino, harus ada yang memulainya atau sebgai trigger. Entah itu berjalan kearah yang baik atau buruk.

    Like

  4. Memang susah menegur itu. Saya kadang menegur, kadang membiarkan dengan hati gemas. Belum pi kuat diriku untuk SELALU MENEGUR karena terlalu banyak hal yang tak sesuai di depan mata. Tetapi kalau memungkinkan, saya tegur.

    Pernah saya menegur teman yang membiarkan nota hotel terbuang begitu saja di jalan padahal di CFD itu kami punya misi untuk mengajak masyarakat tidak buang sampah sembarangan. Menyebalkan tindakannya. Padahal dia sekelas bos mi. Saya bilang ke dia, “Ambil sampahmu, kantongi dan buang di rumahmu!”

    Like

    1. sama kak, kadg sy jg sering gemes hehe.. klo dipikir2 tdk buang smpah smbrgn meskipun sepeleh byk jg org dewasa yg sering merasa berat u/ melakukanx

      Like

  5. Duh saya mi itu orang yang paling abai dalam hal menegur kak, apa lagi untuk orang-orang yang tidak saya kenal. Anehnya kalau dalam kasus membuang sampah sembarangan saya sering menegur orang, sayangnya (saya akui) nadaku terlalu jutek dan didukung pula muka yang judes jadi kesannya malah mempermalukan dan menganggap rendah orang lain. Kalau contoh kasus yang anak SMA itu, saya pilih berlalu saja tanpa menegur 😅

    Like

    1. hehe… sy pernah menegur secara halus, tp malah dibaleki ama org yg saya tegur, dijuteki hehe. . jadi klo cerita versi sy, sy yg kenah bagian jutekx kak hehe..

      Like

  6. iya, bukan hal yang mudah menegur orang – orang, bukannya berterimakasih, yang ada malah mereka lebih galak dari kita 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s