The Malay of Archipelago : Catatan Perjalanan Wallace

Malay_Archipelago_title_page

Saya pertama kali mendengar nama Wallace saat kelas 5 SD, ketika guru IPA menjelaskan tentang garis Wallace. Garis Wallace adalah garis imajiner yang membagi flora dan fauna Indonesia berdasarkan kesamaan karakteristik  dan letak geografis.

Wallace bertugas sebagai naturalis yang ditugaskan oleh pemerintah Inggris untuk mengadakan penelitian di wilayah Asia Tenggara, khususnya di kepulauan Nusantara (karena saat itu negara Indonesia belum terbentuk, wilayah kepulauan Indonesia disebut dengan kepulauan Nusantara atau Malaka), sebagian wilayah Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan pengalaman perjalanannya tersebut, Wallace kemudian menuliskan sebuah buku berjudul The Malay Archipelago (1869). Dengan salah satu  edisi terjemahan Indonesianya yang berjudul “Sejarah Nusantara” (penerbit Indoliterasi).

Jika Wallace tidak menuliskan pengalamannya dalam buku The Malay Archipelago (1869), mungkin saya tidak akan membaca buku ini 150 tahun kemudian, buku yang memuat kisah tentang perjalanan wallace di Indonesia, cerita tentang kondisi flora dan fauna yang ia jumpai, cerita tentang suku-suku di wilayah yang ia singgahi, sebuah kisah  tentang kondisi Indonesia pada abad yang lalu. Kisah tentang manusia dan alam.

Jujur saja membaca buku The Malay Archipelago (1869), membutuhkan energi dan waktu yang cukup besar, buku ini hampir setebal kamus, merupakan buku yang saya pinjam dari perpustakaan dan memiliki batas waktu untuk membacanya,  saya kemudian membaca buku ini di akhir pekan selama dua hari. Karena membaca edisi terjemahan, saya kemudian penasaran dengan edisi aslinya yang ditulis dalam bahasa Inggris. Melalui website http://wallace-online.org saya membaca buku ini lagi.

Karena label judul terjemahan memuat kata sejarah.  Awalnya saya menduga, bahwa isi buku ini akan membosankan,  setelah membaca bukunya dugaan saya ternyata salah. Meski lembaran halaman bukunya banyak, Wallace menceritakan kisahnya dengan sangat mengalir, seolah saya membaca buku harian Wallace, semua dijelaskan oleh Wallace dengan cara sederhana. Buku ini dituliskan berdasarkan pengalaman Wallace secara langsung, ketika dibaca kisahnya begitu personal dan penuh kejujuran.

Salah satu kesuksesan Wallace dalam menjelajahi kepulauan nusantara karena adanya peran dari para asisten Wallace yang merupakan penduduk lokal, dalam perjalanannya. Saya memikirkan betapa kuatnya fisik mereka, penjelajahan menyusuri hutan rimba, mendaki pegunungan, menyusuri sungai, perjalanan pelayaran antar pulau, pada tahun 1854 sampai tahun 1862 dimana belantara Asia tenggara masih sangat liar.

Dari bab awal sampai seterusnya, buku ini memuat banyak informasi tentang  kondisi alam, jenis flora dan fauna hingga karakteristik suku yang mendiami kawasan yang ia datangi. Bab terakhir dalam buku The Malay Archipelago membuat saya terkejut, saya tidak menduga bahwa Wallace akan menuliskan hal itu. Sebuah pemikiran yang seolah menjadi sebuah muara dari perjalanan panjangnya menjelajahi kepulauan di Nusantara, yang kemudian mengantarkannya pada studi tentang manusia dan alam.

Catatan 

Seseorang yang menyakini bahwa kondisi sosial kita sudah mendekati kesempurnaan akan berpikir lagi bahwa perkataan itu terlalu kasar dan berlebihan, tetapi bagiku perkataan tersebut mungkin saja bisa menjadi kebenaran. Kita adalah negara terkaya di dunia, namun mendekati satu-duapuluh populasi penduduknya adalah para orang kaya dan satu-tiga puluh populasinya lagi dikenal sebagai  para kriminal. Sekedar tambahan, belum lagi kriminal yang dalam pelarian, umumnya hidup miskin, atau sebagian hidup dari bantuan biaya derma  (menurut Dr. Hawkesley, biayanya bisa menghabiskan sekitar tujuh juta sterling pertahun khusus daerah London), dan kita meyakini bahwa biayanya bisa lebih dari itu. 

Satu – sepuluh dari populasi warga kami sebenarnya adalah orang-orang kaya dan para kriminal. Kedua kelas ini selalu menjadi pemalas, atau tenaga kerja kurang produktif, dan tiap kriminal menghabiskan biaya tahunan di penjara sejujurnya lebih banyak dari upah buruh pertanian. Kita membiarkan ratusan ribu orang  mengetahui dirinya tidak memiliki arti dalam penghidupannya tapi malah melakukan kejahatan, mengingat betapa besarnya jumlah mereka dalam komunitas.  Ribuan anak-anak tumbuh besar sebelum mata kita mengabaikannya  dan menjadi kebiasaan  buruk karena secara tidak langsung kita telah memasok penjahat terlatih ke generasi selanjutnya. Di dalam negara yang membanggakan perkembangan yang cepat di dalam kekayaan, perdagangannya yang besar, dan manufaktur hebat, dengan keterampilan mekanik, pengetahuan sains dan peradaban tingginya.

Dalam kehidupan sosial ada sebuah istilah tidak beradab ( barbar). Kita mengaku cinta keadilan. dan hukum melindungi orang kaya dan orang miskin.  namun kita membayar uang denda dalam  sebuah hukuman, dan membuatnya langkah pertama untuk mendapatkan harga keadilan yang  mahal. kasus seorang tidak beradab dalam keadilan, adalah penyangkalan keadilan bagi orang miskin. Sekali lagi hukum membuat hal itu menjadi mungkin. ………………………………

(terjemahan bebas, The Malay archipelago, halaman 457 – 458 )

Pada bab terakhir Wallace mulai membicarakan tentang manusia, sejenis kritik yang dituliskan Wallace pada pemerintah Inggris, atau negara Eropa tempat ia berasal. Orang barat mengatakan bahwa manusia dari suku-suku terpencil, daerah-daerah yang jauh dari peradaban adalah orang yang barbar atau kurang beradab. Disinilah kemudian Wallace mempertanyakan tentang kata “barbar” atau arti dari “orang beradab”

Perjalanannya di menjelajahi kepulauan nusantara, dan pertemuannya dengan para suku-suku asing,  telah mengubah sudut pandangnya atas “label kaum tidak beradab” yang disematkan sebagai julukan para suku-suku itu.

Such cases have happened through the operation of the law of inheritance of landed property, and that such unnatural injustice of possible among us. shows that we are in a state of social barbarism. One more example to justify my use of the term, and i  have done. we permit absolute possession of the soil of our country, with no legal rights of existence on the soil to the vast majority who do not posses it. a great land holder may legally convert his whole property into a forest or a hunting ground, and expel every human being who has hitherto lived upon it. In a thickly-populated country like England. where every acre has its owner and its occupier, this is a power of legally destroying his fellow creatures; and that such a powe should exist, and be exercised by individuals, in however small degree indicates that, as regards true social science, we are still in state of barbarism. (Alfred Russel Wallace, The Malay archipelago)

 

#cerita3

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s