Ketika Abrasi dan Sedimentasi Menghampiri Pesisir Kota Makassar

Screenshot_20190414_020130

Pada Desember 2018 banjir rob kembali terjadi di Jakarta, kendaraan yang terendam air pasang, saat melintas di Jalan Muara Baru Jakarta Selatan.

Saya pertama kali mendengar istilah banjir rob saat tahun pertama di universitas, istilah itu disebutkan oleh dosen saya pada mata kuliah pendahuluan.

Saya berkuliah di Kota Makassar, sebuah kota yang menjadi pusat paling terang di seluruh pulau Sulawesi setelah daerah tambang nikel (Sorowako). Lalu saya terpikirkan oleh Kota Jakarta, Jakarta adalah kota paling terang di seluruh pulau yang ada Indonesia.

images (1)

(Penampakan Indonesia pada malam hari, sumber gambar NASA)

Dosen saya menyatakan banjir rob pernah terjadi di Jakarta, beliau lalu menjelaskan bahwa banjir itu disebabkan oleh air pasang laut yang menggenangi daratan. Sebuah pengetahuan baru bagi saya kala itu bahwa banjir tak hanya disebabkan oleh hujan deras dan tersumbatnya saluran-saluran tapi juga bisa diakibatkan oleh air laut.

Kehadiran banjir rob pada wilayah perkotaan dekat pesisir semakin diperparah dengan turunnya muka air tanah, tentunya bisa diperkirakan karena hal tersebut dampak banjir rob bisa semakin parah.

Catatan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Jakarta mengalami penurunan muka tanah 5-12 cm per tahun. Jika laju penurunan muka tanah di Jakarta terus berlangsung, Jakarta akan semakin rentan tergenang air pasang dan banjir.

Beberapa hal yang bisa menyebabkan turunnya muka air tanah di kota-kota besar yaitu, adanya faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yaitu bisa ditinjau dari kondisi daerah tersebut tersusun oleh tanah atau batuan yang memang bersifat lunak. Dari kombinasi faktor alam semakin diperparah dengan faktor manusia, seperti pengambilan air tanah yang secara berlebihan dan pembebanan berlebihan pada permukaan tanah, (banyaknya pembangunan gedung-gedung tinggi atau infrastruktur berat lainnya di daerah perkotaan)

Saat ini saya semakin menyadari bahwa manusia kadang melupakan lingkungannya, atau bahkan tak mengenal dirinya sendiri, sehingga kadang ia melakukan hal yang terasa tak pernah cukup untuknya.

Sisi lain dari dampak positif perkembangan pembangunan tentunya harus selalu berdampingan dengan lestarinya suatu lingkungan, suatu tantangan bahwa disetiap kemajuan manusia harus tetap menoleh ke alam dan lingkungan sekitarnya.

Prediksi para ahli melihat bahwa adanya kemungkinan kota Jakarta tenggelam, turunnya muka air tanah, dan karena bersebelahan dengan laut, daratannya kemudian sering tergenang.

Jakarta sebagai salah satu kota yang berada di pesisir atau tepian pantai, tentu tak asing lagi dengan bajir rob, saya kemudian teringat dengan daerah pesisir Mariso, yang bersebelahan langsung dengan selat Makassar tentu termasuk juga dalam daerah yang rentan terhadap kehadiran banjir rob.

Jika hal tersebut telah terjadi di Jakarta lalu bagaimana dengan Makassar?

Berdasarkan perubahan bentang alam Makassar sendiri yang diakibatkan oleh sifat alami alam berupa dinamika pantai telah terjadi proses sedimentasi atau ekresi (penambahan badan pantai), dan juga abrasi (pengikisan badan pantai). Selain faktor alami oleh alam itu sendiri, sifat atau aktivitas alam ini kemudian dipercepat dengan keberadaan faktor antropogenik alias aktivitas manusia berupa pembangunan atau aktivitas lain di sekitar pantai.

Screenshot_20190418_105634

(Gambar Google earth. Garis Pantai Makassar Losari dan sekitarnya tahun 2008)

Screenshot_20190418_105614

(Gambar Google earth. Garis Pantai Makassar Losari dan sekitarnya tahun 2019)

Perubahan bentang alam ini tentunya juga berpengaruh pada lingkungan sekitar misalnya yang terjadi pada pulau-pulau kecil di sekitar Selat Makassar. Ketika warga Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang pada tahun 2017 secara swadaya mengumpulkan dana dan membuat sendiri tanggul pemecah ombaknya untuk mencegah terjadinya abrasi.

Untuk wilayah Makassar sendiri, telah terjadi abrasi yang ditunjukkan oleh semakin bergesernya garis pantai di sekitar Pantai Tanjung Layar Putih Makassar, ketika tugu layar putih perlahan semakin bergeser dan mulai terendam air laut, padahal dahulu tugu tersebut dibangun pada daerah daratan.

IMG_20190418_112325

Kehadiran abrasi selalu sejalan dengan sedimentasi. Jika ada bagian yang terabrasi maka yang lain mengalami sedimentasi. Upaya untuk menghadapi sifat pantai tersebut dengan membangun bangunan breakwater, groin, jetty, dan timbunan pantai.

IMG_20190418_113125

Sepertinya memang kondisi Pantai Makassar sendiri masih belum terlalu berdampak parah, belum mengalami banjir rob yang mulai menimbulkan kekhawatiran seperti di Pesisir Kota Jakarta, setidaknya untuk saat ini, karena disisi lain bahwa Kota Makassar masih belum semaju Kota Jakarta.

Referensi

https://metro.tempo.co/read/895343/penyebab-permukaan-tanah-di-jakarta-turun-12-cm-per-tahun

https://nationalgeographic.grid.id/read/13931978/penurunan-permukaan-tanah-jakarta-utara-tenggelam-32-tahun-lagi

Ueki Mengubah Sampah Menjadi Pohon

Jika ingin memiliki kemampuan manusia super, kala itu saya ingin memilih kemampuan seperti Ueki,  kemampuannya yaitu mengubah sampah   menjadi pohon.

Screenshot_20190331_231756

Saya memiliki pengalaman di tahun 2018 ketika sampah di depan rumah sudah dua hari tidak diangkut,  masalahnya adalah penghuni rumah keluar pada pagi hari  dan tidak ada  orang di rumah hingga sore. Petugas sampah datang pada pukul 09.00 pagi,  saat semua orang sudah tidak ada di rumah,  jeniusnya lagi sampah disimpan di dalam pagar tinggi yang tergembok,  sedangkan sampah dalam kantong sampah berwarna hitam sudah demikian gemuk dan beraroma menyengat.  Saya tidak menaruh sampah di luar pagar karena mewaspadai hewan seperti anjing, kucing,  atau tikus got membongkar sampah.

Tetanggapun menyarankan agar kami menggantung kantongan sampah di pagar,  dan benar saja,  saat pulang ke rumah, kantongan sampah sudah tidak ada.  Petugas kebersihan sudah mengambil sampah itu.

Salah satu masalah di Perkotaan adalah sampah,  jalan lorong depan rumah kebanyakan sudah disemen, sukar menjumpai tanah coklat yang tersingkap. Demikianlah tanah telah membeku karena dilapisi semen.

Sampah jika tak segera dibuang menjadi masalah bukan hanya pada pemilik rumah tapi juga pada lingkungan tetangga.

Setelah membuang sampah ke truk sampah rasanya sangat lega,  halaman rumah jadi bersih dan terbebas dari aroma kantong sampah, maupun kehadirannya yang mengganggu pemandangan.

Saat bepergian ke tempat lain dan melewati area Antang, melintasi daerah dekat  area tempat pembuangan sampah,   saya jadi tersadar,  betapa tegarnya orang-orang tinggal di sana,  hidup berdampingan dengan aroma sampah,  makan dengan lahap meski ada aroma menyengat di sekitarnya. Lalu saya teringat,  mungkin salah satu sampah dari rumah saya juga telah bermuara di sana.

Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Antang,   dari kejauhan bukit sampah telah menjelma jadi gunung sampah.  Jika terjadi proses vulkanisme sampah,  maka apa yang akan gunung sampah itu keluarkan?  lava cair berupa sampah cair?  atau ledakan gas sampah? meski berada di tempat pembuangan akhir, bahkan problema sampah belum juga berakhir.

Saat kembali ke rumah saya kemudian makan Indomie rasa soto dan beberapa makanan ringan yang saya beli di Indomaret, dan mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.

Saya menatap kemasan makanan instan itu,  dan menatapnya sekali lagi,  plastik,  dan plastik dimana-mana.  Lalu membuang plastik-plastik itu ke tempat sampah.

Dan kemudian saya tersadarkan lagi bahwa persoalan sampah belum berhenti saat kita membuang sampah pada tempatnya (apalagi jika tidak membuang sampah pada tempatnya), ternyata masih ada persoalan lain yaitu pada muaranya, pada tempat perjalanan dimana sampah itu akhirnya berada.

Sampah yang terbuang  di tempat sampah bermuara pada tempat pembuangan akhir (TPA), menggunung dan seakan ingin meledakkan dirinya,  sampah yang bermuara pada lautan yang mencampurkan microplastik dan bahannya dilahap oleh penghuni laut, sampah yang terombang ambing di samudera yang tak kan kesepian karena berkumpul dengan sampah-sampah lain, sampah yang terbawa aliran sungai bermuara ke laut terbawa ombak lalu diantarkan kembali ke darat, sampah dari kota lain dihempaskan ombak ke daerah lain.

Apakah kita harus mengambil langkah ekstrem seperti yang terjadi di Jepang,  memilah,  sampah menjadi 9 jenis,  dan benar-benar tegas dalam membuang sampah dan kemudian diterapkan dalam setiap  pikiran dan rumah penduduk,  atau seperti Jerman, menukarkan sampah plastik pada mesin daur ulang lalu mendapatkan uang, dan juga memilah sampah menjadi beragam jenis.

Atau jika ingin sedikit delulu,  bisa juga memiliki kekuatan supranatural mengubah sampah menjadi pohon. Bisa leluasa memungut sampah, digenggam, lalu dilemparkan hingga tumbuh jadi sebatang pohon seperti kekuatan Ueki.

Jika satu saja orang atau hanya sekelompok kecil manusia yang memiliki kekuatan super seperti Ueki, saking banyaknya sampah yang telah diubah jadi pohon, kota ini mungkin mendadak menjelma menjadi Hutan Amazon.

Pada akhirnya sampah masih berada di sekitar kita, permasalahan sampah tumbuh seiring majunya suatu kota,  sebagai negara berkembang kita masih berusaha untuk terus berbenah.

 

 

 

 

Airplane pt 1 : Pesawat Pagi

#Catatan pesawat pagi Oktober 2018, setelah gempa dan tsunami di Kota Palu dan area Sulawesi Tengah lainnya.

Karena ada urusan penting dan mendadak, saya harus terbang ke Palu keesokan harinya. Untuk pertama kalinya saya mengambil penerbangan keberangkatan pada pagi hari.

Saya termasuk orang yang susah bangun pagi, dan mengambil penerbangan pagi berarti harus bangun lebih pagi dan bergegas ke bandara. Sebenarnya saya mengetel alarm, meskipun saya sadar bahwa saya adalah orang yang tak mempan dengan alarm, saat di kampus dulu, jika ada kegiatan di kampus lapangan, maka asisten dosen atau teman saya akan kapok untuk membangunkan saya, bagi saya semuanya jadi terasa berat karena kadang kami harus bangun pada pukul 04.00 pagi untuk bersiap melakukan aktivitas, padahal baru tidur jam 12.00 malam.

Screenshot_20190324_024022

Kembali ke penerbangan pesawat pagi yang saya ambil, jadi pada pukul 03.00 pagi, mama dan kakakku langsung menggedor pintu kamar, agar diriku segera bangun.

Setelah dibangunkan karena perjalanan ke bandara cukup menyita waktu, dan untuk menghindari halangan selama perjalanan, diriku mengefisienkan waktu. Langsung saja saya ganti baju kaos ambil ransel dan siap berangkat tanpa mandi. Hanya gosok gigi dan mencuci muka.
Ke bandara diantar oleh Om dan kakak, dimana mata masih dalam kondisi sangat mengantuk, dan rasanya seperti masih mimpi, rasanya seperti berteleportasi mendadak sudah ada di Bandara.

Kejadian yang paling menegangkan adalah saat mengantre untuk boarding pass, antrian panjang mengular, ditambah lagi banyaknya barang bawaan para penumpang, petugas bandara di counter, tampak lelah dan bekerja cukup lamban.

Seorang ibu asal Papua, yang berada di baris depan tampak kesulitan dengan barang-barangnya yang begitu banyak, wanita itu bahkan diharuskan membayar biaya untuk kelebihan bagasinya. Setelah drama panjang menunggu yang begitu lama, dan para petugas yang tampak lelah dan setengah mengantuk.

Saya harus lari-lari dulu biar tidak ketinggalan pesawat. Untung saja tiba di dalam pesawat tepat waktu. Sampai di dalam pesawat berencana untuk melanjutkan tidur, tapi terdengar di suara tangis bocah laki-laki mendadak membuyarkan konstrasiku untuk segera tidur.

Ia mengucapkan satu kata, dan mengulang kata itu berulang kali, mungkin ia menangis dengan menyebutkan kata “lari?” entahlah artikulasi anak itu belum begitu jelas.

Seorang wanita yang awalnya aku menduga itu adalah ibu anak yang terus menangis itu, ternyata wanita itu adalah kerabatnya, anak itu tak bersama ibunya, beberapa pramugari berusaha menenangkannya, lalu penumpang lain berusaha menghibur anak itu, tapi sayang, si bocah laki-laki yang aku duga umurnya sekitar 2 atau 3 tahun itu masih bertahan untuk menangis.

Setelah pramugari lelah menghiburnya, seorang bapak yang kemungkinannya adalah kerabatnya yang lain menggendong si bocah agar tenang.

Tapi memang karena pesawat cukup bergoyang, si anak semakin menangis keras, ia menoleh ke jendela tapi kembali menangis, ia takut melihat awan tinggi, akhirnya si anak terus menangis seiring deru mesin sayap pesawat yang terus menembus awan.

Dan kemudian saya teralihkan oleh awan, berbicara mengenai awan, oh iya ini adalah penerbangan pagi pertamaku, saya selalu mengambil penerbangan siang, sore, ataupun malam karena menurutku waktu keberangkatan di jam itu cukup santai.

Saat itu aku menoleh ke jendela, dan melihat warna jingga langit, cahaya itu cukup menyilaukan karena sangat dekat satu sama lain.

Pesawat semakin melaju, melewati awan-awan nimbus. Awan nimbus yang bergulung-gulung seperti kapas, kadang terlihat seperti permen kapas putih yang melayang di atas langit. Gulungan-gulungan lain semakin banyak. meninggalkan pemandangan sebelum take off berupa pemandangan di dekat jendela tentunya biasa saja. pesawat yang parkir, dan mobil angkutan yang membawa tumpukan barang untuk bagasi pesawat, lalu bus-bus yang mengangkut penumpang.

Screenshot_20190324_024135

Setelah lepas landas, seperti biasa pemandangan seperti melihat maket-maket rumah dan sawah di hamparan permukaan tanah, badan sungai dan anak cabangnya, masih banyak pohon-pohon hijau yang mengkilap dari atas. Mungkin malam kemarin pesawat kehujanan atau berembun, sisa air menetes di luar kaca jendela (saya paling suka duduk di dekat jendela).
Air yang menurut hukum gravitasi harusnya menetes ke bawah itu, karena pesawat yang miring, terliht tetesan air itu membuat ilusi aliran air yang tampak mendatar.
Setelah tetesan air itu habis karena terjangan laju pesawat. Pesawat kini bergerak stabil, menyimbangkan sayapnya di udara. Penumpang yang lain tampak sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kembali Suara tangisan bocah laki-laki itu menarik perhatianku. Tak Ada yang tahu apa yang menyebabkan anak itu menangis selain menduga kalo anak itu memang takut naik pesawat, dan semuanya terjawab saat seorang wanita yang diduga kerabat si anak lalu menceritakan bahwa ibu anak itu wafat saat gempa, dan mengatakan bahwa si bocah trauma terhadap goncangan.
Dan akhirnya selama satu jam, si bocah laki-laki menangis tanpa henti. Ternyata dibalik tangis bocah dalam pesawat itu ada kisah duka yang mendalam.

Mencoba untuk mengalihkan dari perasaan melankolis, saya kemudian mengamati awan-awan dan tampaknya cukup berhasil. Tapi satu jam berlalu, dan si bocah laki-laki masih menangis cukup keras, kasihan sekali karena suaranya terdengar mulai serak.

Setelah pesawat mendarat, buru-buru diriku menuju ke toilet untuk pipis, jadi sebelum berjalan kaki menuju ke tempat kedatangan, semakin mendekat, ke bangunan bandara, terlihat langit-langit ruangan yang runtuh dan rusak masih menyisahkan kisah akan getaran gempa, begitupun dengan toilet, pintu toilet rusak, dan sana sini tampak langit-langit yang bolong karena rusak.
dan bandara masih dalam tahap recovery.

Sambil menunggu jemputan di bandara, saya kemudian duduk dan teringat dengan awan yang kulihat saat penerbangan tadi pagi.

Awan yang kulihat melalui kaca jendela tebal di pesawat, langit dan awan nimbus yang menyapaku, semakin jauh ke depan semakin banyak gulungan awan nimbus.

Serat-serat awan sirius tampak angkuh di atas awan nimbus yang bergulung-gulung gemuk itu. Setelah itu ketinggian terbang pesawat semakin naik, di lapisan langit yang lebih tinggi, awan sirius lebih banyak.
Sempat juga melintas awan hitam yang bergerak bergerombolan, segumpal awan besar dan gelap itu bergerak cukup cepat. Jika pernah melihat film Harry potter, awan hitam yang melintas itu seperti suasana ketika para dementor datang beramai-ramai menghampiri Hogwarts.
Jadi setelah awan gelap itu berlalu, kembali melalui jendela melintas awan serat-serat halus, warna langit yang awalnya cukup jingga, kini berubah menjadi biru lautan, awan putih bermain-main di langit, kadang menggumpal kadang berserat-serat terpisah.

Screenshot_20190324_024223

Lalu di moment selanjutnya pesawat menerobos awan sirus yang berserat itu, dan jendela tampak berkabut, jarak pandangku tidak melihat apa-apa lagi di luar sana selain serat-serat awan putih.

***

Pernahkah kita tiba-tiba tampak begitu kagum akan sesuatu yang terlihat sepeleh dan biasa dalam hidup.
Hari ini aku merasakannya, hal yang biasa kita lakukan sehari-hari mendongak ke atas dan melihat langit, dan menjumpai padangan yang menangkap kehadiran awan. Namun awan yang terlihat saat menaiki pesawat terasa begitu berbeda.

Ya…. hari itu saya memang hanya melihat awan dan langit saja. Melihat betapa luar biasanya ciptaan Tuhan, melihat begitu canggihnya mereka, dan pekatnya perasaan magis pagi itu.

Gempa Hari Ini, Sanggupkah Menggetarkan Hatimu?

Saya masih ingat, saat pagi-siang kau masih bersenda gurau bersama kawan-kawan melalui percakapan grup chat di smartphone, namun menjelang petang kau dengan nada sedikit bercanda lewat pesan teks, mengabarkan bahwa di daerahmu telah dilanda gempa,
sebelumnya kami selalu berkelakar bahwa udara panas di bulan Agustus, bagi negara Indonesia, bukanlah sebuah masalah, namun kau malah berkisah sebaliknya, kau bilang hujan terus turun di sana, di daerahmu itu.

Saat kabar tentang gempa itu sampai di telingaku, saya sepenuhnya tidak terlalu terkejut, Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, ada jalur gempa di sana, akibat dari patahnya lempeng yang labil, dan terus bergerak.

Berita terus disiarkan oleh TV, media online, radio, dan internet, aku mencek berita yang terus mengabarkan gempa hari itu.

Jadi pada awalnya Nusa Tenggara Barat hari itu tampak damai, semua aktivitas biasa berlangsung seperti biasa, para pekerja mulai melakukan aktivitas pekerjaannya, anak-anak sekolah yang berangkat ke sekolah, ibu-ibu yang memasak di rumah, orang-orang yang menonton tv, semua terjadi seperti hari-hari sebelumnya, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Begitupun dengan tanah yang dipijak, seperti biasa tenang, menopang perjalanan para anak manusia, namun menjelang senja, tanah kemudian bergetar, seolah enggan lagi untuk dipijak, tanah berguncang, dan lempeng bumi bergerak, sejak 29 Juli dimulai dengan gempa-gempa kecil dan puncaknya pada 5 Agustus 2018, tercatat sebagai hari dimana orang-orang mulai berpikir menyelamatkan dirinya dari robohnya gedung dan rumah yang menaunginya, Petang itu.
BMKG mencatat kekuatan gempa besarnya 7.0 SR. Dengan gempa utama di daerah Lombok Timur, bahkan diduga bisa berpotensi mengundang tsunami.

Trauma akan tsunami sejatinya masih ada, tsunami di Aceh, Tsunami tanggal 24 Desember 2004 masih melekat dalam ingatan, dan gempa besar tahun 2009, maka ketika sebuah peringatan tentang gempa yang kini menghampiri Nusa tenggara, membuat orang-orang kian berduka.

Setelah gempa 7.0 SR, gempa belum berakhir, masih ada gempa-gempa kecil yang terjadi, oleh karena itu, orang-orang masih mengungsi sebab rumah-rumah mereka ada yang retak bahkan roboh.

Kau menjepret situasi yang kemah tempat kau berada, ditempat pengungsianmu yang dipenuhi dengan para orang tua, mereka butuh selimut katamu, udara di sini dingin, aku akan mengemangati mereka, kau bertutur tentang semua itu, seolah kau ingin berkata bahwa aku masih muda, dan para orangtua lebih membutuhkan penghiburan, padahal kau sendiri adalah pengungsi yang dilanda bencana yang sama.

Saya tak bisa berkata banyak, kota tempatku tinggal tanahnya relatif aman, tak ada jalur sesar skala besar yang melewatinya, tapi mengenai penderitaanmu di kemah pengungsian, saya pernah merasakan perasaan yang sama.

Saat itu saya berkemah di Bandung, kemahku terserang jatuhan material longsor tanah, meski bukan longsor yang besar, namun material tanah masuk ke dalam tenda, air hujan mendorong tanah masuk ke dalam tenda, dan membuat tanah menjadi becek, mendadak semua anak-anak yang berada di perkemahan itu tak bisa tidur, karena tanah becek yang melanda kemah kami malam itu, ide panitia perkemahan yang menyediakan kavling tenda-tenda di daerah bukit dengan tanah lunak itu sepertinya kurang baik.
Kala itu saya masih anak-anak, dan saya masih mengingatnya hingga sekarang.
Ya begitulah kisahku tentang perihal perasaan yang sama, yang kumaksud tadi.
Berada di kemah pengungsian, saya tahu perasaan dan kondisi itu tidaklah nyaman, kau pasti merindukan selimutmu di rumah, tempat tidurmu yang hangat, dan rumahmu yang nyaman.

Ku berdoa semoga Tuhan melindungimu, bersama orang-orang yang ada disana. berjanjilah untuk menghindari gedung, atau bangunan lainnya, saya khawatir kau tertimpah reruntuhan, kau jangan lari ke pantai, seperti seruan dalam puisi Cinta, sebab ombak tinggi mungkin saja akan bergulung datang menerjangmu.

Kau masih muda, dan penuh semangat, saya tahu gempa bumi tak akan bisa mengguncangkan semangat hidupmu ,
sebab pesan singkat yang ku terima darimu masih bernada ceria, kadang bersuara tenang, dan tabah….

Catatan : Sebuah tulisan untuk saudara-saudara kita korban gempa yang ada di Lombok.

KETIKA GELAP

Menjelang senja kegelapan di rumahku benar-benar nyata, kali ini komplek kami mendapatkan jatah pemadaman litrik bergilir. Sudah mati lampu sejak sore hari dan hal itu berlangsung hingga malam.

Tak ada sinar purnama di langit, saat itu gelap total.

Semua penghuni rumah mulai mengeluh hari ini banyak tugas yang harus diselesaikan, tugas pekerjaan kantor, tugas sekolah, tugas kuliah, atau hal-hal lainnya.

Kekecewaan ibu-ibu tak bisa menonton sinetron favoritnya atau kekecewaan para lelaki yang tak bisa menonton siaran pertandingan olaraga yang sedang berlangsung. Tak ada sinyal, tak ada jaringan internet, tak ada yang bisa dilakukan. Listrik padam.

Terdengar suara ibu-ibu tetangga menghibur dirinya, berceloteh dan berkumpul di teras rumah. Bocah-bocah tak mau kalah, mereka berlarian keluar dari rumah mereka, bermain kejar-kejaran tertawa riang.

Mendadak senyap. Hidup tanpa listrik, tanpa cahaya, gerak seolah berhenti dan waktu ikut membeku.

Lilin yang menyala sejak senja perlahan meleleh, memakan diri sendiri, begitupun dengan nyala senter dan lampu charger yang kian redup. Ataupun smartphone yang daya baterainya mulai melemah.

Sedang yang lain duduk menunggu periode gelap itu berlalu. Menunggu hingga lampu berkedip, memancarkan cahaya terang, Menunggu listrik menyala kembali.