Suara Alarm di Bulan Agustus pt 2

Jujur saja saya tidak merayakan ulang tahun (baca suara alarm di Bulan Agustus)

Namun ucapan ulang tahun masih saya terima, ucapan dari orang-orang baik yang mengucapkan kata-kata ucapan dan doa yang baik pula, membanjiri sosial media, di dinding facebook, di beranda instagram, dan juga what’s up.

Beberapa tahun terakhir ini, ulang tahun menjadi moment pengingat untuk saya, seperti sebuah alarm yang berbunyi tiap tahunnya bahwa saya sudah hidup di planet bumi ini, pada usia kesekian.

Yang menjadi kejutan kemudian adalah moment yang hanya terjadi sekali dalam setahun itu menjadi begitu sangat essential  tahun ini. Setidaknya menurut saya pribadi.

Mama saya menelpon, lalu mengucapkan selamat ulang tahun, lalu kemudian menanyakan kabar remeh temeh lainnya, apakah saya sudah makan, saya sudah shalat, ataukah tentang kondisi kesehatan saya.

Sejak setahun saya sudah tidak tinggal di rumah orangtua lagi, dan sekarang harus hidup mandiri jauh dari keluarga di kota asing yang kini menjadi tempat saya berada.

Namun adanya kehadiran jarak  tersebut membuat saya menyadari bahwa jarak yang jauh dari keluarga membuat saya jadi lebih mengenal kemampuan diri sendiri, dan mengenal  rindu, rindu yang mengajarkan kita bahwa rasa kasih sayang itu bisa tercipta dari hal-hal sederhana atau hal-hal sepeleh yang kadang kita lupakan.

Jarak ialah panjang lintasan yang sesungguhnya yang ditempuh oleh suatu benda dalam waktu tertentu.

Jarak tidak bergantung pada arah,

sehingga jarak termasuk besaran

skalar.

Oleh karena itu jarak selalu memiliki tanda positif.

#cerita12

Sejarah Pendidikan, dari sudut pandang Levi

Dalam mempelajari pendidikan seseorang, kita perlu memahami kehidupan sosial, politik, dan agama mereka. Kadang kita juga perlu mengetahui geografi dan sejarah negara mereka. – Levi Seeley

Pada tahun 1899, Levy Seeley menuliskan sebuah buku yang berjudul History of Education, entah mengapa saya membaca buku ini, mungkin karena ada label history pada judul buku, yang kemudian membuat saya penasaran.

Levi, mengatakan bahwa bangsa Persia secara geografis negaranya dikelilingi oleh musuh, sehingga membutuhkan pendidikan belah diri untuk persiapan defensif dan ofensif, oleh karena itu akhirnya pendidikan fisik (olahraga) sangat dominan di kalangan orang spartan.

Levi merupakan penulis yang berasal dari Amerika, berdasarkan latar belakangnya isi buku ini memiliki porsi yang besar tentang pendidikan di Eropa, serta pengaruh dari para pemikir-pemikir eropa, atau hal-hal terkait pendidikan Kristen, Yahudi, dan pendidikan barat.

History of education diterbitkan pada tahun 1899 oleh penerbit American book company, New York, jika didasarkan atas tahun terbitnya dan jika dibandingkan dengan era digital saat ini, sejarah yang dibahas sebenarnya cukup terbatas.

Pada sebagian pola pendidikan bangsa tersebut, Levi memberikan kritik serta menunjukkan hal-hal yang menyangkut dalam kekurangan dan kelebihan suatu pola pendidikan yang sedang ia bahas.

Seperti misalnya saat ia mengkritik pola pendidikan orang china di masa lampau, bahwa pola pendidikan China tidak menumbuhkan minat melampaui batas, dan literaturnya hanya terbatas dalam literatur china klasik, pendidikan menumpuk daya ingat, dan mengabaikan kekuatan pikiran, pendidikan diperoleh dari rasa takut.

Atau kritik terhadap pola pendidikan India di masa lampau, dimana pendidikan berdasarkan sistem kasta, namun disisi lain pola pendidikannya membuat orang menjadi suka merefleksikan diri, yang tanpa keraguan menghasilkan filosofi matematis yang mendalam.

Lalu beralih ke Pendidikan Persia, Levi menuliskan bahwa Pendidikan Persia adalah pendidikan karakter universal, saat usia 7 tahun anak diambil dari rumah, dan dididik sepenuhnya oleh negara, periode kedua saat usia 10 tahun diberi pendidika. Militer lalu berlanjut ke pendidikan untuk menjadi prajurit.

Untuk kritik pendidikan Yahudi sendiri, Levi menuliskan sanjungannya bahwa pendidikan Yahudi memberikan interpretasi intelejensia dan fungsi sekolah. Pendidikan Yahudi mengagungkan pendidikan di rumah, menuntut pengawasan anak-anak oleh orangtua. Kedisiplinan bersifat lembut dan hukuman fisik diberikan pada anak setelah berusia 11 tahun.

Beralih ke pendidikan Mesir, pendidikan mesir itu didominasi sistem kasta, pendidikannya menggunakan metode konkret setidaknya dalam menulis dan aritmatika. Pendidikan tinggi Mesir sangat terkenal, sehingga menarik perhatian cendikiawan Yunani dan Roma datang ke Mesir untuk belajar sains dan filosofi.

Levi membahas tipe-tipe pendidikan di berbagai bangsa dengan peradaban tinggi di dunia, pada bab awal dia mulai membahas pola pendidikan orang China, berlanjut dengan pola pendidikan India, Yunani, Yahudi, Roma, Eropa, Muslim, Kristen, Sistem pendidikan sekolah di negara Barat, seperti, Jerman, Perancis, Inggris sampi Amerika. Paparannya tersebut berjumlah 392 halaman.

Dari sudut pandang Levi, kita mengetahui bahwa terlihat jelas perbedaan cara pendidikan bangsa-bangsa di dunia, dan mereka tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Berdasarkan sejarahnya yang panjang, kita kemudian menyadari bahwa pendidikan modern di masa kini merupakan hasil dari modifikasi atau perbaikan dari pendidikan di masa lampau.

Di usia kanak-kanak orangtua adalah penentu pendidikan bagi anak-anaknya, di masa remaja, anak perlu bimbingan orangtua dalam menemukan hal ia sukai atau hal yang ia senang untuk mempelajarinya.

Para guru seperti, Confucius, Socrates, Augustine, Charlemagne, Luther, Bacon, cormenius, Pestalozzi, Froebel, adalah para pemikir yang berpengaruh dalam pendidikan. Sistem pendidikan modern itu merupakan hasil pertumbuhan pengalaman sistem pendidikan di masa lalu.

Pendidikan adalah proses terus menerus yang dimulai dari kelahiran, dan berhenti saat kematian. Sedangkan sekolah adalah proses edukasi yang selama priode terbatas dalam kehidupan anak di bawah bimbingan guru. Secara garis besar berdasarkan sejarahnya, sekolah adalah produk dari peradaban.

#cerita11

James Hutton : Lelaki Penemu waktu

James Hutton (1726 – 1797) nama yang selalu disebut-disebut dalam literatur kuliah saya. Dia berasal dari Skotlandia.

Semua terlihat biasa saja seperti dalam buku-buku literatur kuliah, seorang ahli menjelaskan tentang riset yang telah dilakukannya untuk membuktikan sebuah teori.

Dia seorang naturalis, ia meneliti tentang batuan-batuan di permukaan bumi, dan meneliti alam, yang menjadi kejutannya kemudian saya membaca biografinya menemukan info bahwa ternyata dulunya Hutton adalah seorang dokter, dan ia juga mempelajari hukum.

Di masa kini, para orang tua, atau orang dewasa selalu berasumsi bahwa seseorang di lintas jurusan tak bisa melakukan hal-hal yang bukan jurusan awalnya.

Ya demikianlah muncul istilah salah jurusan, mungkin kita punya kenalan, atau keluarga yang memiliki kesukaan berbeda dibandingkan jurusannya, kuliah ekonomi tapi suka menulis, kuliah pertanian tapi suka melukis, kuliah teknik tapi jadi jurnalis.

Tapi sepertinya hal itu bukanlah masalah, dengan catatan kita bisa mempertanggungjawabkan kesukaan kita itu.

Demikianlah juga yang terjadi pada Hutton, awalnya kuliah kedokteran, jadi dokter tapi justru lebih dikenal dunia sebagai naturalis, ahli bumi.

Tahun 1785, ia menulis Buku berjudul Theory of the Earth, ia menuliskan tentang lapisan bumi, dan juga pembentukan bagian-bagian permukaan bumi. Bahkan ia menyinggung tentang seleksi alam dan makhluk hidup.

Lalu buku ini dibaca oleh Charles Lyell dan Darwin, menginspirasi Darwin untuk melalukan penjelajahan dengan kapal H. M.S Beagle Inggris tahun 1831-1836 dan bertahun-tshun kemudian ia mengembangkan Teori Evolusi yang terkenal dan kontroversial itu, dan menuliskan ide-idenya dalam Buku Origin of species, by means of natural selection, pada tahun 1859.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, adanya penemuan-penemuan baru, kemudian meruntuhkan teori Darwin,

Catatan Fosil yang tersingkap di muka bumi seolah berbisik kepada Darwin bahwa “Saya tidak berevolusi, saya tetap sama seperti dulu.”

Dan juga genetika monyet meskipun nyaris sama dengan manusia, pada kenyataannya memang berbeda. DNA monyet diciptakan memang untuk monyet, begitupun dengan manusia.

Pada kenyataannya yang menjadi pertanyaan siapa yang menciptakan DNA itu, jika tidak berubah? siapa yang menciptakan semua benda-benda di muka bumi ini, manusia, tumbuhan, hewan, siapa yang menggerakkan semua proses rumit ini? secara mekanis begitu tercipta dengan sempurna dan teratur?

Dan begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan dan alam, semesta.

Kalau singkat dan jelasnya maka kita akan menjawab : “Tuhan”,

“Tuhan” Bagi yang mempercayai Tuhan,

Dan bagi yang tidak mempercayai Tuhan, ia akan terus mencari-cari jawaban yang sesuai dengan pemikirannya.

Masalahnya adalah kebanyakan ilmuwan yang menyingkap suatu penemuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang tak mempercayai Tuhan, atau dulu ia pernah percaya, tapi kemudian memilih untuk melupakan, ataukah pernah kecewa terhadap manusia, kemudian mengalihkannya kekecewaannya pada Tuhan.

Saat saya sekolah, teori evolusi sudah di hapuskan di buku-buku pelajaran sekolah menengah, tapi saya bisa mendapatkan jejak teori evolusi dalam buku pelajaran lama milik kakak saya, (dimana rentang umur kami berjarak 10 tahun).

Nenek moyang manusia adalah monyet, sangat luar biasa, tapi juga menggelikan, mahkluk hidup berevolusi untuk mempertahankan diri. Evolusi lahir dari seleksi alam,

Teori Seleksi alam mengatakan bahwa yang terkuatlah yang akan bertahan, kalau ini agak masuk akal juga,

Saya melihat ilustrasi homo erectus, dan kemudian melihat perkembangannya menjadi homo sapiens.

Saya kemudian menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu memang dinamis, apa yang dipercaya orang-orang di masa lalu mungkin akan berbeda dengan apa yang dipercayai oleh orang-orang di masa depan

Ini berarti kepercayaan adalah suatu hal yang perlu dijaga, selama kau percaya, hal itu akan selalu ada, dan jika keraguan itu ada maka semuanya perlahan akan terhapus dari kepercayaanmu.

Demikianlah pembahasan tentang Darwin, Darwin ibaratnya seperti penyanyi rock terkenal, dia punya banyak fanboy garis keras, bedanya fans Darwin itu bukan fans biasa tapi kebanyakan ilmuwan. Sekarang bahkan kita masih mendengar adanya istilah Neo-Darwinisme.

Dari Darwin mari Kembali lagi ke James Hutton, padahal pada awalnya saya mau bahas Bapak James Hutton, tapi malah melipir jauh ke Darwin.

Nature, everywhere the most amazingly and outstandingly remarkable producer of living bodies, being most carefully arranged according to physical, mechanical, and chemical laws, does not give even the smallest hint of its extraordinary and tireless workings and quite clearly points to its work as being alone worthy of a benign and omnipotent God; and it carries this bright quality in all of its traces, in that, just as all of its general mechanisms rejoice, so also do all of their various smallest component parts rejoice in the depth of wisdom, in the height of perfection, and in the lofty arrangement of forms and qualities, which lie far beyond every investigation of the human mind. – James Hutton-

#cerita5

Referensi :

Mengikis Abai dan Pembiaran

Apa yang kamu lakukan jika melihat seseorang membuang sampah sembarangan?

Apakah membiarkannya? atau menegurnya. Beberapa orang mungkin akan menjawab dengan jawaban yang berbeda.

Ada yang menjawab membiarkannya, karena hal yang kerap dianggap sepeleh ini menjadi suatu kebiasaan yang terus mengakar dalam masyarakat. Terus mengamini bahwa orang Indonesia memang kebiasaannya buang sampah sembarangan.

Ada juga yang menjawab, akan menegur orang itu (atau hanya sebatas lisan saja, tak benar-benar dilakukan).

Untuk diriku sendiri, jujur awalnya saya membiarkannya. Memilih diam karena dalam hati toh, orang itu sebenarnya merugikan dirinya sendiri, (seperti jawaban pertama) meski sebenarnya itu tentu saja juga merugikan orang lain.

Hal Itu bertahan cukup lama, lalu seiring betambahnya usia akhirnya timbul perasaan aneh terlintas dalam benak karena adanya rasa bersalah dan kesal sendiri, karena melakukan pembiaran.

Sampai akhirnya mencapai titik kesadaran bahwa sudah saatnya untuk mengakhiri pembiaran, menghentikan sesuatu yang tidak benar di depan mata, mengakhiri hal-hal yang bisa merugikan orang lain atau diri sendiri. memilih untuk menegur.

Ya, yang terjadi kemudian saya memilih untuk memberikan teguran, ketika berada di tempat umum, ketika bersama keluarga,  teman atau saat berada di jalananan umum atau saat berada area fasilitas publik, ketika tidak sengaja melihat orang membuang sampah sembarangan.

Bukan hal mudah untuk menegur seseorang, karena respon pihak yang menerima teguran tentu memberikan reaksi yang berbeda-beda.

Ada orang yang marah (meski saya telah memberikan teguran dengan bahasa yang halus, dengan tingkat kesopanan  tinggi agar tidak menyinggung perasaan), ada yang merasah malu, ada yang mengindar atau pura-pura tidak mendengar, ada yang mencibir, dan demikianlah beragamnya setiap respon berbeda yang saya terima, seperti beragamnya rupa dan pikiran manusia.

Tentu pernah ada juga rasa gentar, dan bisikan untuk membiarkan perbuatan membuang sampah begitu saja. Ya hal terberat adalah menegur bukan hanya kepada orang lain. Tapi juga sebagai bentuk teguran kepada diri sendiri.

Ini bukan hanya berlaku pada kebiasaan membuang sampah sembarangan, tapi berlaku juga pada semua kebiaasaan buruk yang mungkin saja terjadi di depan mata kita. Tindakan nepotisme halus, menyerobot antrean, bully, ujaran kebencian/ komentar buruk di media sosial dan banyak hal lainnya.

Seseorang yang menegur, kadang dianggap bersaudara dengan tindakan orang yang terlalu banyak ikut campur, dan hal ini dianggap tidak baik, merepotkan, dan kadang mendatangkan masalah.

Ada suatu kisah dalam suatu Film, dua remaja laki-laki yang bersahabat. Menjelang sekolah menengah, suatu saat persahatan kedua anak ini menjadi renggang. Salah satu dari mereka mendapat perlakuan buruk di sekolah, anak yang satunya dibully sedangkan temannya yang satu tetap menjalani kehidupannya dengan damai. Saat melihat temannya ditindas si anak yang hidup damai itu membiarkn temannya, dan pura-pura tidak mengenalnya, ia khawatir jika ia ketahuan bersahabat dengan si anak yang ditindas, ia juga akan mendapat nasib yang sama. Istilahnya “Cari aman.”

Ya ikut campur maupun pembiaran bukan hal yang mudah untuk dilakukan, setiap tindakn yang dilakukan akan menghasilkan reaksi setelahnya.

Saya pernah ikut sebuah kegiatan, dan pemateri dalam kegiatan tersebut bercerita apakah respon yang kita lakukan jika kita melintas dan melihat segerombolan anak SMA merokok, (dimana seharusnya pelajar itu tidak merokok) duduk di motor dengan kawan-kawannya tampak mengobrol dengan serunya, dan ternyata salah satu remaja itu adalah anak tetanggamu. Sebagai orang dewasa yang melintas di depan anak-anak remaja itu, dan melihat seseorang yang kamu kenal, apakah pilihan yang akan kamu ambil?
Membiarkan kelakuan anak-anak remaja itu dan berlalu begitu saja? mengabaikannya atau menegurnya?

Berani menegur orang lain, berarti berlaku untuk diri sendiri. Seperti jarum kompas yang menunjuk ke arah Utara, jarum kompas itu juga akan menunjuk ke arah sebaliknya, menunjuk ke Selatan, seperti bentuk telunjuk yang mengarah pada orang lain arah sebaliknya juga akan berbalik kepadamu, berbalik pada batang hidungmu sendiri.

Akhir-akhir ini saya mulai memikirkan hal-hal ini, melakukan pembiaran atau menegur ketika melihat sesuatu yang mengusik hati nurani saya.

Dinamika Budaya Pop Dunia

Hari itu saya sedang libur dan berniat nonton film seharian. Bersama dengan adik perempuanku, kami kemudian menghabiskan waktu di bioskop.

Setelah memilih film yang akan dia tonton (ia memilih Film Hollywood berjudul “The Nutcracker and the Four Realism,”) tanpa mengeluarkan kata-kata lisan,  saat di depan mbak petugas  tiket film,  mata adik saya melirik ke samping (ke arah saya), sebuah bahasa kalbu yang mengatakan “Bayarkan saya tiket nonton, plus nanti habis nonton, ajakin makan sekalian”

“Sebagai hukum alam khususnya yang berlaku di wilayah Asia,  orang yang lebih tua selalu membayar untuk orang yang lebih muda”

Itulah mengapa orang yang lebih tua kebanyakan suka bekerja dan mencari uang lebih giat. 

Sebelumnya saya masih berdiri di depan loket,  dan beberapa film baru, yang menjadi perhatian saya adalah film bertema musik  “Bohemian Rapsody” dan “Burn The Stage.”

Screenshot_20190323_210845

Jadi hari itu saya sudah selesai menonton Film Nutcracker (dimana pemeran utamanya cantik banget), dan  saya juga menonton film “Bohemian Rapsody” dan “Burn The Stage.” Dan saya kemudian menyadari bahwa film- film yang saya nonton maupun musik yang saya dengar adalah produk dari Budaya Pop Dunia. Dan ajaibnya produk industry pop ini menjadi salah satu penggerak roda perekonomian suatu negara yang memproduksinya.

Produk Culture Pop Amerika

Bohemian Rapsody, film yang diadaptasi dari kisah lead vocalist  grup band Rock Queen yang melegenda Freddie Mercury. Musik telah menjadi bahasa universal bagi dunia. Musik dengan  lirik barat adalah salah satu produk terbaik Pop culture Amerika selain produk film Hollywood.

Dan sekarang, musik+Film kombinasi yang sempurna,  Seorang Freddie Mercury yang memiliki banyak penggemar,  pernah dibenci (karena orientasi seksualnya),  namun dicinta karena musik dan karismanya saat tampil di panggung.

Freddie Mercury sudah wafat dan bandnya sudah sangat terkenal, bahkan personil Queen yang lain (John,  Brian May,  Roger) sudah opa-opa banget,  namun karya terbaik mereka yaitu berupa musik membuat orang-orang itu terus abadi. Suara petikan bass dan gitarnya,  gebukan drumnya, serta suara instrument musiknya masih mengalun, dan suara vocal Freddie masih bisa memukau fansnya di masa lalu,  dan bahkan masih bisa memukau para millenial dan generasi Z.

“We will rock you”  adalah lagu pertama Queen yang saya kenal,  itupun karena lagu itu telah menjadi  salah satu lagu ikonik  yang kerap dinyanyikan  para mahasiswa senior di fakultas saya kuliah.

Lagu tersebut memang cukup membuat pendengarnya adiktif dan bersemangat. Kepopulerannya masih ada hingga kini, bahkan kembali dibangkitkan  dalam sebuah film berjudul Bohemian Rapsody.

Saking populernya, Rami Malek aktor yang memerankan Freddie Mercury,  langsung mendapatkan piala oscar, karena berhasil dengan baik memerankan sosok Freddie Mercury.

Dan sampai sekarang Film,  musik,  dan animasi  merupakan produk budaya Pop Amerika yang masih melanda dunia, apalagi jika ada Film Terbaru tema superhero dari Marvel atau DC.

Produk Culture Pop Asia

Jepang sebuah negara di dekat samudera Pasifik,  pernah menjadi lawan Amerika di saat perang dunia II,

Setelah perang berakhir, Jepang perlahan bangkit dan membangun negaranya,  berpuluh-puluh tahun kemudian ia menghasilkan produk budaya pop yang mendunia menyaingi barat seperti anime (kartun Jepang),  Film, musik dan komik.

lalu lahirlah istilah Weaboo

Weeaboo is a mostly derogatory slang term for a Western person who is obsessed with Japanese culture, especially anime, often regarding it as superior to all other cultures.

Generasi 90an tumbuh dengan culture pop Jepang berupa anime dan drama Jepang,  dan musik Jepang di masa kanak-kanaknya.

Setelah remaja dan memasuki usia dewasa muda, muncullah “Korean wave” alias gelombang hallyu,  berdasarkan pengalaman hidup saya,  “Korean Wave” diperkiraan mulai populer di Indonesia pada tahun 2006-2019 (tulisan ini ditulis pada tahun 2019 entah berapa lama Culture pop Korea Selatan akan bertahan,  waktu yang akan menjawabnya).

waktu terus bergulir saat anak-anak generasi Z lahir di dunia dan Korean Wave masih ada,  bahkan terus berkembang,  hingga kemudian gelombang itu bukan sekedar gelombang biasa tapi telah menjelma menjadi gelombang “tsunami.”

Tsunami,  yang kemudian melahirkan istilah Koreaboo (menandingi keberadaan Weibo)

A non-native Korean who is obsessed with Korean culture to the point where they denounce their own national/native identity and proclaim that they are Korean.

Bagaimana tidak, Culture pop Korea Selatan kini menghampiri Amerika dan Eropa,  dimana sebelumnya disana ada basis terkuat culture pop Amerika yang lahir dan beranak pinak.

“The seven members of BTS and their fan ARMY descended on Times Square this morning (Sept. 26) for their first appearance on ABC’s Good Morning America. The GMA episode marked BTS’ first-time ever appearing on a national Stateside morning show. “

BTS, grup musik asal Korea Selatan yang kini digemari diseluruh dunia,  bahkan mengguncangkan panggung Amerika. Saat BTS tampil, anak muda Amerika berteriak-teriak menyanyikan lagu dengan berbahasa Korea Selatan. Grup ini bahkan mengadakan konser tour dunia dimana tiket di Eropa dan Amerika habis terjual meski diselenggarakan di stadion sepak bola.

Seberapa kuat dampak dari culture Pop bagi dunia? sama seperti rasa penasaran saat menonton Bohemian Rapsody, penasaran kembali,  kemudian menonton film yang satunya lagi,yaitu Burn the stage.

Tapi saat menonton  kedua film ini saya sendirian, (adik perempuan saya tidak terlalu berminat pada film bertema musik ditambah lagi ia sangat membenci hal-hal yang berbau musik rock barat jadul dan musik korea atau K-pop).  Anehnya, rasa benci itu tidak berlaku saat ia menonton drama korea.

Dalam bioskop, seat bioskop pun perlahan terisi oleh penonton. Kebanyakan bergerombol, remaja SMP dan SMA,  mungkin sebagian ada juga yang mahasiswa, dan banyak remaja perempuan, kumpulan remaja laki-laki tersisih di bagian kursi belakang sepertinya satu rombongan, sedang remaja laki-laki yang lain tersebar secara acak di kursi depan.

Film dimulai dan banyak remaja perempuan yang menjerit-jerit saat melihat idolanya muncul di layar kaca bioskop yang sedemikian lebar, melihat pemandangan tersebut saya kemudian teringat akan Queen. Para penggemar secara kompak mengikuti aba-aba dari Freddie Mercury yang meleganda, dan kompak menyanyi bersama.

” Eo…eo… ede.. edede… edededeeeeee..” ujar Freddie Mercury (*kayak logat orang Makassar kalo lagi ngeluh)

Screenshot_20190323_210625

Dan rasa ingatan itu, semakin kuat saat saya saat menonton film Burn The Stage namun beralih ke grup lain yang lebih tua yaitu The Beatles.

Potongan rupa anggota The Beatles bahkan mirip dengan grup penyanyi Korea Selatan tersebut, “Sama-sama memakai poni.”

Screenshot_20190323_215123

Saya pernah menonton video konser The Beatles di internet,  dan respon penggemar remaja baik dulu maupun sekarang ternyata masih sama, yaitu masih suka berteriak histeris saat melihat wajah idolanya muncul.

Saya duduk sebaris dengan tiga remaja, tapi mereka berbeda dengan remaja yang duduk di seat bagian tengah.  Ketiga remaja yang duduk di samping saya cenderung kalem. Saya merasa sangat beruntung karena saya bisa menonton film dengan tenang tanpa terdistorsi oleh teriakan anak perempuan.

Dua jam kemudian film Burn the stage itu pun selesai, lampu dinyalakan dan perlahan beberapa penonton mulai berjalan meninggalkan ruangan.

BTS

Seperti Behemian Rapsody, film itu mengangkat tema musik,  tapi bedanya Burn the stage disajikan dalam bentuk film dokumenter,  hari ini kemudian diakhiri dengan saya menonton film dokumenter penyanyi korea bernama BTS selama dua jam.

Beruntungnya karena saya memang suka menonton film dokumenter,  dulu saya juga pernah menonton film dokumenter penyanyi lain,  film dokumenter Bob Marley,  sayangnya di film itu tidak menampilkan Bob Marley secara langsung dan hanya menampilkan orang terdekatnya, logisnya  karena Bob Marley sendiri sudah lama wafat.

Apa yang saya dapat dari film dokumenter dengan durasi 2 jam ini?

Terlepas dari stigma fans kpop yang fanatik dan alay serta isu plastic surgeon para idol Korea, saya menemukan banyak narasi bagus dan juga hasil kerja keras di film dokumenter ini, banyak monolog-monolog yang  suaranya dilisankan langsung oleh anggota grup itu, bahwa untuk meraih sebuah cita-cita atau kesuksesan memang butuh effort, mencintai dan menghargai diri sendiri, empati, kecerdasan emosional,  serta,  keyakinan dan kepercayaan pada mimpi.

Utamanya narasi dari para rapper BTS sendiri, (biasanya rapper itu cerdas,  dan kritis, karena lirik lagunya langsung diciptakan oleh rapper itu sendiri) saya menemukan banyak metafora,  dan kiasan bahasa yang tak bisa ditelan mentah-mentah, ini mengingatkan saya akan karya sastra Indonesia, pepatah dan sajak kebudayaan bahasa Indonesia jaman dulu. Dimana setiap kata,  setiap simbol budaya,  memiliki arti atau makna kehidupan manusia di baliknya.