Suara Alarm di Bulan Agustus pt 2

Jujur saja saya tidak merayakan ulang tahun (baca suara alarm di Bulan Agustus)

Namun ucapan ulang tahun masih saya terima, ucapan dari orang-orang baik yang mengucapkan kata-kata ucapan dan doa yang baik pula, membanjiri sosial media, di dinding facebook, di beranda instagram, dan juga what’s up.

Beberapa tahun terakhir ini, ulang tahun menjadi moment pengingat untuk saya, seperti sebuah alarm yang berbunyi tiap tahunnya bahwa saya sudah hidup di planet bumi ini, pada usia kesekian.

Yang menjadi kejutan kemudian adalah moment yang hanya terjadi sekali dalam setahun itu menjadi begitu sangat essential  tahun ini. Setidaknya menurut saya pribadi.

Mama saya menelpon, lalu mengucapkan selamat ulang tahun, lalu kemudian menanyakan kabar remeh temeh lainnya, apakah saya sudah makan, saya sudah shalat, ataukah tentang kondisi kesehatan saya.

Sejak setahun saya sudah tidak tinggal di rumah orangtua lagi, dan sekarang harus hidup mandiri jauh dari keluarga di kota asing yang kini menjadi tempat saya berada.

Namun adanya kehadiran jarak  tersebut membuat saya menyadari bahwa jarak yang jauh dari keluarga membuat saya jadi lebih mengenal kemampuan diri sendiri, dan mengenal  rindu, rindu yang mengajarkan kita bahwa rasa kasih sayang itu bisa tercipta dari hal-hal sederhana atau hal-hal sepeleh yang kadang kita lupakan.

Jarak ialah panjang lintasan yang sesungguhnya yang ditempuh oleh suatu benda dalam waktu tertentu.

Jarak tidak bergantung pada arah,

sehingga jarak termasuk besaran

skalar.

Oleh karena itu jarak selalu memiliki tanda positif.

#cerita12

Sejarah Pendidikan, dari sudut pandang Levi

Dalam mempelajari pendidikan seseorang, kita perlu memahami kehidupan sosial, politik, dan agama mereka. Kadang kita juga perlu mengetahui geografi dan sejarah negara mereka. – Levi Seeley

Pada tahun 1899, Levy Seeley menuliskan sebuah buku yang berjudul History of Education, entah mengapa saya membaca buku ini, mungkin karena ada label history pada judul buku, yang kemudian membuat saya penasaran.

Levi, mengatakan bahwa bangsa Persia secara geografis negaranya dikelilingi oleh musuh, sehingga membutuhkan pendidikan belah diri untuk persiapan defensif dan ofensif, oleh karena itu akhirnya pendidikan fisik (olahraga) sangat dominan di kalangan orang spartan.

Levi merupakan penulis yang berasal dari Amerika, berdasarkan latar belakangnya isi buku ini memiliki porsi yang besar tentang pendidikan di Eropa, serta pengaruh dari para pemikir-pemikir eropa, atau hal-hal terkait pendidikan Kristen, Yahudi, dan pendidikan barat.

History of education diterbitkan pada tahun 1899 oleh penerbit American book company, New York, jika didasarkan atas tahun terbitnya dan jika dibandingkan dengan era digital saat ini, sejarah yang dibahas sebenarnya cukup terbatas.

Pada sebagian pola pendidikan bangsa tersebut, Levi memberikan kritik serta menunjukkan hal-hal yang menyangkut dalam kekurangan dan kelebihan suatu pola pendidikan yang sedang ia bahas.

Seperti misalnya saat ia mengkritik pola pendidikan orang china di masa lampau, bahwa pola pendidikan China tidak menumbuhkan minat melampaui batas, dan literaturnya hanya terbatas dalam literatur china klasik, pendidikan menumpuk daya ingat, dan mengabaikan kekuatan pikiran, pendidikan diperoleh dari rasa takut.

Atau kritik terhadap pola pendidikan India di masa lampau, dimana pendidikan berdasarkan sistem kasta, namun disisi lain pola pendidikannya membuat orang menjadi suka merefleksikan diri, yang tanpa keraguan menghasilkan filosofi matematis yang mendalam.

Lalu beralih ke Pendidikan Persia, Levi menuliskan bahwa Pendidikan Persia adalah pendidikan karakter universal, saat usia 7 tahun anak diambil dari rumah, dan dididik sepenuhnya oleh negara, periode kedua saat usia 10 tahun diberi pendidika. Militer lalu berlanjut ke pendidikan untuk menjadi prajurit.

Untuk kritik pendidikan Yahudi sendiri, Levi menuliskan sanjungannya bahwa pendidikan Yahudi memberikan interpretasi intelejensia dan fungsi sekolah. Pendidikan Yahudi mengagungkan pendidikan di rumah, menuntut pengawasan anak-anak oleh orangtua. Kedisiplinan bersifat lembut dan hukuman fisik diberikan pada anak setelah berusia 11 tahun.

Beralih ke pendidikan Mesir, pendidikan mesir itu didominasi sistem kasta, pendidikannya menggunakan metode konkret setidaknya dalam menulis dan aritmatika. Pendidikan tinggi Mesir sangat terkenal, sehingga menarik perhatian cendikiawan Yunani dan Roma datang ke Mesir untuk belajar sains dan filosofi.

Levi membahas tipe-tipe pendidikan di berbagai bangsa dengan peradaban tinggi di dunia, pada bab awal dia mulai membahas pola pendidikan orang China, berlanjut dengan pola pendidikan India, Yunani, Yahudi, Roma, Eropa, Muslim, Kristen, Sistem pendidikan sekolah di negara Barat, seperti, Jerman, Perancis, Inggris sampi Amerika. Paparannya tersebut berjumlah 392 halaman.

Dari sudut pandang Levi, kita mengetahui bahwa terlihat jelas perbedaan cara pendidikan bangsa-bangsa di dunia, dan mereka tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Berdasarkan sejarahnya yang panjang, kita kemudian menyadari bahwa pendidikan modern di masa kini merupakan hasil dari modifikasi atau perbaikan dari pendidikan di masa lampau.

Di usia kanak-kanak orangtua adalah penentu pendidikan bagi anak-anaknya, di masa remaja, anak perlu bimbingan orangtua dalam menemukan hal ia sukai atau hal yang ia senang untuk mempelajarinya.

Para guru seperti, Confucius, Socrates, Augustine, Charlemagne, Luther, Bacon, cormenius, Pestalozzi, Froebel, adalah para pemikir yang berpengaruh dalam pendidikan. Sistem pendidikan modern itu merupakan hasil pertumbuhan pengalaman sistem pendidikan di masa lalu.

Pendidikan adalah proses terus menerus yang dimulai dari kelahiran, dan berhenti saat kematian. Sedangkan sekolah adalah proses edukasi yang selama priode terbatas dalam kehidupan anak di bawah bimbingan guru. Secara garis besar berdasarkan sejarahnya, sekolah adalah produk dari peradaban.

#cerita11

Patung Megalitikum Palindo

Pada perjalanan saya menuju lembah Bada di bulan Oktober, teman saya sudah berpesan bahwa saya harus menjaga kesehatan agar tidak muntah di dalam mobil.

Realitanya jalan menuju ke lembah Bada itu memang memiliki banyak sekali kelokan serta tikungan tajam dan tipikal jalan membosankan khas pegunungan dimana kiri kanan pemandangan kebanyakan hutan dan jurang dan jalan menanjak.

Untungnya kesehatan saya memang sedang fit, jadi saya bisa melewati perjalanan dengan aman.

Di Lembah Bada ini saya menjumpai Patung Palindo, sebenarnya saya hampir tidak berkunjung ke Patung megalitikum ini, karena arahan dari bos di kantor, kami harus menyelesaikan tugas kantor di lokasi itu, baru kami dizinkan pergi jalan-jalan.

Untung saja lokasi Patung Palindo tidak terlalu jauh dari sisi jalan.

Patung Palindo merupakan patung dengan ukuran sekitar 4,5 meter. Berlokasi di Lembah Bada, Lore Selatan, Sulawesi Tengah.

Lembah Bada merupakan salah satu bagian dari Taman Nasional Lore Lindu, dan masuk dalam kawasan megalitik Lore Lindu.

Keberadaannya merupakan bukti kebudayaan daerah itu pada masa lampau.

Palindo sendiri berarti ” Sang penghibur” pantas saja wajah dari patung ini begitu ceria, karena memiliki senyuman di wajahnya. Meski ia tidak tersenyum lebar, dan hanya terukir sebuah senyum simpul.

Menurut informasi patung ini adalah patung megalitikum terbesar, jadi di lokasi lain juga ada patung megalitikum namun ukurannya lebih kecil.

Patung Palindo ini cukup mirip dengan menara pisa, kemiripan yang dimaksud adalah kemiringan dalam segi posisi miring. Warga lokal menduga bahwa dulunya patung palindo ini berdiri tegak.

Patung Palindo pada awal tahun 1930, di depannya berpose tiga orang Belanda, masih banyak semak-semak dan tumbuhan hijau lain di sekitarnya.

Patung Palindo pada Oktober tahun 2019, lihat sekelilingnya telah mengalami perubahan.

Patung ini bisa dikategorikan sebagai patung menhir karena bentuknya menyerupai menhir, berbentuk silinder, dengan pahatan wajah sederhana, dan tubuh tanpa kaki, di bagian bawah terpampang jelas bentuk jenis kemaluannya, berdasarkan bentuknya, patung Palindo sendiri adalah seorang laki-laki.

Pada tahun 1909, Albertus Christiaan Kruyt seorang etnografer sekaligus misionaris asal Belanda menulis artikel bertema antroplogis dan arkeologis berjudul “Het Landschap Bada in Midden Celebes” yang membahas tentang megalitik di Lembah Bada.

Pada abad ke-19, dimulai penjelahan orang eropa ke Sulawesi Tengah, beberapa penjelajah yang terkenal tersebut diantara dua misionaris Belanda, Kruyt dan Nicolaus Adriani, disusul oleh dua naturalis Swiss, Paul dan Fritz Sarasin.

Kedatangan misionaris eropa tersebut di masa lampau memberikan pengaruh yang besar di Sulawesi, dimana sebagian besar penduduk di Poso dan Toraja hingga sekarang merupakan penganut Kristiani.

Lembah Bada pada tahun 1912.

Lembah Bada di tahun 2019

James Hutton : Lelaki Penemu waktu

James Hutton (1726 – 1797) nama yang selalu disebut-disebut dalam literatur kuliah saya. Dia berasal dari Skotlandia.

Semua terlihat biasa saja seperti dalam buku-buku literatur kuliah, seorang ahli menjelaskan tentang riset yang telah dilakukannya untuk membuktikan sebuah teori.

Dia seorang naturalis, ia meneliti tentang batuan-batuan di permukaan bumi, dan meneliti alam, yang menjadi kejutannya kemudian saya membaca biografinya menemukan info bahwa ternyata dulunya Hutton adalah seorang dokter, dan ia juga mempelajari hukum.

Di masa kini, para orang tua, atau orang dewasa selalu berasumsi bahwa seseorang di lintas jurusan tak bisa melakukan hal-hal yang bukan jurusan awalnya.

Ya demikianlah muncul istilah salah jurusan, mungkin kita punya kenalan, atau keluarga yang memiliki kesukaan berbeda dibandingkan jurusannya, kuliah ekonomi tapi suka menulis, kuliah pertanian tapi suka melukis, kuliah teknik tapi jadi jurnalis.

Tapi sepertinya hal itu bukanlah masalah, dengan catatan kita bisa mempertanggungjawabkan kesukaan kita itu.

Demikianlah juga yang terjadi pada Hutton, awalnya kuliah kedokteran, jadi dokter tapi justru lebih dikenal dunia sebagai naturalis, ahli bumi.

Tahun 1785, ia menulis Buku berjudul Theory of the Earth, ia menuliskan tentang lapisan bumi, dan juga pembentukan bagian-bagian permukaan bumi. Bahkan ia menyinggung tentang seleksi alam dan makhluk hidup.

Lalu buku ini dibaca oleh Charles Lyell dan Darwin, menginspirasi Darwin untuk melalukan penjelajahan dengan kapal H. M.S Beagle Inggris tahun 1831-1836 dan bertahun-tshun kemudian ia mengembangkan Teori Evolusi yang terkenal dan kontroversial itu, dan menuliskan ide-idenya dalam Buku Origin of species, by means of natural selection, pada tahun 1859.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, adanya penemuan-penemuan baru, kemudian meruntuhkan teori Darwin,

Catatan Fosil yang tersingkap di muka bumi seolah berbisik kepada Darwin bahwa “Saya tidak berevolusi, saya tetap sama seperti dulu.”

Dan juga genetika monyet meskipun nyaris sama dengan manusia, pada kenyataannya memang berbeda. DNA monyet diciptakan memang untuk monyet, begitupun dengan manusia.

Pada kenyataannya yang menjadi pertanyaan siapa yang menciptakan DNA itu, jika tidak berubah? siapa yang menciptakan semua benda-benda di muka bumi ini, manusia, tumbuhan, hewan, siapa yang menggerakkan semua proses rumit ini? secara mekanis begitu tercipta dengan sempurna dan teratur?

Dan begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan dan alam, semesta.

Kalau singkat dan jelasnya maka kita akan menjawab : “Tuhan”,

“Tuhan” Bagi yang mempercayai Tuhan,

Dan bagi yang tidak mempercayai Tuhan, ia akan terus mencari-cari jawaban yang sesuai dengan pemikirannya.

Masalahnya adalah kebanyakan ilmuwan yang menyingkap suatu penemuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang tak mempercayai Tuhan, atau dulu ia pernah percaya, tapi kemudian memilih untuk melupakan, ataukah pernah kecewa terhadap manusia, kemudian mengalihkannya kekecewaannya pada Tuhan.

Saat saya sekolah, teori evolusi sudah di hapuskan di buku-buku pelajaran sekolah menengah, tapi saya bisa mendapatkan jejak teori evolusi dalam buku pelajaran lama milik kakak saya, (dimana rentang umur kami berjarak 10 tahun).

Nenek moyang manusia adalah monyet, sangat luar biasa, tapi juga menggelikan, mahkluk hidup berevolusi untuk mempertahankan diri. Evolusi lahir dari seleksi alam,

Teori Seleksi alam mengatakan bahwa yang terkuatlah yang akan bertahan, kalau ini agak masuk akal juga,

Saya melihat ilustrasi homo erectus, dan kemudian melihat perkembangannya menjadi homo sapiens.

Saya kemudian menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu memang dinamis, apa yang dipercaya orang-orang di masa lalu mungkin akan berbeda dengan apa yang dipercayai oleh orang-orang di masa depan

Ini berarti kepercayaan adalah suatu hal yang perlu dijaga, selama kau percaya, hal itu akan selalu ada, dan jika keraguan itu ada maka semuanya perlahan akan terhapus dari kepercayaanmu.

Demikianlah pembahasan tentang Darwin, Darwin ibaratnya seperti penyanyi rock terkenal, dia punya banyak fanboy garis keras, bedanya fans Darwin itu bukan fans biasa tapi kebanyakan ilmuwan. Sekarang bahkan kita masih mendengar adanya istilah Neo-Darwinisme.

Dari Darwin mari Kembali lagi ke James Hutton, padahal pada awalnya saya mau bahas Bapak James Hutton, tapi malah melipir jauh ke Darwin.

Nature, everywhere the most amazingly and outstandingly remarkable producer of living bodies, being most carefully arranged according to physical, mechanical, and chemical laws, does not give even the smallest hint of its extraordinary and tireless workings and quite clearly points to its work as being alone worthy of a benign and omnipotent God; and it carries this bright quality in all of its traces, in that, just as all of its general mechanisms rejoice, so also do all of their various smallest component parts rejoice in the depth of wisdom, in the height of perfection, and in the lofty arrangement of forms and qualities, which lie far beyond every investigation of the human mind. – James Hutton-

#cerita5

Referensi :

The Malay of Archipelago : Catatan Perjalanan Wallace

Malay_Archipelago_title_page

Saya pertama kali mendengar nama Wallace saat kelas 5 SD, ketika guru IPA menjelaskan tentang garis Wallace. Garis Wallace adalah garis imajiner yang membagi flora dan fauna Indonesia berdasarkan kesamaan karakteristik  dan letak geografis.

Wallace bertugas sebagai naturalis yang ditugaskan oleh pemerintah Inggris untuk mengadakan penelitian di wilayah Asia Tenggara, khususnya di kepulauan Nusantara (karena saat itu negara Indonesia belum terbentuk, wilayah kepulauan Indonesia disebut dengan kepulauan Nusantara atau Malaka), sebagian wilayah Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan pengalaman perjalanannya tersebut, Wallace kemudian menuliskan sebuah buku berjudul The Malay Archipelago (1869). Dengan salah satu  edisi terjemahan Indonesianya yang berjudul “Sejarah Nusantara” (penerbit Indoliterasi).

Jika Wallace tidak menuliskan pengalamannya dalam buku The Malay Archipelago (1869), mungkin saya tidak akan membaca buku ini 150 tahun kemudian, buku yang memuat kisah tentang perjalanan wallace di Indonesia, cerita tentang kondisi flora dan fauna yang ia jumpai, cerita tentang suku-suku di wilayah yang ia singgahi, sebuah kisah  tentang kondisi Indonesia pada abad yang lalu. Kisah tentang manusia dan alam.

Jujur saja membaca buku The Malay Archipelago (1869), membutuhkan energi dan waktu yang cukup besar, buku ini hampir setebal kamus, merupakan buku yang saya pinjam dari perpustakaan dan memiliki batas waktu untuk membacanya,  saya kemudian membaca buku ini di akhir pekan selama dua hari. Karena membaca edisi terjemahan, saya kemudian penasaran dengan edisi aslinya yang ditulis dalam bahasa Inggris. Melalui website http://wallace-online.org saya membaca buku ini lagi.

Karena label judul terjemahan memuat kata sejarah.  Awalnya saya menduga, bahwa isi buku ini akan membosankan,  setelah membaca bukunya dugaan saya ternyata salah. Meski lembaran halaman bukunya banyak, Wallace menceritakan kisahnya dengan sangat mengalir, seolah saya membaca buku harian Wallace, semua dijelaskan oleh Wallace dengan cara sederhana. Buku ini dituliskan berdasarkan pengalaman Wallace secara langsung, ketika dibaca kisahnya begitu personal dan penuh kejujuran.

Salah satu kesuksesan Wallace dalam menjelajahi kepulauan nusantara karena adanya peran dari para asisten Wallace yang merupakan penduduk lokal, dalam perjalanannya. Saya memikirkan betapa kuatnya fisik mereka, penjelajahan menyusuri hutan rimba, mendaki pegunungan, menyusuri sungai, perjalanan pelayaran antar pulau, pada tahun 1854 sampai tahun 1862 dimana belantara Asia tenggara masih sangat liar.

Dari bab awal sampai seterusnya, buku ini memuat banyak informasi tentang  kondisi alam, jenis flora dan fauna hingga karakteristik suku yang mendiami kawasan yang ia datangi. Bab terakhir dalam buku The Malay Archipelago membuat saya terkejut, saya tidak menduga bahwa Wallace akan menuliskan hal itu. Sebuah pemikiran yang seolah menjadi sebuah muara dari perjalanan panjangnya menjelajahi kepulauan di Nusantara, yang kemudian mengantarkannya pada studi tentang manusia dan alam.

Catatan 

Seseorang yang menyakini bahwa kondisi sosial kita sudah mendekati kesempurnaan akan berpikir lagi bahwa perkataan itu terlalu kasar dan berlebihan, tetapi bagiku perkataan tersebut mungkin saja bisa menjadi kebenaran. Kita adalah negara terkaya di dunia, namun mendekati satu-duapuluh populasi penduduknya adalah para orang kaya dan satu-tiga puluh populasinya lagi dikenal sebagai  para kriminal. Sekedar tambahan, belum lagi kriminal yang dalam pelarian, umumnya hidup miskin, atau sebagian hidup dari bantuan biaya derma  (menurut Dr. Hawkesley, biayanya bisa menghabiskan sekitar tujuh juta sterling pertahun khusus daerah London), dan kita meyakini bahwa biayanya bisa lebih dari itu. 

Satu – sepuluh dari populasi warga kami sebenarnya adalah orang-orang kaya dan para kriminal. Kedua kelas ini selalu menjadi pemalas, atau tenaga kerja kurang produktif, dan tiap kriminal menghabiskan biaya tahunan di penjara sejujurnya lebih banyak dari upah buruh pertanian. Kita membiarkan ratusan ribu orang  mengetahui dirinya tidak memiliki arti dalam penghidupannya tapi malah melakukan kejahatan, mengingat betapa besarnya jumlah mereka dalam komunitas.  Ribuan anak-anak tumbuh besar sebelum mata kita mengabaikannya  dan menjadi kebiasaan  buruk karena secara tidak langsung kita telah memasok penjahat terlatih ke generasi selanjutnya. Di dalam negara yang membanggakan perkembangan yang cepat di dalam kekayaan, perdagangannya yang besar, dan manufaktur hebat, dengan keterampilan mekanik, pengetahuan sains dan peradaban tingginya.

Dalam kehidupan sosial ada sebuah istilah tidak beradab ( barbar). Kita mengaku cinta keadilan. dan hukum melindungi orang kaya dan orang miskin.  namun kita membayar uang denda dalam  sebuah hukuman, dan membuatnya langkah pertama untuk mendapatkan harga keadilan yang  mahal. kasus seorang tidak beradab dalam keadilan, adalah penyangkalan keadilan bagi orang miskin. Sekali lagi hukum membuat hal itu menjadi mungkin. ………………………………

(terjemahan bebas, The Malay archipelago, halaman 457 – 458 )

Pada bab terakhir Wallace mulai membicarakan tentang manusia, sejenis kritik yang dituliskan Wallace pada pemerintah Inggris, atau negara Eropa tempat ia berasal. Orang barat mengatakan bahwa manusia dari suku-suku terpencil, daerah-daerah yang jauh dari peradaban adalah orang yang barbar atau kurang beradab. Disinilah kemudian Wallace mempertanyakan tentang kata “barbar” atau arti dari “orang beradab”

Perjalanannya di menjelajahi kepulauan nusantara, dan pertemuannya dengan para suku-suku asing,  telah mengubah sudut pandangnya atas “label kaum tidak beradab” yang disematkan sebagai julukan para suku-suku itu.

Such cases have happened through the operation of the law of inheritance of landed property, and that such unnatural injustice of possible among us. shows that we are in a state of social barbarism. One more example to justify my use of the term, and i  have done. we permit absolute possession of the soil of our country, with no legal rights of existence on the soil to the vast majority who do not posses it. a great land holder may legally convert his whole property into a forest or a hunting ground, and expel every human being who has hitherto lived upon it. In a thickly-populated country like England. where every acre has its owner and its occupier, this is a power of legally destroying his fellow creatures; and that such a powe should exist, and be exercised by individuals, in however small degree indicates that, as regards true social science, we are still in state of barbarism. (Alfred Russel Wallace, The Malay archipelago)

 

#cerita3