Horor CPR Massal Pesta Halloween di Itaewon

Malam Pesta Halloween di Itaewon harusnya menjadi pesta kostum penuh kegembiraan bagi para pengunjung, setelah berakhirnya pembatasan karena Pandemi Covid-19 terjadi ledakan pengunjung di Pesta Halloween Itaewon. Menjelang malam yang semakin larut tiba-tiba kejadian Horor nyata terjadi di Itaewon, semua orang masih kebingungan dan memproses kejadian yang sedang terjadi. Petugas pemadam kebakaran, polisi, para medis, orang-orang yang ada di Itaewon melakukan PCR massal untuk menyelamatkan jiwa para pengunjung pesta Halloween yang terjebak karena stampede.

Salah satu manfaat dan teknologi internet adalah kita dengan mudah mendapatkan informasi mengenai suatu peristiwa yang terjadi di luar negeri. Kira-kira sekitar hampir pukul dua belas malam, sebelum tidur saya mengecek smartphone dan melihat trending di Twitter. Kata kunci “Itaewon” muncul di trending dan karena penasaran saya mengklik dan melihat sekilas info yang berkaitan dengan viralnya kata kunci tersebut. Awalnya saya tidak penasaran tapi setelah melihat tweet beberapa jurnalis asing tentang Insiden yang terjadi di Malam Pesta Halloween di Itaewon. Ada beberapa postingan video  tentang situasi buruk yang terjadi di sana, sangat mengerikan dimana di beberapa potongan video hanya berdurasi beberapa detik dan video lain yang terpanjang sekitar 1 menit lebih. Kerumunan anak muda berdesakan untuk merayakan pesta Halloween  di lorong Itaewon yang sesak oleh lautan manusia. Polisi dan pemadam kebakaran daerah setempat (daerah Yongsan) dibantu dengan beberapa pengunjung di tempat kejadian menolong puluhan orang yang mengalami sesak napas dan henti jantung dengan melakukan pertolongan pertama berupa CPR (cardiopulmonary resuscitation).

Lewat potongan video yang tersebar di twitter saya menyaksikan betapa mengerikannya situasi yang ada di sana, orang-orang yang panik berdesakan di lorong sempit Itaewon yang dipadati oleh banyak manusia, orang-orang yang melakukan CPR, ambulance, dan mobil pemadam kebakaran, dan yang cukup menganggu adalah masih terdengar dentuman suara musik DJ yang berisik dari Club malam dan orang yang berpesta ditengah jeritan kepanikan dan ketakutan  yang terjadi saat itu. Seketika malam pesta halloween di Itaewon menjadi malam mencekam dan mengerikan di ibu kota Seoul.

Awalnya diberitakan ada sekitar 50 orang yang meninggal, saya melihat postingan jurnalis yang terus mengupdate berita terbaru yang terjadi di Itaewon. Saya bahkan menonton berita siaran langsung di Korea, dimana berita tersebut disampaikan dengan bahasa yang saya tidak mengerti, saya juga melihat berita luar negeri ramai membicarakan insiden ini. Namun semakin larut malam, jumlah korban semakin bertambah, dan lebih gilanya semakin meningkat menjadi 120 korban meninggal hingga kemudian semakin bertambah menjadi 146 korban jiwa, lalu hingga pagi menjelang korban telah mencapai 151 korban jiwa. Otoritas kesehatan setempat memperkirakan kemungkinan masih akan bertambah dimana masih ada banyak pengunjung yang mengalami luka-luka dan memar akibat  jatuh dan berhimpitan di kerumunan yang sangat padat.

Itaewon merupakan salah satu daerah yang berlokasi di Seoul, Distrik Yongsan. Daerah ini identik dengan komunitas warga negara asing dan kehidupan malam atau pesta. Daerah Itaewon terkenal sebagai daerah populer untuk turis, terdapat bar, club, cafe, restoran atau tempat wisata kuliner. Di Itaewon digelar beberapa festival salah satunya Pesta Halloween yang kembali digelar setelah dua tahun vakum akibat pandemi Covid-19.

Saya membaca beberapa komentar di kolom komentar berita tentang Itaewon di Youtube, melihat bagaimana manusia lain yang bereaksi terhadap insiden mengerikan itu. Reaksinya bermacam-macam. Ada yang prihatin, sedih dan simpati, dan adapula yang mencibir bahwa “Budaya konservatif Korea bahkan tidak merayakan Halloween,” orang-orang Amerika yang umumnya merayakan Halloween justru bingung melihat fenomena ini, melihat dari banyaknya jumlah korban yang berjatuhan pada malam Pesta Halloween yang mencekam.

Halloween dirayakan setiap tanggal 31 Oktober di berbagai belahan dunia, utamanya di Negara-negara barat, mereka memakai kostum menyeramkan, identik dengan hiasan labu dan juga ungkapan “Trick or Threat.” Pesta Halloween adalah perkembangan budaya modern yang berasal dari budaya pagan yang diperkirakan 2.000 tahun lalu berasal dari Festival Celtic di Samhain (sekarang Irlandia). Dimana perayaan pada abad pertengahan tersebut merupakan perayaan sebelum menyambut tahun baru, dalam budaya awalnya, tahun baru dirayakan pada 1 November.  Dahulu mereka percaya bahwa roh-roh dunia lain akan kembali ke bumi dan menimbulkan kerusakan, oleh karena itu bangsa Celtic membuat perayaan dengan memakai kostum kepala dan kulit hewan untuk menghalau roh-roh jahat yang datang.

Tragedi mengerikan tersebut memperlihatkan bahwa “overcrowded” bisa sangat berbahaya jika berada di luar kendali, lorong di Itaewon lebarnya hanya sekitar 5 meter dengan panjang sekitar 50 meter namun tempat begitu sempit di area perbukitan itu telah disesaki oleh jumlah pengunjung yang membludak hingga ratusan ribu pengunjung, akibatnya banyak pengunjung yang pingsan karena kekurangan oksigen atau tertekan terlalu lama sehingga tidak bisa bernapas. Sebagian besar diantaranya adalah warga Korea Selatan dan juga warga Negara asing yang datang berlibur untuk merayakan Pesta Halloween di sepanjang area hiburan malam di Itaewon dimana korban jiwa didominasi oleh anak muda pada usia 20-an. Dan yang lebih mirisnya lagi, menurut kabar miring yang beredar (belum divalidasi kebenarannya) bahwa saat pesta Halloween di Itaewon ada orang-orang yang membagikan narkoba jenis LSD dalam bentuk permen kepada para pengunjung dan sempat luput dalam pengawasan polisi yang bertugas di daerah tersebut.

Hanya menyaksikan insiden Itaewon lewat internet saja namun saya bisa merasakan kengerian dan perasaan menganggu saat menonton video yang bersileweran di twitter dan sosial media lainnya. Video yang paling membuat saya merinding adalah video yang menampilkan puluhan mayat manusia yang dijejer di tepi jalan sebelum akhirnya ditutupi oleh selimut biru dan kuning dan akhirnya diangkut oleh petugas pemadam kebakaran dan polisi setelah melakukan CPR berkali-kali. Video berikutnya adalah video detik-detik lautan manusia yang berdesakan dalam lorong sempit Itaewon, berteriak kesakitan dan terjebak keramaian, dan terancam mati lemas.

Melihat cuplikan video tindakan pertolongan pertama pada korban yaitu CPR, keahlian ini cukup memberikan sedikit harapan bagi keselamatan bagi orang-orang yang memerlukan bantuan di tempat kejadian. Saya jadi ingat kembali pada pelajaran CPR yang pernah saya dapatkan saat Sekolah Menengah dan saat kuliah, tapi sayangnya saya melupakan pelajaran ini, karena saya mengharapkan hal buruk tidak pernah terjadi, tapi setelah menonton berita tentang Itaewon saya jadi belajar bahwa saya harus kembali mengingat pelajaran CPR yang terlupa.

CPR adalah singkatan dari Cardiopulmonary Resusciation atau di Indonesia dikenal dengan istilan RJP (Resustansi Jantung Paru) merupakan prosedur penyelamatan pertama darurat ketika terjadi henti jantung. Pertolongan pertama ini untuk menjaga kemampuan bernapas dan aliran darah tetap aktif, sambil menunggu datangnya para medis yang akan memberikan penanganan lebih lanjut. Terhentinya pernapasan atau aliran darah memicu kerusakan otak yang mengakibatkan kematian dalam hitungan 8-10 menit. CPR dapat dilakukan oleh semua orang yang sudah terlatih.

Menurut situs alodokter.com, sebelum memberikan PCR ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu  :

1. Periksa keamanan lokasi sekitar

Pastikan lokasi dan lingkungan di sekitar orang yang tidak sadarkan diri tersebut aman. Misalnya, jika korban ditemukan di tengah jalan, lakukan evakuasi korban ke tempat yang lebih aman sebelum melakukan CPR.

2. Periksa kesadaran orang yang akan ditolong

Periksa tingkat kesadaran korban dengan mencoba menanyakan namanya dengan suara yang cukup lantang atau menggoyangkan tubuhnya secara perlahan. Jika ia merespons, upayakan agar korban tetap sadarkan diri hingga bantuan tiba. Namun, tetap periksa pernapasan, denyut nadi, dan tingkat responsnya.

3. Evaluasi pernapasan

Pastikan korban masih bernapas secara normal dengan melihat apakah dadanya bergerak naik-turun. Selanjutnya, dekatkan telinga Anda ke mulut dan hidung korban untuk mendengar suara napas dan merasakan embusan napasnya di pipi Anda.

4. Periksa Nadi

Pastikan jantung korban tetap berdetak dengan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya atau memeriksa denyut nadi di bagian sisi lehernya.

5. Panggil bantuan medis

Jika orang yang hendak ditolong tidak menunjukkan respons atau tidak sadarkan diri, segera hubungi tenaga medis atau rumah sakit terdekat dan lakukan CPR hingga bantuan datang.

Teknik ini terbagi menjadi tiga tahapan yang dikenal dengan istilah C-A-B (compressionairwaysbreathing).

Dilansir dari website cpr.heart.org, ada dua langkah umum yang dilakukan dalam CPR, yaitu :

  1. Untuk Petugas kesehatan dan mereka yang terlatih: CPR konvensional menggunakan kompresi dada dan pernapasan mulut-ke-mulut dengan rasio 30:2 kompresi-ke-napas. Pada korban dewasa serangan jantung, penolong melakukan kompresi dada dengan kecepatan 100 hingga 120/menit dan hingga kedalaman minimal 2 inci (5 cm) untuk rata-rata orang dewasa, sambil menghindari kedalaman kompresi dada yang berlebihan ( lebih besar dari 2,4 inci [6 cm]).
  • Untuk masyarakat umum yang menyaksikan orang dewasa tiba-tiba pingsan: dilakukan CPR kompresi saja, atau CPR Tangan.  Hands-Only CPR adalah CPR tanpa nafas dari mulut ke mulut, hanya dengan menggunakan tangan, dorong keras dan cepat di tengah dada. Direkomendasikan untuk digunakan oleh orang yang melihat remaja atau orang dewasa tiba-tiba pingsan di luar rumah sakit (seperti di rumah, di tempat kerja, atau di taman).

CPR Kompresi (compression)

Bila korban tidak sadarkan diri dan denyut jantungnya tidak terdeteksi, langkah awal CPR dapat dilakukan dengan tindakan kompresi dada. Berikut ini adalah cara melakukannya:

  • Baringkan tubuh korban di atas permukaan yang keras dan datar, lalu posisikan diri Anda berlutut di samping leher dan bahu korban.
  • Letakkan satu telapak tangan Anda di bagian tengah dada pasien, jika wanita tepatnya di antara payudara.
  • Posisikan telapak tangan Anda yang lain di atas tangan pertama. Pastikan posisi siku Anda lurus dan bahu berada tepat di atas tangan Anda.
  • Tekan dada korban setidaknya 100–120 kali per menit, dengan kecepatan 1–2 tekanan per detik.
  • Saat menekan, gunakan kekuatan tubuh bagian atas. Jangan hanya mengandalkan kekuatan lengan agar tekanan yang dihasilkan lebih kuat.

Cek apakah terlihat tanda-tanda pasien bernapas atau menunjukkan respons.

Jika belum, Anda bisa melanjutkan proses kompresi dada hingga tenaga medis datang atau mulai mencoba membuka jalur napas korban untuk memberikan napas buatan.

Tahap ini biasanya dilakukan setelah tindakan kompresi. CPR yang dilakukan oleh Petugas kesehatan dan mereka yang terlatih dimana dilakukan CPR konvensional menggunakan kompresi dada dan pernapasan mulut-ke-mulut.

Tahap membuka jalur napas (airways)

Untuk membuka jalur napas korban, Anda bisa mencoba untuk mendongakkan kepalanya, kemudian letakkan tangan Anda di dahinya. Selanjutnya, angkat dagu pasien secara perlahan untuk membuka saluran napas.

Tahap pemberian napas buatan dari mulut ke mulut (breathing)

Setelah mengamankan saluran pernapasan korban, Anda bisa mulai memberikan napas buatan. Namun, langkah ini hanya dilakukan apabila Anda sudah terlatih.

Pemberian napas buatan bisa dilakukan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung, terutama jika mulut terluka parah atau tidak bisa dibuka. Cara memberikan napas buatan adalah sebagai berikut:

  • Jepit hidung korban, lalu tempatkan mulut Anda ke mulutnya.
  • Berikan napas atau udara dari mulut Anda sebanyak 2 kali sambil melihat apakah bagian dadanya terangkat seperti orang bernapas atau belum. Jika belum, coba perbaiki posisi lehernya atau periksa kembali apakah terdapat sumbatan pada jalan napasnya.
  • Ulangi proses kompresi dada sebanyak 30 kali yang diikuti oleh 2 kali pemberian napas buatan.

PCR massal yang terjadi di Itaewon pada malam pesta Halloween adalah kebanyakan dilakukan dengan CPR tangan, karena banyak masyarakat umum atau pengunjung yang ikut memberikan bantuan CPR tangan untuk menyelamatkan nyawa pengunjung lain yang tengah sekarat. Saya menyadari bahwa respon cepat dalam penangan pertama pada kondisi darurat sungguh sangat berharga. Petugas pemadam kebakaran, polisi, dan semua orang-orang yang melakukan tindakan CPR di Itaewon telah berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa banyak orang dalam kondisi berbahaya.

Kejadian mengerikan yang terjadi pada tanggal 29 Oktober tahun 2022 di Itaewon mengingatkan pada insiden Stampede yang juga terjadi pada 1 Oktober tahun 2022 di Stadion sepak bola Kajuruhan Malang, Jawa Timur yang menewaskan sekitar 131 korban jiwa. Setelah melewati pembatasan aktivitas keramaian selama pandemi Covid-19, manusia memang memiliki semangat yang tinggi untuk berkumpul. Namun yang menyedihkan dan mengerikan pada dua insiden tersebut adalah orang-orang tidak meninggal sesak napas karena virus melainkan karena sesak dan terhimpit, terinjak-injak, dan akhirnya henti jantung akibat berdesak-desakan. Saya tidak menduga bahwa hal seperti ini terjadi di abad 21.

Dilansir dari world.kbs.co.kr, Pemerintah Korea Selatan menetapkan periode tujuh hari mulai hari Minggu (30/10) sebagai masa berkabung nasional atas insiden saling injak yang menewaskan setidaknya 151 orang dalam perayaan Halloween di Seoul pada Sabtu (29/10) malam. Perdana Menteri Han Duck-soo mengumumkan penetapan tersebut pada hari Minggu (30/10) setelah rapat tanggapan darurat yang dipimpin oleh Presiden Yoon Suk Yeol pada pukul 10.00 pagi. Perdana Menteri Han mengatakan bahwa pemerintah juga menetapkan distrik Yongsan sebagai zona bencana khusus, berjanji untuk memberikan bantuan keuangan dan bantuan yang diperlukan bagi keluarga korban meninggal dunia dan luka-luka.

Berita duka untuk para keluarga korban dan orang-orang yang terdampak pada kejadian mengerikan ini khususnya kehilangan bagi orangtua dan orang-orang yang disayangi, Peristiwa mengerikan di bulan Oktober baik pada kejadian Stadiun Kajuruhan dan Itaewon telah menunjukkan ada banyaknya pelajaran yang perlu dipetik dalam peristiwa buruk ini.

Setelah melewati pandemi Covid-19, manusia tetap harus berusaha untuk bertahan hidup. Kematian tidak hanya disebabkan oleh virus, tetapi kematian bisa disebabkan oleh banyak hal. Tetap waspada dan berhati-hati, jangan sampai terluka di tengah kerumunan. Bersyukur dengan kehidupan yang berharga yang sedang dijalani dan jangan sampai terluka di tengah kerumunan. Tetaplah bernapas.

Referensi :

Goyal, et al. NCBI Bookshelf (2020). Cardiopulmonary Resuscitation.
American Heart Association (2019). What is CPR?
American Red Cross. CPR Steps.
National Health Service UK (2018). Health A to Z. First Aid.
National Institute of Health (2020). U.S. National Library of Medicine MedlinePlus. CPR.
Victoria State Government of Australia (2019). Betterhealth Channel. Cardiopulmonary resuscitation (CPR).
Mayo Clinic (2018). First Aid. Cardiopulmonary resuscitation (CPR).
Sciammarella, J. Emedicine Health (2020). Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
Hepler, L. Healthline (2018). Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
WebMD (2020). Hands-Only CPR for Adults.

https://www.alodokter.com/pelajari-cpr-untuk-selamatkan-nyawa-seseorang

https://cpr.heart.org/en/resources/what-is-cpr

https://www.history.com/topics/holidays/samhain

https://twitter.com

https://voicesofwinchester.org/1832/spotlight/history-of-halloween-costumes/

http://world.kbs.co.kr/service/news_view.htm?lang=i&Seq_Code=68606

Advertisement

Suara Alarm di Bulan Agustus pt 2

Jujur saja saya tidak merayakan ulang tahun (baca suara alarm di Bulan Agustus)

Namun ucapan ulang tahun masih saya terima, ucapan dari orang-orang baik yang mengucapkan kata-kata ucapan dan doa yang baik pula, membanjiri sosial media, di dinding facebook, di beranda instagram, dan juga what’s up.

Beberapa tahun terakhir ini, ulang tahun menjadi moment pengingat untuk saya, seperti sebuah alarm yang berbunyi tiap tahunnya bahwa saya sudah hidup di planet bumi ini, pada usia kesekian.

Yang menjadi kejutan kemudian adalah moment yang hanya terjadi sekali dalam setahun itu menjadi begitu sangat essential  tahun ini. Setidaknya menurut saya pribadi.

Mama saya menelpon, lalu mengucapkan selamat ulang tahun, lalu kemudian menanyakan kabar remeh temeh lainnya, apakah saya sudah makan, saya sudah shalat, ataukah tentang kondisi kesehatan saya.

Sejak setahun saya sudah tidak tinggal di rumah orangtua lagi, dan sekarang harus hidup mandiri jauh dari keluarga di kota asing yang kini menjadi tempat saya berada.

Namun adanya kehadiran jarak  tersebut membuat saya menyadari bahwa jarak yang jauh dari keluarga membuat saya jadi lebih mengenal kemampuan diri sendiri, dan mengenal  rindu, rindu yang mengajarkan kita bahwa rasa kasih sayang itu bisa tercipta dari hal-hal sederhana atau hal-hal sepeleh yang kadang kita lupakan.

Jarak ialah panjang lintasan yang sesungguhnya yang ditempuh oleh suatu benda dalam waktu tertentu.

Jarak tidak bergantung pada arah,

sehingga jarak termasuk besaran

skalar.

Oleh karena itu jarak selalu memiliki tanda positif.

#cerita12

Sejarah Pendidikan, dari sudut pandang Levi

Dalam mempelajari pendidikan seseorang, kita perlu memahami kehidupan sosial, politik, dan agama mereka. Kadang kita juga perlu mengetahui geografi dan sejarah negara mereka. – Levi Seeley

Pada tahun 1899, Levy Seeley menuliskan sebuah buku yang berjudul History of Education, entah mengapa saya membaca buku ini, mungkin karena ada label history pada judul buku, yang kemudian membuat saya penasaran.

Levi, mengatakan bahwa bangsa Persia secara geografis negaranya dikelilingi oleh musuh, sehingga membutuhkan pendidikan belah diri untuk persiapan defensif dan ofensif, oleh karena itu akhirnya pendidikan fisik (olahraga) sangat dominan di kalangan orang spartan.

Levi merupakan penulis yang berasal dari Amerika, berdasarkan latar belakangnya isi buku ini memiliki porsi yang besar tentang pendidikan di Eropa, serta pengaruh dari para pemikir-pemikir eropa, atau hal-hal terkait pendidikan Kristen, Yahudi, dan pendidikan barat.

History of education diterbitkan pada tahun 1899 oleh penerbit American book company, New York, jika didasarkan atas tahun terbitnya dan jika dibandingkan dengan era digital saat ini, sejarah yang dibahas sebenarnya cukup terbatas.

Pada sebagian pola pendidikan bangsa tersebut, Levi memberikan kritik serta menunjukkan hal-hal yang menyangkut dalam kekurangan dan kelebihan suatu pola pendidikan yang sedang ia bahas.

Seperti misalnya saat ia mengkritik pola pendidikan orang china di masa lampau, bahwa pola pendidikan China tidak menumbuhkan minat melampaui batas, dan literaturnya hanya terbatas dalam literatur china klasik, pendidikan menumpuk daya ingat, dan mengabaikan kekuatan pikiran, pendidikan diperoleh dari rasa takut.

Atau kritik terhadap pola pendidikan India di masa lampau, dimana pendidikan berdasarkan sistem kasta, namun disisi lain pola pendidikannya membuat orang menjadi suka merefleksikan diri, yang tanpa keraguan menghasilkan filosofi matematis yang mendalam.

Lalu beralih ke Pendidikan Persia, Levi menuliskan bahwa Pendidikan Persia adalah pendidikan karakter universal, saat usia 7 tahun anak diambil dari rumah, dan dididik sepenuhnya oleh negara, periode kedua saat usia 10 tahun diberi pendidika. Militer lalu berlanjut ke pendidikan untuk menjadi prajurit.

Untuk kritik pendidikan Yahudi sendiri, Levi menuliskan sanjungannya bahwa pendidikan Yahudi memberikan interpretasi intelejensia dan fungsi sekolah. Pendidikan Yahudi mengagungkan pendidikan di rumah, menuntut pengawasan anak-anak oleh orangtua. Kedisiplinan bersifat lembut dan hukuman fisik diberikan pada anak setelah berusia 11 tahun.

Beralih ke pendidikan Mesir, pendidikan mesir itu didominasi sistem kasta, pendidikannya menggunakan metode konkret setidaknya dalam menulis dan aritmatika. Pendidikan tinggi Mesir sangat terkenal, sehingga menarik perhatian cendikiawan Yunani dan Roma datang ke Mesir untuk belajar sains dan filosofi.

Levi membahas tipe-tipe pendidikan di berbagai bangsa dengan peradaban tinggi di dunia, pada bab awal dia mulai membahas pola pendidikan orang China, berlanjut dengan pola pendidikan India, Yunani, Yahudi, Roma, Eropa, Muslim, Kristen, Sistem pendidikan sekolah di negara Barat, seperti, Jerman, Perancis, Inggris sampi Amerika. Paparannya tersebut berjumlah 392 halaman.

Dari sudut pandang Levi, kita mengetahui bahwa terlihat jelas perbedaan cara pendidikan bangsa-bangsa di dunia, dan mereka tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Berdasarkan sejarahnya yang panjang, kita kemudian menyadari bahwa pendidikan modern di masa kini merupakan hasil dari modifikasi atau perbaikan dari pendidikan di masa lampau.

Di usia kanak-kanak orangtua adalah penentu pendidikan bagi anak-anaknya, di masa remaja, anak perlu bimbingan orangtua dalam menemukan hal ia sukai atau hal yang ia senang untuk mempelajarinya.

Para guru seperti, Confucius, Socrates, Augustine, Charlemagne, Luther, Bacon, cormenius, Pestalozzi, Froebel, adalah para pemikir yang berpengaruh dalam pendidikan. Sistem pendidikan modern itu merupakan hasil pertumbuhan pengalaman sistem pendidikan di masa lalu.

Pendidikan adalah proses terus menerus yang dimulai dari kelahiran, dan berhenti saat kematian. Sedangkan sekolah adalah proses edukasi yang selama priode terbatas dalam kehidupan anak di bawah bimbingan guru. Secara garis besar berdasarkan sejarahnya, sekolah adalah produk dari peradaban.

#cerita11

Patung Megalitikum Palindo

Pada perjalanan saya menuju lembah Bada di bulan Oktober, teman saya sudah berpesan bahwa saya harus menjaga kesehatan agar tidak muntah di dalam mobil.

Realitanya jalan menuju ke lembah Bada itu memang memiliki banyak sekali kelokan serta tikungan tajam dan tipikal jalan membosankan khas pegunungan dimana kiri kanan pemandangan kebanyakan hutan dan jurang dan jalan menanjak.

Untungnya kesehatan saya memang sedang fit, jadi saya bisa melewati perjalanan dengan aman.

Di Lembah Bada ini saya menjumpai Patung Palindo, sebenarnya saya hampir tidak berkunjung ke Patung megalitikum ini, karena arahan dari bos di kantor, kami harus menyelesaikan tugas kantor di lokasi itu, baru kami dizinkan pergi jalan-jalan.

Untung saja lokasi Patung Palindo tidak terlalu jauh dari sisi jalan.

Patung Palindo merupakan patung dengan ukuran sekitar 4,5 meter. Berlokasi di Lembah Bada, Lore Selatan, Sulawesi Tengah.

Lembah Bada merupakan salah satu bagian dari Taman Nasional Lore Lindu, dan masuk dalam kawasan megalitik Lore Lindu.

Keberadaannya merupakan bukti kebudayaan daerah itu pada masa lampau.

Palindo sendiri berarti ” Sang penghibur” pantas saja wajah dari patung ini begitu ceria, karena memiliki senyuman di wajahnya. Meski ia tidak tersenyum lebar, dan hanya terukir sebuah senyum simpul.

Menurut informasi patung ini adalah patung megalitikum terbesar, jadi di lokasi lain juga ada patung megalitikum namun ukurannya lebih kecil.

Patung Palindo ini cukup mirip dengan menara pisa, kemiripan yang dimaksud adalah kemiringan dalam segi posisi miring. Warga lokal menduga bahwa dulunya patung palindo ini berdiri tegak.

Patung Palindo pada awal tahun 1930, di depannya berpose tiga orang Belanda, masih banyak semak-semak dan tumbuhan hijau lain di sekitarnya.

Patung Palindo pada Oktober tahun 2019, lihat sekelilingnya telah mengalami perubahan.

Patung ini bisa dikategorikan sebagai patung menhir karena bentuknya menyerupai menhir, berbentuk silinder, dengan pahatan wajah sederhana, dan tubuh tanpa kaki, di bagian bawah terpampang jelas bentuk jenis kemaluannya, berdasarkan bentuknya, patung Palindo sendiri adalah seorang laki-laki.

Pada tahun 1909, Albertus Christiaan Kruyt seorang etnografer sekaligus misionaris asal Belanda menulis artikel bertema antroplogis dan arkeologis berjudul “Het Landschap Bada in Midden Celebes” yang membahas tentang megalitik di Lembah Bada.

Pada abad ke-19, dimulai penjelahan orang eropa ke Sulawesi Tengah, beberapa penjelajah yang terkenal tersebut diantara dua misionaris Belanda, Kruyt dan Nicolaus Adriani, disusul oleh dua naturalis Swiss, Paul dan Fritz Sarasin.

Kedatangan misionaris eropa tersebut di masa lampau memberikan pengaruh yang besar di Sulawesi, dimana sebagian besar penduduk di Poso dan Toraja hingga sekarang merupakan penganut Kristiani.

Lembah Bada pada tahun 1912.

Lembah Bada di tahun 2019

James Hutton : Lelaki Penemu waktu

James Hutton (1726 – 1797) nama yang selalu disebut-disebut dalam literatur kuliah saya. Dia berasal dari Skotlandia.

Semua terlihat biasa saja seperti dalam buku-buku literatur kuliah, seorang ahli menjelaskan tentang riset yang telah dilakukannya untuk membuktikan sebuah teori.

Dia seorang naturalis, ia meneliti tentang batuan-batuan di permukaan bumi, dan meneliti alam, yang menjadi kejutannya kemudian saya membaca biografinya menemukan info bahwa ternyata dulunya Hutton adalah seorang dokter, dan ia juga mempelajari hukum.

Di masa kini, para orang tua, atau orang dewasa selalu berasumsi bahwa seseorang di lintas jurusan tak bisa melakukan hal-hal yang bukan jurusan awalnya.

Ya demikianlah muncul istilah salah jurusan, mungkin kita punya kenalan, atau keluarga yang memiliki kesukaan berbeda dibandingkan jurusannya, kuliah ekonomi tapi suka menulis, kuliah pertanian tapi suka melukis, kuliah teknik tapi jadi jurnalis.

Tapi sepertinya hal itu bukanlah masalah, dengan catatan kita bisa mempertanggungjawabkan kesukaan kita itu.

Demikianlah juga yang terjadi pada Hutton, awalnya kuliah kedokteran, jadi dokter tapi justru lebih dikenal dunia sebagai naturalis, ahli bumi.

Tahun 1785, ia menulis Buku berjudul Theory of the Earth, ia menuliskan tentang lapisan bumi, dan juga pembentukan bagian-bagian permukaan bumi. Bahkan ia menyinggung tentang seleksi alam dan makhluk hidup.

Lalu buku ini dibaca oleh Charles Lyell dan Darwin, menginspirasi Darwin untuk melalukan penjelajahan dengan kapal H. M.S Beagle Inggris tahun 1831-1836 dan bertahun-tshun kemudian ia mengembangkan Teori Evolusi yang terkenal dan kontroversial itu, dan menuliskan ide-idenya dalam Buku Origin of species, by means of natural selection, pada tahun 1859.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, adanya penemuan-penemuan baru, kemudian meruntuhkan teori Darwin,

Catatan Fosil yang tersingkap di muka bumi seolah berbisik kepada Darwin bahwa “Saya tidak berevolusi, saya tetap sama seperti dulu.”

Dan juga genetika monyet meskipun nyaris sama dengan manusia, pada kenyataannya memang berbeda. DNA monyet diciptakan memang untuk monyet, begitupun dengan manusia.

Pada kenyataannya yang menjadi pertanyaan siapa yang menciptakan DNA itu, jika tidak berubah? siapa yang menciptakan semua benda-benda di muka bumi ini, manusia, tumbuhan, hewan, siapa yang menggerakkan semua proses rumit ini? secara mekanis begitu tercipta dengan sempurna dan teratur?

Dan begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan dan alam, semesta.

Kalau singkat dan jelasnya maka kita akan menjawab : “Tuhan”,

“Tuhan” Bagi yang mempercayai Tuhan,

Dan bagi yang tidak mempercayai Tuhan, ia akan terus mencari-cari jawaban yang sesuai dengan pemikirannya.

Masalahnya adalah kebanyakan ilmuwan yang menyingkap suatu penemuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang tak mempercayai Tuhan, atau dulu ia pernah percaya, tapi kemudian memilih untuk melupakan, ataukah pernah kecewa terhadap manusia, kemudian mengalihkannya kekecewaannya pada Tuhan.

Saat saya sekolah, teori evolusi sudah di hapuskan di buku-buku pelajaran sekolah menengah, tapi saya bisa mendapatkan jejak teori evolusi dalam buku pelajaran lama milik kakak saya, (dimana rentang umur kami berjarak 10 tahun).

Nenek moyang manusia adalah monyet, sangat luar biasa, tapi juga menggelikan, mahkluk hidup berevolusi untuk mempertahankan diri. Evolusi lahir dari seleksi alam,

Teori Seleksi alam mengatakan bahwa yang terkuatlah yang akan bertahan, kalau ini agak masuk akal juga,

Saya melihat ilustrasi homo erectus, dan kemudian melihat perkembangannya menjadi homo sapiens.

Saya kemudian menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu memang dinamis, apa yang dipercaya orang-orang di masa lalu mungkin akan berbeda dengan apa yang dipercayai oleh orang-orang di masa depan

Ini berarti kepercayaan adalah suatu hal yang perlu dijaga, selama kau percaya, hal itu akan selalu ada, dan jika keraguan itu ada maka semuanya perlahan akan terhapus dari kepercayaanmu.

Demikianlah pembahasan tentang Darwin, Darwin ibaratnya seperti penyanyi rock terkenal, dia punya banyak fanboy garis keras, bedanya fans Darwin itu bukan fans biasa tapi kebanyakan ilmuwan. Sekarang bahkan kita masih mendengar adanya istilah Neo-Darwinisme.

Dari Darwin mari Kembali lagi ke James Hutton, padahal pada awalnya saya mau bahas Bapak James Hutton, tapi malah melipir jauh ke Darwin.

Nature, everywhere the most amazingly and outstandingly remarkable producer of living bodies, being most carefully arranged according to physical, mechanical, and chemical laws, does not give even the smallest hint of its extraordinary and tireless workings and quite clearly points to its work as being alone worthy of a benign and omnipotent God; and it carries this bright quality in all of its traces, in that, just as all of its general mechanisms rejoice, so also do all of their various smallest component parts rejoice in the depth of wisdom, in the height of perfection, and in the lofty arrangement of forms and qualities, which lie far beyond every investigation of the human mind. – James Hutton-

#cerita5

Referensi :