Ketika Abrasi dan Sedimentasi Menghampiri Pesisir Kota Makassar

Screenshot_20190414_020130

Pada Desember 2018 banjir rob kembali terjadi di Jakarta, kendaraan yang terendam air pasang, saat melintas di Jalan Muara Baru Jakarta Selatan.

Saya pertama kali mendengar istilah banjir rob saat tahun pertama di universitas, istilah itu disebutkan oleh dosen saya pada mata kuliah pendahuluan.

Saya berkuliah di Kota Makassar, sebuah kota yang menjadi pusat paling terang di seluruh pulau Sulawesi setelah daerah tambang nikel (Sorowako). Lalu saya terpikirkan oleh Kota Jakarta, Jakarta adalah kota paling terang di seluruh pulau yang ada Indonesia.

images (1)

(Penampakan Indonesia pada malam hari, sumber gambar NASA)

Dosen saya menyatakan banjir rob pernah terjadi di Jakarta, beliau lalu menjelaskan bahwa banjir itu disebabkan oleh air pasang laut yang menggenangi daratan. Sebuah pengetahuan baru bagi saya kala itu bahwa banjir tak hanya disebabkan oleh hujan deras dan tersumbatnya saluran-saluran tapi juga bisa diakibatkan oleh air laut.

Kehadiran banjir rob pada wilayah perkotaan dekat pesisir semakin diperparah dengan turunnya muka air tanah, tentunya bisa diperkirakan karena hal tersebut dampak banjir rob bisa semakin parah.

Catatan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Jakarta mengalami penurunan muka tanah 5-12 cm per tahun. Jika laju penurunan muka tanah di Jakarta terus berlangsung, Jakarta akan semakin rentan tergenang air pasang dan banjir.

Beberapa hal yang bisa menyebabkan turunnya muka air tanah di kota-kota besar yaitu, adanya faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yaitu bisa ditinjau dari kondisi daerah tersebut tersusun oleh tanah atau batuan yang memang bersifat lunak. Dari kombinasi faktor alam semakin diperparah dengan faktor manusia, seperti pengambilan air tanah yang secara berlebihan dan pembebanan berlebihan pada permukaan tanah, (banyaknya pembangunan gedung-gedung tinggi atau infrastruktur berat lainnya di daerah perkotaan)

Saat ini saya semakin menyadari bahwa manusia kadang melupakan lingkungannya, atau bahkan tak mengenal dirinya sendiri, sehingga kadang ia melakukan hal yang terasa tak pernah cukup untuknya.

Sisi lain dari dampak positif perkembangan pembangunan tentunya harus selalu berdampingan dengan lestarinya suatu lingkungan, suatu tantangan bahwa disetiap kemajuan manusia harus tetap menoleh ke alam dan lingkungan sekitarnya.

Prediksi para ahli melihat bahwa adanya kemungkinan kota Jakarta tenggelam, turunnya muka air tanah, dan karena bersebelahan dengan laut, daratannya kemudian sering tergenang.

Jakarta sebagai salah satu kota yang berada di pesisir atau tepian pantai, tentu tak asing lagi dengan bajir rob, saya kemudian teringat dengan daerah pesisir Mariso, yang bersebelahan langsung dengan selat Makassar tentu termasuk juga dalam daerah yang rentan terhadap kehadiran banjir rob.

Jika hal tersebut telah terjadi di Jakarta lalu bagaimana dengan Makassar?

Berdasarkan perubahan bentang alam Makassar sendiri yang diakibatkan oleh sifat alami alam berupa dinamika pantai telah terjadi proses sedimentasi atau ekresi (penambahan badan pantai), dan juga abrasi (pengikisan badan pantai). Selain faktor alami oleh alam itu sendiri, sifat atau aktivitas alam ini kemudian dipercepat dengan keberadaan faktor antropogenik alias aktivitas manusia berupa pembangunan atau aktivitas lain di sekitar pantai.

Screenshot_20190418_105634

(Gambar Google earth. Garis Pantai Makassar Losari dan sekitarnya tahun 2008)

Screenshot_20190418_105614

(Gambar Google earth. Garis Pantai Makassar Losari dan sekitarnya tahun 2019)

Perubahan bentang alam ini tentunya juga berpengaruh pada lingkungan sekitar misalnya yang terjadi pada pulau-pulau kecil di sekitar Selat Makassar. Ketika warga Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang pada tahun 2017 secara swadaya mengumpulkan dana dan membuat sendiri tanggul pemecah ombaknya untuk mencegah terjadinya abrasi.

Untuk wilayah Makassar sendiri, telah terjadi abrasi yang ditunjukkan oleh semakin bergesernya garis pantai di sekitar Pantai Tanjung Layar Putih Makassar, ketika tugu layar putih perlahan semakin bergeser dan mulai terendam air laut, padahal dahulu tugu tersebut dibangun pada daerah daratan.

IMG_20190418_112325

Kehadiran abrasi selalu sejalan dengan sedimentasi. Jika ada bagian yang terabrasi maka yang lain mengalami sedimentasi. Upaya untuk menghadapi sifat pantai tersebut dengan membangun bangunan breakwater, groin, jetty, dan timbunan pantai.

IMG_20190418_113125

Sepertinya memang kondisi Pantai Makassar sendiri masih belum terlalu berdampak parah, belum mengalami banjir rob yang mulai menimbulkan kekhawatiran seperti di Pesisir Kota Jakarta, setidaknya untuk saat ini, karena disisi lain bahwa Kota Makassar masih belum semaju Kota Jakarta.

Referensi

https://metro.tempo.co/read/895343/penyebab-permukaan-tanah-di-jakarta-turun-12-cm-per-tahun

https://nationalgeographic.grid.id/read/13931978/penurunan-permukaan-tanah-jakarta-utara-tenggelam-32-tahun-lagi

Mengikis Abai dan Pembiaran

Apa yang kamu lakukan jika melihat seseorang membuang sampah sembarangan?

Apakah membiarkannya? atau menegurnya. Beberapa orang mungkin akan menjawab dengan jawaban yang berbeda.

Ada yang menjawab membiarkannya, karena hal yang kerap dianggap sepeleh ini menjadi suatu kebiasaan yang terus mengakar dalam masyarakat. Terus mengamini bahwa orang Indonesia memang kebiasaannya buang sampah sembarangan.

Ada juga yang menjawab, akan menegur orang itu (atau hanya sebatas lisan saja, tak benar-benar dilakukan).

Untuk diriku sendiri, jujur awalnya saya membiarkannya. Memilih diam karena dalam hati toh, orang itu sebenarnya merugikan dirinya sendiri, (seperti jawaban pertama) meski sebenarnya itu tentu saja juga merugikan orang lain.

Hal Itu bertahan cukup lama, lalu seiring betambahnya usia akhirnya timbul perasaan aneh terlintas dalam benak karena adanya rasa bersalah dan kesal sendiri, karena melakukan pembiaran.

Sampai akhirnya mencapai titik kesadaran bahwa sudah saatnya untuk mengakhiri pembiaran, menghentikan sesuatu yang tidak benar di depan mata, mengakhiri hal-hal yang bisa merugikan orang lain atau diri sendiri. memilih untuk menegur.

Ya, yang terjadi kemudian saya memilih untuk memberikan teguran, ketika berada di tempat umum, ketika bersama keluarga,  teman atau saat berada di jalananan umum atau saat berada area fasilitas publik, ketika tidak sengaja melihat orang membuang sampah sembarangan.

Bukan hal mudah untuk menegur seseorang, karena respon pihak yang menerima teguran tentu memberikan reaksi yang berbeda-beda.

Ada orang yang marah (meski saya telah memberikan teguran dengan bahasa yang halus, dengan tingkat kesopanan  tinggi agar tidak menyinggung perasaan), ada yang merasah malu, ada yang mengindar atau pura-pura tidak mendengar, ada yang mencibir, dan demikianlah beragamnya setiap respon berbeda yang saya terima, seperti beragamnya rupa dan pikiran manusia.

Tentu pernah ada juga rasa gentar, dan bisikan untuk membiarkan perbuatan membuang sampah begitu saja. Ya hal terberat adalah menegur bukan hanya kepada orang lain. Tapi juga sebagai bentuk teguran kepada diri sendiri.

Ini bukan hanya berlaku pada kebiasaan membuang sampah sembarangan, tapi berlaku juga pada semua kebiaasaan buruk yang mungkin saja terjadi di depan mata kita. Tindakan nepotisme halus, menyerobot antrean, bully, ujaran kebencian/ komentar buruk di media sosial dan banyak hal lainnya.

Seseorang yang menegur, kadang dianggap bersaudara dengan tindakan orang yang terlalu banyak ikut campur, dan hal ini dianggap tidak baik, merepotkan, dan kadang mendatangkan masalah.

Ada suatu kisah dalam suatu Film, dua remaja laki-laki yang bersahabat. Menjelang sekolah menengah, suatu saat persahatan kedua anak ini menjadi renggang. Salah satu dari mereka mendapat perlakuan buruk di sekolah, anak yang satunya dibully sedangkan temannya yang satu tetap menjalani kehidupannya dengan damai. Saat melihat temannya ditindas si anak yang hidup damai itu membiarkn temannya, dan pura-pura tidak mengenalnya, ia khawatir jika ia ketahuan bersahabat dengan si anak yang ditindas, ia juga akan mendapat nasib yang sama. Istilahnya “Cari aman.”

Ya ikut campur maupun pembiaran bukan hal yang mudah untuk dilakukan, setiap tindakn yang dilakukan akan menghasilkan reaksi setelahnya.

Saya pernah ikut sebuah kegiatan, dan pemateri dalam kegiatan tersebut bercerita apakah respon yang kita lakukan jika kita melintas dan melihat segerombolan anak SMA merokok, (dimana seharusnya pelajar itu tidak merokok) duduk di motor dengan kawan-kawannya tampak mengobrol dengan serunya, dan ternyata salah satu remaja itu adalah anak tetanggamu. Sebagai orang dewasa yang melintas di depan anak-anak remaja itu, dan melihat seseorang yang kamu kenal, apakah pilihan yang akan kamu ambil?
Membiarkan kelakuan anak-anak remaja itu dan berlalu begitu saja? mengabaikannya atau menegurnya?

Berani menegur orang lain, berarti berlaku untuk diri sendiri. Seperti jarum kompas yang menunjuk ke arah Utara, jarum kompas itu juga akan menunjuk ke arah sebaliknya, menunjuk ke Selatan, seperti bentuk telunjuk yang mengarah pada orang lain arah sebaliknya juga akan berbalik kepadamu, berbalik pada batang hidungmu sendiri.

Akhir-akhir ini saya mulai memikirkan hal-hal ini, melakukan pembiaran atau menegur ketika melihat sesuatu yang mengusik hati nurani saya.

Ueki Mengubah Sampah Menjadi Pohon

Jika ingin memiliki kemampuan manusia super, kala itu saya ingin memilih kemampuan seperti Ueki,  kemampuannya yaitu mengubah sampah   menjadi pohon.

Screenshot_20190331_231756

Saya memiliki pengalaman di tahun 2018 ketika sampah di depan rumah sudah dua hari tidak diangkut,  masalahnya adalah penghuni rumah keluar pada pagi hari  dan tidak ada  orang di rumah hingga sore. Petugas sampah datang pada pukul 09.00 pagi,  saat semua orang sudah tidak ada di rumah,  jeniusnya lagi sampah disimpan di dalam pagar tinggi yang tergembok,  sedangkan sampah dalam kantong sampah berwarna hitam sudah demikian gemuk dan beraroma menyengat.  Saya tidak menaruh sampah di luar pagar karena mewaspadai hewan seperti anjing, kucing,  atau tikus got membongkar sampah.

Tetanggapun menyarankan agar kami menggantung kantongan sampah di pagar,  dan benar saja,  saat pulang ke rumah, kantongan sampah sudah tidak ada.  Petugas kebersihan sudah mengambil sampah itu.

Salah satu masalah di Perkotaan adalah sampah,  jalan lorong depan rumah kebanyakan sudah disemen, sukar menjumpai tanah coklat yang tersingkap. Demikianlah tanah telah membeku karena dilapisi semen.

Sampah jika tak segera dibuang menjadi masalah bukan hanya pada pemilik rumah tapi juga pada lingkungan tetangga.

Setelah membuang sampah ke truk sampah rasanya sangat lega,  halaman rumah jadi bersih dan terbebas dari aroma kantong sampah, maupun kehadirannya yang mengganggu pemandangan.

Saat bepergian ke tempat lain dan melewati area Antang, melintasi daerah dekat  area tempat pembuangan sampah,   saya jadi tersadar,  betapa tegarnya orang-orang tinggal di sana,  hidup berdampingan dengan aroma sampah,  makan dengan lahap meski ada aroma menyengat di sekitarnya. Lalu saya teringat,  mungkin salah satu sampah dari rumah saya juga telah bermuara di sana.

Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Antang,   dari kejauhan bukit sampah telah menjelma jadi gunung sampah.  Jika terjadi proses vulkanisme sampah,  maka apa yang akan gunung sampah itu keluarkan?  lava cair berupa sampah cair?  atau ledakan gas sampah? meski berada di tempat pembuangan akhir, bahkan problema sampah belum juga berakhir.

Saat kembali ke rumah saya kemudian makan Indomie rasa soto dan beberapa makanan ringan yang saya beli di Indomaret, dan mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.

Saya menatap kemasan makanan instan itu,  dan menatapnya sekali lagi,  plastik,  dan plastik dimana-mana.  Lalu membuang plastik-plastik itu ke tempat sampah.

Dan kemudian saya tersadarkan lagi bahwa persoalan sampah belum berhenti saat kita membuang sampah pada tempatnya (apalagi jika tidak membuang sampah pada tempatnya), ternyata masih ada persoalan lain yaitu pada muaranya, pada tempat perjalanan dimana sampah itu akhirnya berada.

Sampah yang terbuang  di tempat sampah bermuara pada tempat pembuangan akhir (TPA), menggunung dan seakan ingin meledakkan dirinya,  sampah yang bermuara pada lautan yang mencampurkan microplastik dan bahannya dilahap oleh penghuni laut, sampah yang terombang ambing di samudera yang tak kan kesepian karena berkumpul dengan sampah-sampah lain, sampah yang terbawa aliran sungai bermuara ke laut terbawa ombak lalu diantarkan kembali ke darat, sampah dari kota lain dihempaskan ombak ke daerah lain.

Apakah kita harus mengambil langkah ekstrem seperti yang terjadi di Jepang,  memilah,  sampah menjadi 9 jenis,  dan benar-benar tegas dalam membuang sampah dan kemudian diterapkan dalam setiap  pikiran dan rumah penduduk,  atau seperti Jerman, menukarkan sampah plastik pada mesin daur ulang lalu mendapatkan uang, dan juga memilah sampah menjadi beragam jenis.

Atau jika ingin sedikit delulu,  bisa juga memiliki kekuatan supranatural mengubah sampah menjadi pohon. Bisa leluasa memungut sampah, digenggam, lalu dilemparkan hingga tumbuh jadi sebatang pohon seperti kekuatan Ueki.

Jika satu saja orang atau hanya sekelompok kecil manusia yang memiliki kekuatan super seperti Ueki, saking banyaknya sampah yang telah diubah jadi pohon, kota ini mungkin mendadak menjelma menjadi Hutan Amazon.

Pada akhirnya sampah masih berada di sekitar kita, permasalahan sampah tumbuh seiring majunya suatu kota,  sebagai negara berkembang kita masih berusaha untuk terus berbenah.

 

 

 

 

Dinginnya Lukisan Cahaya di Danau Tanralili dan Lembah Loe

Pada akhir tahun 2017, ide ke Danau Tanralili dan Lembah Loe tercetus saat salah seorang teman dari Surabaya pulang ke Makassar untuk liburan. Dia adalah salah satu teman dari eskul photo saat kuliah dulu.

Bertujuan untuk refreshing dan reuni, teman-teman yang lain yang juga berasal dari eskul photo di angkatan yang sama setuju dan bersiap untuk berangkat.

Danau Tanralili

Danau Tanralili terletak di Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Waktu tempuh dari Makassar lewat jalur poros Malino hingga ke Kec. Parigi sekitar 3 jam, untuk ke daerah ini silakan gunakan kendaraan pribadi, karena kendaraan umum belum tersedia, kendaraan yang biasanya digunakan ke sana yaitu motor, meski sudah beraspal, jalanan ke basecamp lumayan sempit jadi lebih aman dan efisien menggunakan motor.

Untuk pergi ke Danau Tanralili, lapor dulu ke pos petugas yang ada di Desa Lengkese, biasanya bayar biaya registrasi (untuk biaya parkir dan keamanan, jika ada yang tersesat bisa langsung diketahui)

Di sini mulai perjalanannya dari Desa Lengkese, hiking dimulai dengan berjalan kaki selama 2 jam (tergantung kemampuan betis)

Jalur yang dilalui adalah pada awalnya datar-datar saja, sekitar 20-30 menit langsung disambut dengan pendakian dan jalan terjal berbatu, nanti dapat turunan, terus terjal lagi miring lagi, turunan lagi, begitu seterusnya sampai bosan.

Kadang jalanannya lebar, kadang sempit, kadang berbatu banget, kadang terjal kebangetan, oh iya nanti ada juga jalur yang jalanannya sempit dan berada di pinggir tebing curam, hati-hati saat berada di sana, soalnya angin lumayan kencang, dan batuan yang dipijak agak lunak.

Baiknya ke sana pada musim kemarau, agar saat hiking terhindar dari jalur dimana kaki harus berpijak pada batu licin, dan air hujan yang mungkin saja mengguyur di tengah jalan.

Bagusnya di jalur nanti akan dilalui sumber air, jadi siapkan botol air dan Nutrisari, nanti kalau nemu air dingin tinggal diracik saja dengan air yang ada di jalur. Saya paling suka duduk-duduk di pinggir tebing sambil minum air dingin, saat itu kulit wajah jadi sejuk karena disapuh dinginnya angin pegunungan.

Screenshot_20190325_225710

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Danau Tanralili, sayangnya Danau Tanralili hanya menjadi tempat persinggahan, karena tujuan utama dari team kami adalah Lembah Loe, dan berangkat ke Lembah Loe itu harus mendaki lebih tinggi lagi, dan itu berarti harus berjalan lagi ke atas.

Danau Tanralili sering dibandingkan dengan Ranu Kumbolo (mungkin karena sama-sama danau), Danau Tanralili merupakan bagian dari area Gunung Bawakaraeng.

Setelah beristirahat sejenak sambil melihat danau, perjalanan pun semakin panjang, namun harus tetap semangat sebab di atas sana ada Lembah Loe yang menanti kami.

Untuk di Danau Tanralili sendiri, tetap waspada dan hati-hati meskipun sangat indah dan rasanya ingin langsung nyebur ke dalam air kolam, sebelumnya di papan pintu masuk jalur ke Danau Tanralili sudah dipasang larangan untuk tidak berenang, (sepertinya masih ada trauma dari penduduk setempat, soalnya di danau itu pernah ada korban jiwa, ada seorang pengunjung yang mati tenggelam)

Lembah Loe

Sampai di Lembah Loe, Sudah ada kawanan sapi yang menyambut para pendaki, dan ada juga tenda dari pendaki lain.

Perlu diketahui bahwa faktanya penduduk sekitar gunung beternak sapi, dan sapi itu mereka rawat di atas gunung, agar sapinya itu makan-makanan fresh dan rumput hijau bergizi.

Akibatnya lahan yang hijau berupa lapangan yang luas di lembah Loe sebagian besar dipenuhi oleh Tesa ( Tai sapi). Jadi si sapi makan sambil defekasi feses ria di sana)

Mengabaikan kehadiran Tesa, saya lalu duduk-duduk di pinggir sungai sambil melihat tebing-tebing batu yang mengelilingi lembah, teman-teman datang bergelombang. Kami lalu mendirikan tenda di pinggir sungai, hawa di sana sangat sejuk dan dingin.

Setelah anggota lengkap, kami mendirikan tenda di pinggir sungai kecil yang letaknya memang strategis. Kami berada di sana selama dua hari, setelah itu kemudian kami pulang kembali ke Kota Makassar.

Dinginnya Lukisan Cahaya Lembah Loe

Dibandingkan dengan Danau Tanralili Lembah Loe hawanya lebih dingin, dan anginnya lebih sejuk, saat berada di sini setelah shalat dan bangun pagi-pagi rasanya sangat segar. Wudhunya pake air sungai kecil yang dinginnya kayak ditambain es batu, pas sapuin di wajahnya rasanya beku tapi segar.

Di sekitar lembah sempat jalan-jalan sebentar lihat pemandangan, di sekitar lembah ada pohon-pohon, dan saat itu seperti mendengar suara cuitan burung, dan benar saja seekor burung kecil gendut berwarna biru dan cantik bertengger di ranting pohon sambil bercuit-cuit. Matanya bulat lucu gemes banget.

Saat berada di sana, suasananya benar-benar berbeda dengan yang ada di Kota, sejenak melupakan kebisingan bunyi kendaraan, kemacetan, musik bervolume keras, suara TV, dan cahaya lampu listrik.

Dan kemudian di saat hening seperti itu, saat sebagian teman-teman tertawa dan ngobrol ngalor ngidul sepanjang hari, sebuah ingatan pun kembali.

Di masa kuliah, saat berniat untuk belajar photography lalu dipertemukan dengan orang-orang ini, mendaftar di gelombang angkatan yang sama saat eskul photo membuka penerimaan anggota baru.

Memang dulu sempat niat banget buat belajar photography, sebagai anak-anak yang suka gambar, waktu SD sering liat photo-photo keren di buku atlas dunia. Atlasnya hardcover, foto-fotonya full colour, kertasnya jenis Art Paper, licin tebal dan kualitas gambar ok. Selain peta Indonesia dan dunia, di atlas itu ada foto bentang alam, foto human, foto kebudayaan dari negara-negara di seluruh belahan dunia. Dalam hati langsung berpikir, “Ternyata dunia itu begitu indah, begitu luas dan kehidupan manusianya sangat beragam”

Nah, dari situ berlanjut sering liat-liat foto di majalah dan memperhatikan hasil fotonya yang keren banget, ditambah suka baca tulisan yang dilengkapi dengan photo ilustrasi. Foto yang diambil benar-benar hidup, seolah foto yang bercerita, terus ditambahkan narasi, dan akhirnya efek tulisannya jadi bertambah lebih hidup.

Tapi momen belajar photography untuk saya kala itu sepertinya kurang tepat, motivasi yang kurang, tumpukan tugas dan kewajiban kuliah, keaktifan di organisasi kampus yang diwajibkan (soalnya jumlah satu angkatan di jurusan saya orangnya cuman dikit, jadi merasa punya tanggungjawab besar), dan ditambah lagi saya ikut beberapa kegiatan lain juga.

Belajar photography akhirnya jadi tersisihkan secara alami, mulai dari enggak pernah ngumpul lagi dengan teman-teman, jarang praktek, jarak belajar teknik photo. Hingga waktu berlalu, teman-teman yang sama-sama daftar eskul photography kala itu sudah pada jago, sudah lincah banget jepret pake manual, ada yang juara lomba foto, ada pula yang sudah khatam banyak teknik photography.

Jadi benar kata pepatah, Apa yang kita tanam itulah nanti yang akan kita petik, sesuatu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh tentunya akan membuahkan hasil bukan?

Dan akhirnya meski tidak aktif di eskul photo, tetapi minat pada photo masih ada, sepertinya emang efek karena dari dulu suka liat gambar, dan satu hal lagi, ada sebuah kesyukuran.

Seperti dinginnya hawa lembah, tapi terasa sejuk, minat yang sama pada lukisan cahaya telah membantu saya menemukan teman-teman angkatan yang baik dan seru di eskul photo.

IMG_20170731_153826

IMG_20170731_155227

Uji Ketahanan Lutut di Gunung Bulusaraung

Gunung Bulusaraung, terletak di Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan, sekitar satu sampai dua jam perjalanan dari kota Makassar, ketinggian gunung ini sekitar 1353 meter di atas permukaan laut.

1353 mdpl? berarti enggak tinggi-tinggi amat ya?

Memang tapi…

Meskipun jarak tempuhnya pendek, gunung ini memiliki elevasi kemiringan jalur yang membuat kaki dan betis bekerja keras, utamanya sendi yang ada di lutut.

Bagi yang sudah sering mendaki, mungkin tidak masalah, tapi yang udah jarang, sebaiknya rajin-rajin jogging dulu beberapa hari sebelum ke sana, soalnya antisipasi agar enggak ngos-ngosan parah, dan ritme napas tetap aman terkendali.

Ya begitulah karena banyak tanjakan yang harus dilalui.

Saran saya, jangan membawa banyak barang, bawalah peralatan yang ringan-ringan saja namun bermanfaat.

Bagi yang belum pernah mendaki atau untuk pendaki pemula, bisa jalan-jalan ke tempat ini namun disarankan tetap ditemani oleh kawan-kawannya yang sudah biasa hiking. Kawan tersebut berupa teman yang ketahanan fisiknya kuat (tapi sempat prihatin juga karena teman kayak gini selalu menjadi objek penderita, dan seringkali orang seperti ini sepaket dengan sifat sabar, karena selain berperan sebagai leader tim perjalanan, dirinya juga akan merangkap sebagai porter dimana di pembagian team biasanya isi carriernya itu tenda dan benda berat lainnya hehe… )

Sebelum ke area pendakian, jalur yang ditempuh adalah Desa Tompo Bulu, Balocci, jalan di daerah ini “benar-benar jalur khas daerah gunung”

Untuk yang membawa motor usahakan, memakai motor yang baik, agar tidak bermasalah di tengah jalan, apalagi jika membawa carrier yang berat, jika motor bermasalah plus carrier yang berat maka perjalanan jadi terganggu.

Untuk yang menggunakan mobil, pastikan bahwa sudah terbiasa menyetir di jalan pegunungan. Jangan sampai tergelincir dan masuk jurang. Sebelum berangkat berdoa dulu, biar selamat, sehat dan bahagia.

Area pendakian Bulusaraung sendiri berada di Kawasan Konservasi Taman Nasional Bulusaraung, dekat dengan Makassar, sebagian wilayahnya itu mencakup daerah Maros dan juga Pangkajenne Kepulauan, Sulawesi Selatan.

Di luar area Taman Nasional itu juga terhampar bukit karst alias bukit kapur, di daerah tersebut dijadikan pertambangan batu gamping untuk produksi marmer dan semen. Kalau mau kepoin lebih tentang Taman Nasional Bulusaraung, bisa cari tahu di Kepoin Taman Nasional Babul

Untung saja sebagian area perbukitan gamping di sana dilindungi dan dijadikan area konservasi alias Taman Nasional.

Apa saja yang dilindungi di sana?

Habitat monyet, habitat kupu-kupu cantik, karst, tumbuhan dan masih banyak lainnya.

Jadi jika ke sana, pastikan tetap menjaga alam.

Saya ingat pertama ke sana saat saat saya SMP. Menuju ke Tompo Bulu naik truk, (saat itu ikut pelatihan pramuka).

Hari itu saya duduk di truk bersama anak-anak lain, saya merasa kami seperti segerombolan sapi dalam truk (efek baju pramuka mirip warna kulit sapi).

Tapi sayangnya dalam pelatihan tersebut area pelatihan saya hanya sampai di daerah Tompo Bulu, bukannya sampai hiking ke Bulusaraung,

Dan setelah sekian lama akhirnya saya punya kesempatan mendaki ke Bulusaraung, mulai pendakian pertama ke sana, sepertinya saat itu awal perkuliahan. Lalu kemudian mengunjungi gunung itu lagi dan lagi.

Seiring waktu, banyak perubahan yang terjadi di Tompo Bulu dan Bulusaraung, dulu waktu saya masih bocah, area Tompo Bulu hawanya terasa sangat dingin, tapi sekarang rasanya tidak sedingin dulu (apakah cuman perasaan saya kisanak?), lalu sekarang tempat pendakian lebih terkoordinir, pendaki harus melapor dulu ke pos pendakian, di area basecamp di Desa Tompo Bulu (mungkin untuk tindakan pencegahan kalau ada pendaki yang tersesat, bisa diketahui segera)

Nanti di sana akan ada petugas yang minta kamu untuk registrasi, kayaknya dikenakan biaya registrasi untuk ke sana, (dulu enggak ada, sekarang udah ada). Saya enggak pernah bayar biaya registrasi (soalnya selalu dibayarkan sama teman), tapi tenang saja biaya registrasinya enggak bakalan bikin kantong kamu bolong.

Setelah melapor, titip kendaraan dulu di rumah warga, dan langsung siap-siap go ke lokasi.

Hiking dimulai di belakang rumah warga, di dekat kebunnya, terus naik ke Pos 1, saya benar-benar merasakan perubahan yang terjadi di sana, dulu jalur ke Pos satu tidak ada tangganya, tapi saat saya mendaki terakhir di sana tahun 2018 sekarang sudah ada tangga.

Di jalur ke Pos pertama tenaga sudah dikuras, karena di awal pendaki sudah disambut oleh jalan menanjak.

“Atur napas kalian saudara-saudara”

Sumpah serapah sudah keluar kalau sendal atau sepatu membuat kaki kepeleset, apalagi kalau sudah ngos-ngosan gara-gara jalan menanjak. Jadi saran saya, daripada susah di jalan tetap utamakan safety, kalau mau hiking ya, sebaiknya pakai sendal atau sepatu gunung, kecuali buat para pendaki pro yah.. mungkin lewat jalur itu santai aja meski cuman pakai sendal swallow.

Masih bicara tentang Pos 1, memang Sekarang Pendaki dimanjakan dengan kehadiran tangga menuju pos pertama. Dulu gak ada tangganya, hanya tanah. Jadi sekali lagi berbahagialah kawan-kawan.

IMG_20170731_153826

Total Pos yang ada di gunung Bulusaraung ada 10 pos pendakian, sebenarnya aneh juga mengetik “Gunung Bulusaraung” secara dalam bahasa Bugis-Makassar, “Bulu” itu berarti gunung, kan jadi dobel nulisnya, dan akhirnya dalam tulisan ini saya putuskan untuk nulis Bulusaraung saja, daripada ribet.

Lanjut perjalanan, untuk durasi perjalanam hiking ke sana sekitar 3-5 jam, 3 jam jika berhenti cuman satu kali, dan jalannya buru-buru, kayak gaya lari-larinya Naruto.

Lima jam jika banyak singgahnya dan banyak foto-fotonya.

1 BLS

“eh ada tangga nih, rejeki anak sholeh”

Setelah itu siapkan lutut anda kawan-kawan, manjat-manjat dikit, terus hiking jalan lurus, manjat lagi, jalan lurus lagi, nanjak lagi…

Di jalur nemu bunga liar yang nempel di pohon, dijepret dulu.

7 BLS

Sempat tersangkut di Pos 8, disini spot dokumentasinya bagus banget, dari kejauhan sudah bisa hamparan pemandangan alam, disini juga ada tower besi.

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Pos 9 di Pos 9 ini area para pendaki buat bangun tenda, daerahnya juga datar, tapi enggak datar-datar amat soalnya banyak akar pohon, tapi lumayan kondusiflah. Di pos ini juga ada sumber air jadi aman, tapi sayangnya jarak sumber air lumayan jauh sekitar 15 menit jalan kaki nanti dapat sumber air, tapi jalur sumber airnya berupa turunan agak terjal, tips saat berada di Pos 9 yaitu sediakan jarigen air buat ngangkat air ke dekat tenda.

6 BLS

Menuju puncak, di puncak tringulasi Bulusaraung sudah menanti, disana ada bendara merah putih kebanggan kita.

Sebelum ke puncak amankan barang-barang-barang di tenda dulu, lalu siap-siap dan Let’s go!

Lalu 15 menit kemudian tiba di puncak, di area ini skill manjat lumayan diperlukan. Elevasinya miring-miring guys.

Yang paling seru itu duduk di pinggir tebing batu di puncak, rasanya tuh kayak ditampar angin (angin di atas sana memang lumayan kencang).

Kayak disadarkan bahwa manusia itu harusnya banyak bersyukur dalam hidup.

3 BLS

Anjing Setia

Dari pos satu ada anjing yang ngikutin saya terus, kata teman saya yang akhir-akhir ini sering mendaki di sana, anjing itu selalu ada. Saya memang sering melihat anjing itu di sana tapi anjing yang setia sampai ngikutin saya ke puncak baru pertama kali ini, masalahnya adalah penampilan si anjing, dia berkulit hitam legam, mengingatkan saya pada Sirius Black di buku Harry Potter.

Tapi karena mirip Sirius Black berarti si anjing itu awalnya keliatan jahat, tapi aslinya baik banget. Maka dari ini saya hapuskan sebuah cap negative yang saya stempelkan pada si anjing, maafkan saya Jing!

Sempat foto bareng ama si Sirius black nih.

2 BLS

Saat duduk di tebing, lalu sebuah pikiran melintas begitu saja, isinya yaitu “Manusia jangan pernah peliharain sifat sombong, karena sebenarnya dia itu bukan apa-apa, misalnya nih jika ia tergelincir sedikit aja ke tebing, rusuk dan tulang kaki manusia ini tentunya bisa patah-patah. takut jika nakal-nakal dengan merusak alam nanti bisa kenah karma.”

4 BLS

Ciri khas dari Bulusaraung kamu bisa melihat hamparan bukit-bukit hijau, bukit karst dan juga breksi gunung api.

5 BLS

Begitulah pemandangan yang ada di puncak Bulusaraung, rasanya tentu beda jika hanya melihat foto dengan melihat secara langsung dengan mata manusia ciptaan Tuhan.

Pada akhirnya manusia akan selalu merindukan alam. Meskipun betapa menyenangkan hiburan di kota, kota yang terus bersolek, kota dengan jalanan padat, lampu-lampu terang, kilau lantai Mall, ataupun aroma menyengat tempat nongki kekinian, dimana begitu banyak daya tarik kota yang menyilaukan mata, setelah hiking di area Bulusaraung, kemudian saya menyadari bahwa alam selalu punya daya tariknya tersendiri.