Patung Megalitikum Palindo

Pada perjalanan saya menuju lembah Bada di bulan Oktober, teman saya sudah berpesan bahwa saya harus menjaga kesehatan agar tidak muntah di dalam mobil.

Realitanya jalan menuju ke lembah Bada itu memang memiliki banyak sekali kelokan serta tikungan tajam dan tipikal jalan membosankan khas pegunungan dimana kiri kanan pemandangan kebanyakan hutan dan jurang dan jalan menanjak.

Untungnya kesehatan saya memang sedang fit, jadi saya bisa melewati perjalanan dengan aman.

Di Lembah Bada ini saya menjumpai Patung Palindo, sebenarnya saya hampir tidak berkunjung ke Patung megalitikum ini, karena arahan dari bos di kantor, kami harus menyelesaikan tugas kantor di lokasi itu, baru kami dizinkan pergi jalan-jalan.

Untung saja lokasi Patung Palindo tidak terlalu jauh dari sisi jalan.

Patung Palindo merupakan patung dengan ukuran sekitar 4,5 meter. Berlokasi di Lembah Bada, Lore Selatan, Sulawesi Tengah.

Lembah Bada merupakan salah satu bagian dari Taman Nasional Lore Lindu, dan masuk dalam kawasan megalitik Lore Lindu.

Keberadaannya merupakan bukti kebudayaan daerah itu pada masa lampau.

Palindo sendiri berarti ” Sang penghibur” pantas saja wajah dari patung ini begitu ceria, karena memiliki senyuman di wajahnya. Meski ia tidak tersenyum lebar, dan hanya terukir sebuah senyum simpul.

Menurut informasi patung ini adalah patung megalitikum terbesar, jadi di lokasi lain juga ada patung megalitikum namun ukurannya lebih kecil.

Patung Palindo ini cukup mirip dengan menara pisa, kemiripan yang dimaksud adalah kemiringan dalam segi posisi miring. Warga lokal menduga bahwa dulunya patung palindo ini berdiri tegak.

Patung Palindo pada awal tahun 1930, di depannya berpose tiga orang Belanda, masih banyak semak-semak dan tumbuhan hijau lain di sekitarnya.

Patung Palindo pada Oktober tahun 2019, lihat sekelilingnya telah mengalami perubahan.

Patung ini bisa dikategorikan sebagai patung menhir karena bentuknya menyerupai menhir, berbentuk silinder, dengan pahatan wajah sederhana, dan tubuh tanpa kaki, di bagian bawah terpampang jelas bentuk jenis kemaluannya, berdasarkan bentuknya, patung Palindo sendiri adalah seorang laki-laki.

Pada tahun 1909, Albertus Christiaan Kruyt seorang etnografer sekaligus misionaris asal Belanda menulis artikel bertema antroplogis dan arkeologis berjudul “Het Landschap Bada in Midden Celebes” yang membahas tentang megalitik di Lembah Bada.

Pada abad ke-19, dimulai penjelahan orang eropa ke Sulawesi Tengah, beberapa penjelajah yang terkenal tersebut diantara dua misionaris Belanda, Kruyt dan Nicolaus Adriani, disusul oleh dua naturalis Swiss, Paul dan Fritz Sarasin.

Kedatangan misionaris eropa tersebut di masa lampau memberikan pengaruh yang besar di Sulawesi, dimana sebagian besar penduduk di Poso dan Toraja hingga sekarang merupakan penganut Kristiani.

Lembah Bada pada tahun 1912.

Lembah Bada di tahun 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s