Uji Ketahanan Lutut di Gunung Bulusaraung

Gunung Bulusaraung, terletak di Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan, sekitar satu sampai dua jam perjalanan dari kota Makassar, ketinggian gunung ini sekitar 1353 meter di atas permukaan laut.

1353 mdpl? berarti enggak tinggi-tinggi amat ya?

Memang tapi…

Meskipun jarak tempuhnya pendek, gunung ini memiliki elevasi kemiringan jalur yang membuat kaki dan betis bekerja keras, utamanya sendi yang ada di lutut.

Bagi yang sudah sering mendaki, mungkin tidak masalah, tapi yang udah jarang, sebaiknya rajin-rajin jogging dulu beberapa hari sebelum ke sana, soalnya antisipasi agar enggak ngos-ngosan parah, dan ritme napas tetap aman terkendali.

Ya begitulah karena banyak tanjakan yang harus dilalui.

Saran saya, jangan membawa banyak barang, bawalah peralatan yang ringan-ringan saja namun bermanfaat.

Bagi yang belum pernah mendaki atau untuk pendaki pemula, bisa jalan-jalan ke tempat ini namun disarankan tetap ditemani oleh kawan-kawannya yang sudah biasa hiking. Kawan tersebut berupa teman yang ketahanan fisiknya kuat (tapi sempat prihatin juga karena teman kayak gini selalu menjadi objek penderita, dan seringkali orang seperti ini sepaket dengan sifat sabar, karena selain berperan sebagai leader tim perjalanan, dirinya juga akan merangkap sebagai porter dimana di pembagian team biasanya isi carriernya itu tenda dan benda berat lainnya hehe… )

Sebelum ke area pendakian, jalur yang ditempuh adalah Desa Tompo Bulu, Balocci, jalan di daerah ini “benar-benar jalur khas daerah gunung”

Untuk yang membawa motor usahakan, memakai motor yang baik, agar tidak bermasalah di tengah jalan, apalagi jika membawa carrier yang berat, jika motor bermasalah plus carrier yang berat maka perjalanan jadi terganggu.

Untuk yang menggunakan mobil, pastikan bahwa sudah terbiasa menyetir di jalan pegunungan. Jangan sampai tergelincir dan masuk jurang. Sebelum berangkat berdoa dulu, biar selamat, sehat dan bahagia.

Area pendakian Bulusaraung sendiri berada di Kawasan Konservasi Taman Nasional Bulusaraung, dekat dengan Makassar, sebagian wilayahnya itu mencakup daerah Maros dan juga Pangkajenne Kepulauan, Sulawesi Selatan.

Di luar area Taman Nasional itu juga terhampar bukit karst alias bukit kapur, di daerah tersebut dijadikan pertambangan batu gamping untuk produksi marmer dan semen. Kalau mau kepoin lebih tentang Taman Nasional Bulusaraung, bisa cari tahu di Kepoin Taman Nasional Babul

Untung saja sebagian area perbukitan gamping di sana dilindungi dan dijadikan area konservasi alias Taman Nasional.

Apa saja yang dilindungi di sana?

Habitat monyet, habitat kupu-kupu cantik, karst, tumbuhan dan masih banyak lainnya.

Jadi jika ke sana, pastikan tetap menjaga alam.

Saya ingat pertama ke sana saat saat saya SMP. Menuju ke Tompo Bulu naik truk, (saat itu ikut pelatihan pramuka).

Hari itu saya duduk di truk bersama anak-anak lain, saya merasa kami seperti segerombolan sapi dalam truk (efek baju pramuka mirip warna kulit sapi).

Tapi sayangnya dalam pelatihan tersebut area pelatihan saya hanya sampai di daerah Tompo Bulu, bukannya sampai hiking ke Bulusaraung,

Dan setelah sekian lama akhirnya saya punya kesempatan mendaki ke Bulusaraung, mulai pendakian pertama ke sana, sepertinya saat itu awal perkuliahan. Lalu kemudian mengunjungi gunung itu lagi dan lagi.

Seiring waktu, banyak perubahan yang terjadi di Tompo Bulu dan Bulusaraung, dulu waktu saya masih bocah, area Tompo Bulu hawanya terasa sangat dingin, tapi sekarang rasanya tidak sedingin dulu (apakah cuman perasaan saya kisanak?), lalu sekarang tempat pendakian lebih terkoordinir, pendaki harus melapor dulu ke pos pendakian, di area basecamp di Desa Tompo Bulu (mungkin untuk tindakan pencegahan kalau ada pendaki yang tersesat, bisa diketahui segera)

Nanti di sana akan ada petugas yang minta kamu untuk registrasi, kayaknya dikenakan biaya registrasi untuk ke sana, (dulu enggak ada, sekarang udah ada). Saya enggak pernah bayar biaya registrasi (soalnya selalu dibayarkan sama teman), tapi tenang saja biaya registrasinya enggak bakalan bikin kantong kamu bolong.

Setelah melapor, titip kendaraan dulu di rumah warga, dan langsung siap-siap go ke lokasi.

Hiking dimulai di belakang rumah warga, di dekat kebunnya, terus naik ke Pos 1, saya benar-benar merasakan perubahan yang terjadi di sana, dulu jalur ke Pos satu tidak ada tangganya, tapi saat saya mendaki terakhir di sana tahun 2018 sekarang sudah ada tangga.

Di jalur ke Pos pertama tenaga sudah dikuras, karena di awal pendaki sudah disambut oleh jalan menanjak.

“Atur napas kalian saudara-saudara”

Sumpah serapah sudah keluar kalau sendal atau sepatu membuat kaki kepeleset, apalagi kalau sudah ngos-ngosan gara-gara jalan menanjak. Jadi saran saya, daripada susah di jalan tetap utamakan safety, kalau mau hiking ya, sebaiknya pakai sendal atau sepatu gunung, kecuali buat para pendaki pro yah.. mungkin lewat jalur itu santai aja meski cuman pakai sendal swallow.

Masih bicara tentang Pos 1, memang Sekarang Pendaki dimanjakan dengan kehadiran tangga menuju pos pertama. Dulu gak ada tangganya, hanya tanah. Jadi sekali lagi berbahagialah kawan-kawan.

IMG_20170731_153826

Total Pos yang ada di gunung Bulusaraung ada 10 pos pendakian, sebenarnya aneh juga mengetik “Gunung Bulusaraung” secara dalam bahasa Bugis-Makassar, “Bulu” itu berarti gunung, kan jadi dobel nulisnya, dan akhirnya dalam tulisan ini saya putuskan untuk nulis Bulusaraung saja, daripada ribet.

Lanjut perjalanan, untuk durasi perjalanam hiking ke sana sekitar 3-5 jam, 3 jam jika berhenti cuman satu kali, dan jalannya buru-buru, kayak gaya lari-larinya Naruto.

Lima jam jika banyak singgahnya dan banyak foto-fotonya.

1 BLS

“eh ada tangga nih, rejeki anak sholeh”

Setelah itu siapkan lutut anda kawan-kawan, manjat-manjat dikit, terus hiking jalan lurus, manjat lagi, jalan lurus lagi, nanjak lagi…

Di jalur nemu bunga liar yang nempel di pohon, dijepret dulu.

7 BLS

Sempat tersangkut di Pos 8, disini spot dokumentasinya bagus banget, dari kejauhan sudah bisa hamparan pemandangan alam, disini juga ada tower besi.

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Pos 9 di Pos 9 ini area para pendaki buat bangun tenda, daerahnya juga datar, tapi enggak datar-datar amat soalnya banyak akar pohon, tapi lumayan kondusiflah. Di pos ini juga ada sumber air jadi aman, tapi sayangnya jarak sumber air lumayan jauh sekitar 15 menit jalan kaki nanti dapat sumber air, tapi jalur sumber airnya berupa turunan agak terjal, tips saat berada di Pos 9 yaitu sediakan jarigen air buat ngangkat air ke dekat tenda.

6 BLS

Menuju puncak, di puncak tringulasi Bulusaraung sudah menanti, disana ada bendara merah putih kebanggan kita.

Sebelum ke puncak amankan barang-barang-barang di tenda dulu, lalu siap-siap dan Let’s go!

Lalu 15 menit kemudian tiba di puncak, di area ini skill manjat lumayan diperlukan. Elevasinya miring-miring guys.

Yang paling seru itu duduk di pinggir tebing batu di puncak, rasanya tuh kayak ditampar angin (angin di atas sana memang lumayan kencang).

Kayak disadarkan bahwa manusia itu harusnya banyak bersyukur dalam hidup.

3 BLS

Anjing Setia

Dari pos satu ada anjing yang ngikutin saya terus, kata teman saya yang akhir-akhir ini sering mendaki di sana, anjing itu selalu ada. Saya memang sering melihat anjing itu di sana tapi anjing yang setia sampai ngikutin saya ke puncak baru pertama kali ini, masalahnya adalah penampilan si anjing, dia berkulit hitam legam, mengingatkan saya pada Sirius Black di buku Harry Potter.

Tapi karena mirip Sirius Black berarti si anjing itu awalnya keliatan jahat, tapi aslinya baik banget. Maka dari ini saya hapuskan sebuah cap negative yang saya stempelkan pada si anjing, maafkan saya Jing!

Sempat foto bareng ama si Sirius black nih.

2 BLS

Saat duduk di tebing, lalu sebuah pikiran melintas begitu saja, isinya yaitu “Manusia jangan pernah peliharain sifat sombong, karena sebenarnya dia itu bukan apa-apa, misalnya nih jika ia tergelincir sedikit aja ke tebing, rusuk dan tulang kaki manusia ini tentunya bisa patah-patah. takut jika nakal-nakal dengan merusak alam nanti bisa kenah karma.”

4 BLS

Ciri khas dari Bulusaraung kamu bisa melihat hamparan bukit-bukit hijau, bukit karst dan juga breksi gunung api.

5 BLS

Begitulah pemandangan yang ada di puncak Bulusaraung, rasanya tentu beda jika hanya melihat foto dengan melihat secara langsung dengan mata manusia ciptaan Tuhan.

Pada akhirnya manusia akan selalu merindukan alam. Meskipun betapa menyenangkan hiburan di kota, kota yang terus bersolek, kota dengan jalanan padat, lampu-lampu terang, kilau lantai Mall, ataupun aroma menyengat tempat nongki kekinian, dimana begitu banyak daya tarik kota yang menyilaukan mata, setelah hiking di area Bulusaraung, kemudian saya menyadari bahwa alam selalu punya daya tariknya tersendiri.

Advertisement

Dinamika Budaya Pop Dunia

Hari itu saya sedang libur dan berniat nonton film seharian. Bersama dengan adik perempuanku, kami kemudian menghabiskan waktu di bioskop.

Setelah memilih film yang akan dia tonton (ia memilih Film Hollywood berjudul “The Nutcracker and the Four Realism,”) tanpa mengeluarkan kata-kata lisan,  saat di depan mbak petugas  tiket film,  mata adik saya melirik ke samping (ke arah saya), sebuah bahasa kalbu yang mengatakan “Bayarkan saya tiket nonton, plus nanti habis nonton, ajakin makan sekalian”

“Sebagai hukum alam khususnya yang berlaku di wilayah Asia,  orang yang lebih tua selalu membayar untuk orang yang lebih muda”

Itulah mengapa orang yang lebih tua kebanyakan suka bekerja dan mencari uang lebih giat. 

Sebelumnya saya masih berdiri di depan loket,  dan beberapa film baru, yang menjadi perhatian saya adalah film bertema musik  “Bohemian Rapsody” dan “Burn The Stage.”

Screenshot_20190323_210845

Jadi hari itu saya sudah selesai menonton Film Nutcracker (dimana pemeran utamanya cantik banget), dan  saya juga menonton film “Bohemian Rapsody” dan “Burn The Stage.” Dan saya kemudian menyadari bahwa film- film yang saya nonton maupun musik yang saya dengar adalah produk dari Budaya Pop Dunia. Dan ajaibnya produk industry pop ini menjadi salah satu penggerak roda perekonomian suatu negara yang memproduksinya.

Produk Culture Pop Amerika

Bohemian Rapsody, film yang diadaptasi dari kisah lead vocalist  grup band Rock Queen yang melegenda Freddie Mercury. Musik telah menjadi bahasa universal bagi dunia. Musik dengan  lirik barat adalah salah satu produk terbaik Pop culture Amerika selain produk film Hollywood.

Dan sekarang, musik+Film kombinasi yang sempurna,  Seorang Freddie Mercury yang memiliki banyak penggemar,  pernah dibenci (karena orientasi seksualnya),  namun dicinta karena musik dan karismanya saat tampil di panggung.

Freddie Mercury sudah wafat dan bandnya sudah sangat terkenal, bahkan personil Queen yang lain (John,  Brian May,  Roger) sudah opa-opa banget,  namun karya terbaik mereka yaitu berupa musik membuat orang-orang itu terus abadi. Suara petikan bass dan gitarnya,  gebukan drumnya, serta suara instrument musiknya masih mengalun, dan suara vocal Freddie masih bisa memukau fansnya di masa lalu,  dan bahkan masih bisa memukau para millenial dan generasi Z.

“We will rock you”  adalah lagu pertama Queen yang saya kenal,  itupun karena lagu itu telah menjadi  salah satu lagu ikonik  yang kerap dinyanyikan  para mahasiswa senior di fakultas saya kuliah.

Lagu tersebut memang cukup membuat pendengarnya adiktif dan bersemangat. Kepopulerannya masih ada hingga kini, bahkan kembali dibangkitkan  dalam sebuah film berjudul Bohemian Rapsody.

Saking populernya, Rami Malek aktor yang memerankan Freddie Mercury,  langsung mendapatkan piala oscar, karena berhasil dengan baik memerankan sosok Freddie Mercury.

Dan sampai sekarang Film,  musik,  dan animasi  merupakan produk budaya Pop Amerika yang masih melanda dunia, apalagi jika ada Film Terbaru tema superhero dari Marvel atau DC.

Produk Culture Pop Asia

Jepang sebuah negara di dekat samudera Pasifik,  pernah menjadi lawan Amerika di saat perang dunia II,

Setelah perang berakhir, Jepang perlahan bangkit dan membangun negaranya,  berpuluh-puluh tahun kemudian ia menghasilkan produk budaya pop yang mendunia menyaingi barat seperti anime (kartun Jepang),  Film, musik dan komik.

lalu lahirlah istilah Weaboo

Weeaboo is a mostly derogatory slang term for a Western person who is obsessed with Japanese culture, especially anime, often regarding it as superior to all other cultures.

Generasi 90an tumbuh dengan culture pop Jepang berupa anime dan drama Jepang,  dan musik Jepang di masa kanak-kanaknya.

Setelah remaja dan memasuki usia dewasa muda, muncullah “Korean wave” alias gelombang hallyu,  berdasarkan pengalaman hidup saya,  “Korean Wave” diperkiraan mulai populer di Indonesia pada tahun 2006-2019 (tulisan ini ditulis pada tahun 2019 entah berapa lama Culture pop Korea Selatan akan bertahan,  waktu yang akan menjawabnya).

waktu terus bergulir saat anak-anak generasi Z lahir di dunia dan Korean Wave masih ada,  bahkan terus berkembang,  hingga kemudian gelombang itu bukan sekedar gelombang biasa tapi telah menjelma menjadi gelombang “tsunami.”

Tsunami,  yang kemudian melahirkan istilah Koreaboo (menandingi keberadaan Weibo)

A non-native Korean who is obsessed with Korean culture to the point where they denounce their own national/native identity and proclaim that they are Korean.

Bagaimana tidak, Culture pop Korea Selatan kini menghampiri Amerika dan Eropa,  dimana sebelumnya disana ada basis terkuat culture pop Amerika yang lahir dan beranak pinak.

“The seven members of BTS and their fan ARMY descended on Times Square this morning (Sept. 26) for their first appearance on ABC’s Good Morning America. The GMA episode marked BTS’ first-time ever appearing on a national Stateside morning show. “

BTS, grup musik asal Korea Selatan yang kini digemari diseluruh dunia,  bahkan mengguncangkan panggung Amerika. Saat BTS tampil, anak muda Amerika berteriak-teriak menyanyikan lagu dengan berbahasa Korea Selatan. Grup ini bahkan mengadakan konser tour dunia dimana tiket di Eropa dan Amerika habis terjual meski diselenggarakan di stadion sepak bola.

Seberapa kuat dampak dari culture Pop bagi dunia? sama seperti rasa penasaran saat menonton Bohemian Rapsody, penasaran kembali,  kemudian menonton film yang satunya lagi,yaitu Burn the stage.

Tapi saat menonton  kedua film ini saya sendirian, (adik perempuan saya tidak terlalu berminat pada film bertema musik ditambah lagi ia sangat membenci hal-hal yang berbau musik rock barat jadul dan musik korea atau K-pop).  Anehnya, rasa benci itu tidak berlaku saat ia menonton drama korea.

Dalam bioskop, seat bioskop pun perlahan terisi oleh penonton. Kebanyakan bergerombol, remaja SMP dan SMA,  mungkin sebagian ada juga yang mahasiswa, dan banyak remaja perempuan, kumpulan remaja laki-laki tersisih di bagian kursi belakang sepertinya satu rombongan, sedang remaja laki-laki yang lain tersebar secara acak di kursi depan.

Film dimulai dan banyak remaja perempuan yang menjerit-jerit saat melihat idolanya muncul di layar kaca bioskop yang sedemikian lebar, melihat pemandangan tersebut saya kemudian teringat akan Queen. Para penggemar secara kompak mengikuti aba-aba dari Freddie Mercury yang meleganda, dan kompak menyanyi bersama.

” Eo…eo… ede.. edede… edededeeeeee..” ujar Freddie Mercury (*kayak logat orang Makassar kalo lagi ngeluh)

Screenshot_20190323_210625

Dan rasa ingatan itu, semakin kuat saat saya saat menonton film Burn The Stage namun beralih ke grup lain yang lebih tua yaitu The Beatles.

Potongan rupa anggota The Beatles bahkan mirip dengan grup penyanyi Korea Selatan tersebut, “Sama-sama memakai poni.”

Screenshot_20190323_215123

Saya pernah menonton video konser The Beatles di internet,  dan respon penggemar remaja baik dulu maupun sekarang ternyata masih sama, yaitu masih suka berteriak histeris saat melihat wajah idolanya muncul.

Saya duduk sebaris dengan tiga remaja, tapi mereka berbeda dengan remaja yang duduk di seat bagian tengah.  Ketiga remaja yang duduk di samping saya cenderung kalem. Saya merasa sangat beruntung karena saya bisa menonton film dengan tenang tanpa terdistorsi oleh teriakan anak perempuan.

Dua jam kemudian film Burn the stage itu pun selesai, lampu dinyalakan dan perlahan beberapa penonton mulai berjalan meninggalkan ruangan.

BTS

Seperti Behemian Rapsody, film itu mengangkat tema musik,  tapi bedanya Burn the stage disajikan dalam bentuk film dokumenter,  hari ini kemudian diakhiri dengan saya menonton film dokumenter penyanyi korea bernama BTS selama dua jam.

Beruntungnya karena saya memang suka menonton film dokumenter,  dulu saya juga pernah menonton film dokumenter penyanyi lain,  film dokumenter Bob Marley,  sayangnya di film itu tidak menampilkan Bob Marley secara langsung dan hanya menampilkan orang terdekatnya, logisnya  karena Bob Marley sendiri sudah lama wafat.

Apa yang saya dapat dari film dokumenter dengan durasi 2 jam ini?

Terlepas dari stigma fans kpop yang fanatik dan alay serta isu plastic surgeon para idol Korea, saya menemukan banyak narasi bagus dan juga hasil kerja keras di film dokumenter ini, banyak monolog-monolog yang  suaranya dilisankan langsung oleh anggota grup itu, bahwa untuk meraih sebuah cita-cita atau kesuksesan memang butuh effort, mencintai dan menghargai diri sendiri, empati, kecerdasan emosional,  serta,  keyakinan dan kepercayaan pada mimpi.

Utamanya narasi dari para rapper BTS sendiri, (biasanya rapper itu cerdas,  dan kritis, karena lirik lagunya langsung diciptakan oleh rapper itu sendiri) saya menemukan banyak metafora,  dan kiasan bahasa yang tak bisa ditelan mentah-mentah, ini mengingatkan saya akan karya sastra Indonesia, pepatah dan sajak kebudayaan bahasa Indonesia jaman dulu. Dimana setiap kata,  setiap simbol budaya,  memiliki arti atau makna kehidupan manusia di baliknya.

Kuda, Gengsi, dan Sepiring Gantala Jarang

Seorang kakak senior yang sangat baik hati mengajak saya menghadiri acara makan-makan. Dalam hajatan itu saya kemudian mencicipi makanan khas Jenneponto, Sulawesi Selatan.

Jarak tempuh dari Makassar ke Jenneponto sekitar 3 jam. Acara makan-makan itu merupakan acara syukuran sunatan adik dari salah satu teman kerja si kakak senior. Ramai dengan teman-teman lain yang juga diajak, kami langsung menuju ke tempat hajatan. Setelah sampai di sana, rumah itu sudah dipenuhi dengan para tamu undangan, dekorasi rumah panggung milik tuan rumah bak  acara pengantin khas Bugis Makassar, dari luar penyanyi dangdut melantunkan lagu berbahasa daerah setempat diiringi oleh organ tunggal (padahal hanya acara sunatan tapi ramai banget),  banyak lamming yang menghiasi langit-langit dan dinding rumah, di antara desakan tamu udangan yang memang sudah lapar, langsung aja nih salam-salaman dulu dengan si ibu, si tuan rumah yang ceria dan ramah banget.
Saya sempat bertanya pada kakak senior saya, dimana anak laki-laki yang sudah sunatan tersebut. Bayangan saya nih, kalau adat Bugis Makassar yang lebih ekstrim sih, si anak harusnya pake baju adat terus duduk di ruang depan pas ada tamu, tapi ini sama sekali enggak ada.
Senior saya pun menjawab bahwa si adik laki-laki itu sudah disunat tahun lalu tapi baru dibuatkan acara tahun ini karena baru ada biaya.
Luar biasa sekali acara sunatannya, yang berkali-kali saya katakan bahwa acara sunatan aja udah kayak hajatan pengantin. Senior saya pun berkata bahwa orang-orang di sana memang punya gengsi yang tinggi dan sajian yang harus ada adalah sajian gantala jarang alias masakan daging kuda.
Saya kemudian mengangguk dan mulai memahami bahwa yah, mungkin begitulah culture mereka di sana.
Jadi kembali ke tujuan awal ke hajatan yaitu untuk makan-makan, khususnya mau makan makanan khas daerah itu,
Jadi saya kemudian makan daging kuda. Kuda disebut “jarang” nama masakannya sendiri disebut “gantala jarang.”
Tidak terlalu makan banyak, sedikit aja, kalau makan banyak soalnya daging kuda bisa membuat suhu tubuh menjadi panas, efeknya sama kayak makan durian kebanyakan.
Jadi dari ceritanya sih kalau ada hajatan afdolnya gantala jarang itu dimasak oleh bapak-bapak (kaum laki-laki) dimana dimasaknya dalam kuali besar dan direbus lama, nanti dicampur dengan garam dan sedikit rempah.

kude 3
Saat saya sendok memang kuah gantala berbeda dengan kuah coto yang banyak rempahnya, kuah gantala jarang cenderung minimalis. Rasa dagingnya khas, kalau menurut saya sih tetap aja mirip daging sapi, tapi dagingnya empuk dan aromanya khas. Dagingnya tidak amis, sepertinya dimasak dengn sempurna oleh si bapak-bapak chef di sana.

kude
Berbicara tentang kuda yang saya makan, kuda memang telah menjadi simbol dari daerah Jenneponto. Di tengah pusat daerah ini bahkan didirikan patung kuda sebagai landmark.  Penduduk daerah itu memang suka makan kuda, daging kuda sendiri dijadikan sebagai daging olahan untuk masakan konro, gantala jarang, ataupun coto. Jadi jika dibandingkan dengan daging sapi, daging kuda memang lebih popular.
Karena kuda dijadikan sebagai makan favorit, maka kuda kemudian banyak diternakkan oleh warga.

Untuk kondisi alam daerah Jenneponto sendiri cenderung tandus dan juga berangin. Saking beranginnya,  potensi ini kemudian melahirkan jajaran tiang-tiang kincir raksasa untuk pembangkit listrik tenaga bayu.  Suhu udara disini lumayan terik, saking teriknya bisa membuat emosi jiwa karena dehidrasi.

Untuk bahasa sehari-hari masyarakat menggunakan bahasa Makassar, tapi meskipun sama dalam kosa kata bahasa orang Makassar, dalam segi dialek, warga Jenneponto punya satori alias logat khusus.
Untuk intonasi bahasa sendiri, bahasa Makassar itu cenderung tegas dan intonsi keras sehingga sering kali muncul stereotype bahwa orang Makassar cenderung kasar. Tapi ini tergantung perspektif, sama dengan umat manusia di segala penjuru dunia pada umumnya, ada yang kasar, ada yang halus. Seperti permukaan alas sepatu gunung harus kasar biar bisa napak medan pendakian dan enggak terpeleset lebih sering, atau sepatu para penari balet yang alas sepatunya datar dan halus agar si balerina bisa menari dengan lembut dan gemulai. Jadi secara umum saya lihat ibuk-ibuk di Jenneponto ini ramah dan ceria, meski kalau bicara emang agak rame dan volumenya keras.

Dalam perbincangan biasanya,  kalau mau panggil orang dewasa, kayak ibu-ibu, bapak–bapak biasanya ada sebutan “karaeng.”
Awalnya aku bingung sebutan apa nih, artinya apa? Nah setelah mencari tahu sejarahnya memang “Karaeng” itu sudah jadi culture juga di daerah Jenneponto. Berdasarkan sejarahnya sendiri, saat Indonesia masih zaman keajaan di Jenneponto, Karaeng merupakan julukan buat keturunan bangsawan atau orang penting.

Nah gelar “karaeng” ini masih bertahan hingga sekarang,  dan secara tidak langsung juga berpengaruh pada meriah dan ramainya penampilan dan penyelenggaraan suatu hajatan, utamanya oleh orang yang disebut karaeng. Yah muaranya kembali lagi ke pusaran antara kuda dan gengsi.

Beberapa menit kemudian, pada akhirnya,  sepiring gatala jarang yang saya santap,  kini kosong. Daging kuda telah saya lumat dan masuk ke lambung. Terima kasih untuk undangan makan-makannya,  ditunggu undangan selanjutnya.

 

 

 

 

Inside Benteng Rotterdam Makassar

Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam telah menjadi salah satu landmark dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Nama lainnya adalah Benteng Ujung Pandang berlokasi di Jalan Ujung Pandang No. 1 Makassar. Sebagaimana namanya “Benteng” di masa lalu Benteng Rotterdam (dibangun tahun 1545) merupakan peninggalan masa kerajaan Gowa-Tallo (Indonesia sebelum semua daerahnya bersatu, dulunya wilayah-wilayahnya berkonsep kerajaan). Pada era kolonial Belanda, keberadaan Benteng Rotterdam ini kemudian selain dijadikan sebagai benteng pertahanan juga difungsikan untuk menampung rempah-rempah dari wilayah Indonesia Timur. Dan setelah kemerdekaan Indonesia Benteng Rotterdam dijadikan sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya Sulawesi Selatan.

2 RT
Berdasarkan filosofinya sendiri denah benteng Rotterdam menyerupai hewan penyu, sehingga nama benteng ini disebut juga benteng Penyyua. Penyu merupakan amphibi (bisa hidup di darat dan lautan) yang melukiskan bahwa kerjaan Gowa Tallo (kerajaan jaman dulu,  dimana area Makassar menjadi salah satu bagian wilayahnya) berjaya di darat dan lautan, untuk lokasinya sendiri Benteng Penyyua memang berada dekat dengan pantai. Untuk luasnya, Benteng Rotterdam yaitu sekitar 2,5 hektare.
Dari luar Benteng Rotterdam terdiri atas dinding-dinding batu alam tinggi,  dari sini lokasinya cukup strategis, benteng Rotterdam terletak di pinggir jalan besar, dan letaknya lumayan dekat dengan Pantai Losari. Saya sarankan kalau pagi sampai siang harinya bisa jalan-jalan ke Benteng Rotterdam, nanti sore hari bisa lanjut ke Pantai Losari, lanjut bisa melihat matahari terbenam di pinggir pantai.

4 RT
Berdasarkan dinding luar benteng Rotterdam yng hanya berupa dinding batu itu, apa saja isi dalamnya? hanya lapangankah? atau ada sesuatu yang lain?

Maka itu mari kita lihat, jadi setelah masuk ke dalam, isi dalam benteng Rotterdam itu adalah :

Museum
Dari pintu masuk di depan maka akan banyak jalur untuk berjalan kaki, sebelumnya jika membawa kendaraan, kendaraannya diparkir dulu di luar benteng. Jika tidak cukup berjalan masuk ke gerbang depan menuju jalur jalan kaki. Gedung Museum La Galigo itulah namanya, berada di dalam benteng. Bastion ini berada sebelah di kiri dan kanan jadi total ada dua bangunan museum yang terpisah.

3 RT

Untuk masuk ke dalam museum, di depan pintu masuk beli tiket dulu. Di dalam museum sebelah kiri itu ada maket, ada banyak lukisan-lukisan yang menggambarkan kebudayaan Sulawesi jaman kerajaan.
Beralih ke gedung museum La Galigo di sebelah kanan, di luar ada papan informasi yang memuat tentang kebudayaan Sulawesi seperti perahu phinisi, perahu phinisi memang sudah jadi ikon Sulawesi Selatan, dimana nenek moyang dari mayoritas suku yang mendiami wilayah ini memang terkenal sebagai pelaut ulung. Selain papan infomasi di luar gedung museum sebelah kanan, ada juga replika perahu phinisi yang sedang dibangun, pengunjung bisa juga membeli aksesoris yang sediakan di luar museum La Galigo.

8 RT-

5 RT

Untuk isi dalam museum La Galigo yang di sebelah kanan ini cukup banyak koleksinya, di lantai satu dipamerkan peninggalan peradaban yang ada di Sulawesi jaman dulu, ada alat-alat pertanian tradisional,  replika perahu phinisi ukuran sedang, lukisan, dokar, dan masih banyak koleksi lainnya.

6 RT
Naik ke lantai dua masih menyimpan banyak koleksi peradaban dan budaya Sulawesi mulai dari zaman purba zaman kerajaan, hingga zaman kolonial.
Kalau di lantai dua museum yang sebelah kanan ini, ini adalah bagian museum yang selalu bikin diriku merinding, gak tahu kenapa sejak SD setiap kali ke museum ini tepatnya di lantai dua pasti merinding, bahkan setelah dewasa naik ke lantai dua museum ini rasanya memang selalu merasakan hawa-hawa aneh dan misterius.

7 RT

Peninggalan Ruang Tahanan Pangeran Dipenogoro
Setelah museum di dalam benteng Rotterdam ada pula ruang tahanan Pangeran Dipenogoro (pejuang pada era penjajahan Belanda), setelah era perang Dipenogoro (1825-1830) Pangeran Dipenogoro ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Benteng Rotterdam. Ruangan penjara Pangeran Dipenogoro itu berada di sebelah dalam, jadi dari pintu gerbang berjalan lurus saja mengikuti jalan yang telah sediakan kemudian belok ke sebelah kanan di sana akan dijumpai papan nama bertuliskan “Ruang Tahanan P. Dipenogoro.”
Ruangan itu sendiri tertutup, biasanya pengunjung bisa menengok lewat jendela lengkung kecil dengan beberapa teralis.
Untuk melihat ke dalam ruang tahanannya sendiri pasti langsung tercipta hawa sedih, bisa dibayangkan gimana perasaan Pangeran Dipenogoro saat di tahan di sana, jauh dari keluarga, diasingkan ditempatkan asing oleh orang asing pula, ditempatkan dalam ruangan berdinding beton dengan pencahayaannya  yang redup.

11 RT

Dinding Benteng
Dinding benteng terbuat dari batu padas, dengan tinggi sekitar 3 meter, mengelilingi gedung-gedung tua yang ada di dalamnya. Batu itu diambil dari dari  bukit karst yang ada di daerah Maros. Kini bangunannya masih kokoh, batunya berwarna abu-abu gelap, dan berdasarkan umur bentengnya yang sudah empat ratus tahun lebih, bangunan ini sungguh berusaha bertahan agar tak dikikis oleh waktu. Dimana sekarang sang benteng tua masih berada di Kota Makassar yang kini menjelma menjadi pusat kota yang ramai, dengan kepungan gedung-gedung tinggi menjulang di sekelilingnya.

12 RT

10 RT

Taman

Taman berada diantara gedung-gedung tua membuat suasana terlihat lumayan teduh, itu kalau pagi sih, tapi menjelang siang (udara panas kota Makassar akan membuat gerah) dan gerah itu akan sangat terasa seiring semakin meningginya matahari. Saya sarankan kalau mau jalan-jalan ke sini jangan lupa bawa air minum, kalau bawa botol air yang bisa simpan air dingin juga boleh. Kalau saya biasanya rajin ke tamannya duduk-duduk buat baca buku, tanpa tikar langsung aja duduk di rumputnya sambil nyandar di pohon palem.

9 RT

1 RT

Demikianlah beberapa isi dalam dari Benteng Rotterdam.  Dari beberapa sudut-sudut yang ada di dalam Benteng Rotterdam kamu paling suka berada di bagian mana?

 

 

Airplane pt 1 : Pesawat Pagi

#Catatan pesawat pagi Oktober 2018, setelah gempa dan tsunami di Kota Palu dan area Sulawesi Tengah lainnya.

Karena ada urusan penting dan mendadak, saya harus terbang ke Palu keesokan harinya. Untuk pertama kalinya saya mengambil penerbangan keberangkatan pada pagi hari.

Saya termasuk orang yang susah bangun pagi, dan mengambil penerbangan pagi berarti harus bangun lebih pagi dan bergegas ke bandara. Sebenarnya saya mengetel alarm, meskipun saya sadar bahwa saya adalah orang yang tak mempan dengan alarm, saat di kampus dulu, jika ada kegiatan di kampus lapangan, maka asisten dosen atau teman saya akan kapok untuk membangunkan saya, bagi saya semuanya jadi terasa berat karena kadang kami harus bangun pada pukul 04.00 pagi untuk bersiap melakukan aktivitas, padahal baru tidur jam 12.00 malam.

Screenshot_20190324_024022

Kembali ke penerbangan pesawat pagi yang saya ambil, jadi pada pukul 03.00 pagi, mama dan kakakku langsung menggedor pintu kamar, agar diriku segera bangun.

Setelah dibangunkan karena perjalanan ke bandara cukup menyita waktu, dan untuk menghindari halangan selama perjalanan, diriku mengefisienkan waktu. Langsung saja saya ganti baju kaos ambil ransel dan siap berangkat tanpa mandi. Hanya gosok gigi dan mencuci muka.
Ke bandara diantar oleh Om dan kakak, dimana mata masih dalam kondisi sangat mengantuk, dan rasanya seperti masih mimpi, rasanya seperti berteleportasi mendadak sudah ada di Bandara.

Kejadian yang paling menegangkan adalah saat mengantre untuk boarding pass, antrian panjang mengular, ditambah lagi banyaknya barang bawaan para penumpang, petugas bandara di counter, tampak lelah dan bekerja cukup lamban.

Seorang ibu asal Papua, yang berada di baris depan tampak kesulitan dengan barang-barangnya yang begitu banyak, wanita itu bahkan diharuskan membayar biaya untuk kelebihan bagasinya. Setelah drama panjang menunggu yang begitu lama, dan para petugas yang tampak lelah dan setengah mengantuk.

Saya harus lari-lari dulu biar tidak ketinggalan pesawat. Untung saja tiba di dalam pesawat tepat waktu. Sampai di dalam pesawat berencana untuk melanjutkan tidur, tapi terdengar di suara tangis bocah laki-laki mendadak membuyarkan konstrasiku untuk segera tidur.

Ia mengucapkan satu kata, dan mengulang kata itu berulang kali, mungkin ia menangis dengan menyebutkan kata “lari?” entahlah artikulasi anak itu belum begitu jelas.

Seorang wanita yang awalnya aku menduga itu adalah ibu anak yang terus menangis itu, ternyata wanita itu adalah kerabatnya, anak itu tak bersama ibunya, beberapa pramugari berusaha menenangkannya, lalu penumpang lain berusaha menghibur anak itu, tapi sayang, si bocah laki-laki yang aku duga umurnya sekitar 2 atau 3 tahun itu masih bertahan untuk menangis.

Setelah pramugari lelah menghiburnya, seorang bapak yang kemungkinannya adalah kerabatnya yang lain menggendong si bocah agar tenang.

Tapi memang karena pesawat cukup bergoyang, si anak semakin menangis keras, ia menoleh ke jendela tapi kembali menangis, ia takut melihat awan tinggi, akhirnya si anak terus menangis seiring deru mesin sayap pesawat yang terus menembus awan.

Dan kemudian saya teralihkan oleh awan, berbicara mengenai awan, oh iya ini adalah penerbangan pagi pertamaku, saya selalu mengambil penerbangan siang, sore, ataupun malam karena menurutku waktu keberangkatan di jam itu cukup santai.

Saat itu aku menoleh ke jendela, dan melihat warna jingga langit, cahaya itu cukup menyilaukan karena sangat dekat satu sama lain.

Pesawat semakin melaju, melewati awan-awan nimbus. Awan nimbus yang bergulung-gulung seperti kapas, kadang terlihat seperti permen kapas putih yang melayang di atas langit. Gulungan-gulungan lain semakin banyak. meninggalkan pemandangan sebelum take off berupa pemandangan di dekat jendela tentunya biasa saja. pesawat yang parkir, dan mobil angkutan yang membawa tumpukan barang untuk bagasi pesawat, lalu bus-bus yang mengangkut penumpang.

Screenshot_20190324_024135

Setelah lepas landas, seperti biasa pemandangan seperti melihat maket-maket rumah dan sawah di hamparan permukaan tanah, badan sungai dan anak cabangnya, masih banyak pohon-pohon hijau yang mengkilap dari atas. Mungkin malam kemarin pesawat kehujanan atau berembun, sisa air menetes di luar kaca jendela (saya paling suka duduk di dekat jendela).
Air yang menurut hukum gravitasi harusnya menetes ke bawah itu, karena pesawat yang miring, terliht tetesan air itu membuat ilusi aliran air yang tampak mendatar.
Setelah tetesan air itu habis karena terjangan laju pesawat. Pesawat kini bergerak stabil, menyimbangkan sayapnya di udara. Penumpang yang lain tampak sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kembali Suara tangisan bocah laki-laki itu menarik perhatianku. Tak Ada yang tahu apa yang menyebabkan anak itu menangis selain menduga kalo anak itu memang takut naik pesawat, dan semuanya terjawab saat seorang wanita yang diduga kerabat si anak lalu menceritakan bahwa ibu anak itu wafat saat gempa, dan mengatakan bahwa si bocah trauma terhadap goncangan.
Dan akhirnya selama satu jam, si bocah laki-laki menangis tanpa henti. Ternyata dibalik tangis bocah dalam pesawat itu ada kisah duka yang mendalam.

Mencoba untuk mengalihkan dari perasaan melankolis, saya kemudian mengamati awan-awan dan tampaknya cukup berhasil. Tapi satu jam berlalu, dan si bocah laki-laki masih menangis cukup keras, kasihan sekali karena suaranya terdengar mulai serak.

Setelah pesawat mendarat, buru-buru diriku menuju ke toilet untuk pipis, jadi sebelum berjalan kaki menuju ke tempat kedatangan, semakin mendekat, ke bangunan bandara, terlihat langit-langit ruangan yang runtuh dan rusak masih menyisahkan kisah akan getaran gempa, begitupun dengan toilet, pintu toilet rusak, dan sana sini tampak langit-langit yang bolong karena rusak.
dan bandara masih dalam tahap recovery.

Sambil menunggu jemputan di bandara, saya kemudian duduk dan teringat dengan awan yang kulihat saat penerbangan tadi pagi.

Awan yang kulihat melalui kaca jendela tebal di pesawat, langit dan awan nimbus yang menyapaku, semakin jauh ke depan semakin banyak gulungan awan nimbus.

Serat-serat awan sirius tampak angkuh di atas awan nimbus yang bergulung-gulung gemuk itu. Setelah itu ketinggian terbang pesawat semakin naik, di lapisan langit yang lebih tinggi, awan sirius lebih banyak.
Sempat juga melintas awan hitam yang bergerak bergerombolan, segumpal awan besar dan gelap itu bergerak cukup cepat. Jika pernah melihat film Harry potter, awan hitam yang melintas itu seperti suasana ketika para dementor datang beramai-ramai menghampiri Hogwarts.
Jadi setelah awan gelap itu berlalu, kembali melalui jendela melintas awan serat-serat halus, warna langit yang awalnya cukup jingga, kini berubah menjadi biru lautan, awan putih bermain-main di langit, kadang menggumpal kadang berserat-serat terpisah.

Screenshot_20190324_024223

Lalu di moment selanjutnya pesawat menerobos awan sirus yang berserat itu, dan jendela tampak berkabut, jarak pandangku tidak melihat apa-apa lagi di luar sana selain serat-serat awan putih.

***

Pernahkah kita tiba-tiba tampak begitu kagum akan sesuatu yang terlihat sepeleh dan biasa dalam hidup.
Hari ini aku merasakannya, hal yang biasa kita lakukan sehari-hari mendongak ke atas dan melihat langit, dan menjumpai padangan yang menangkap kehadiran awan. Namun awan yang terlihat saat menaiki pesawat terasa begitu berbeda.

Ya…. hari itu saya memang hanya melihat awan dan langit saja. Melihat betapa luar biasanya ciptaan Tuhan, melihat begitu canggihnya mereka, dan pekatnya perasaan magis pagi itu.