Dinginnya Lukisan Cahaya di Danau Tanralili dan Lembah Loe

Pada akhir tahun 2017, ide ke Danau Tanralili dan Lembah Loe tercetus saat salah seorang teman dari Surabaya pulang ke Makassar untuk liburan. Dia adalah salah satu teman dari eskul photo saat kuliah dulu.

Bertujuan untuk refreshing dan reuni, teman-teman yang lain yang juga berasal dari eskul photo di angkatan yang sama setuju dan bersiap untuk berangkat.

Danau Tanralili

Danau Tanralili terletak di Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Waktu tempuh dari Makassar lewat jalur poros Malino hingga ke Kec. Parigi sekitar 3 jam, untuk ke daerah ini silakan gunakan kendaraan pribadi, karena kendaraan umum belum tersedia, kendaraan yang biasanya digunakan ke sana yaitu motor, meski sudah beraspal, jalanan ke basecamp lumayan sempit jadi lebih aman dan efisien menggunakan motor.

Untuk pergi ke Danau Tanralili, lapor dulu ke pos petugas yang ada di Desa Lengkese, biasanya bayar biaya registrasi (untuk biaya parkir dan keamanan, jika ada yang tersesat bisa langsung diketahui)

Di sini mulai perjalanannya dari Desa Lengkese, hiking dimulai dengan berjalan kaki selama 2 jam (tergantung kemampuan betis)

Jalur yang dilalui adalah pada awalnya datar-datar saja, sekitar 20-30 menit langsung disambut dengan pendakian dan jalan terjal berbatu, nanti dapat turunan, terus terjal lagi miring lagi, turunan lagi, begitu seterusnya sampai bosan.

Kadang jalanannya lebar, kadang sempit, kadang berbatu banget, kadang terjal kebangetan, oh iya nanti ada juga jalur yang jalanannya sempit dan berada di pinggir tebing curam, hati-hati saat berada di sana, soalnya angin lumayan kencang, dan batuan yang dipijak agak lunak.

Baiknya ke sana pada musim kemarau, agar saat hiking terhindar dari jalur dimana kaki harus berpijak pada batu licin, dan air hujan yang mungkin saja mengguyur di tengah jalan.

Bagusnya di jalur nanti akan dilalui sumber air, jadi siapkan botol air dan Nutrisari, nanti kalau nemu air dingin tinggal diracik saja dengan air yang ada di jalur. Saya paling suka duduk-duduk di pinggir tebing sambil minum air dingin, saat itu kulit wajah jadi sejuk karena disapuh dinginnya angin pegunungan.

Screenshot_20190325_225710

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Danau Tanralili, sayangnya Danau Tanralili hanya menjadi tempat persinggahan, karena tujuan utama dari team kami adalah Lembah Loe, dan berangkat ke Lembah Loe itu harus mendaki lebih tinggi lagi, dan itu berarti harus berjalan lagi ke atas.

Danau Tanralili sering dibandingkan dengan Ranu Kumbolo (mungkin karena sama-sama danau), Danau Tanralili merupakan bagian dari area Gunung Bawakaraeng.

Setelah beristirahat sejenak sambil melihat danau, perjalanan pun semakin panjang, namun harus tetap semangat sebab di atas sana ada Lembah Loe yang menanti kami.

Untuk di Danau Tanralili sendiri, tetap waspada dan hati-hati meskipun sangat indah dan rasanya ingin langsung nyebur ke dalam air kolam, sebelumnya di papan pintu masuk jalur ke Danau Tanralili sudah dipasang larangan untuk tidak berenang, (sepertinya masih ada trauma dari penduduk setempat, soalnya di danau itu pernah ada korban jiwa, ada seorang pengunjung yang mati tenggelam)

Lembah Loe

Sampai di Lembah Loe, Sudah ada kawanan sapi yang menyambut para pendaki, dan ada juga tenda dari pendaki lain.

Perlu diketahui bahwa faktanya penduduk sekitar gunung beternak sapi, dan sapi itu mereka rawat di atas gunung, agar sapinya itu makan-makanan fresh dan rumput hijau bergizi.

Akibatnya lahan yang hijau berupa lapangan yang luas di lembah Loe sebagian besar dipenuhi oleh Tesa ( Tai sapi). Jadi si sapi makan sambil defekasi feses ria di sana)

Mengabaikan kehadiran Tesa, saya lalu duduk-duduk di pinggir sungai sambil melihat tebing-tebing batu yang mengelilingi lembah, teman-teman datang bergelombang. Kami lalu mendirikan tenda di pinggir sungai, hawa di sana sangat sejuk dan dingin.

Setelah anggota lengkap, kami mendirikan tenda di pinggir sungai kecil yang letaknya memang strategis. Kami berada di sana selama dua hari, setelah itu kemudian kami pulang kembali ke Kota Makassar.

Dinginnya Lukisan Cahaya Lembah Loe

Dibandingkan dengan Danau Tanralili Lembah Loe hawanya lebih dingin, dan anginnya lebih sejuk, saat berada di sini setelah shalat dan bangun pagi-pagi rasanya sangat segar. Wudhunya pake air sungai kecil yang dinginnya kayak ditambain es batu, pas sapuin di wajahnya rasanya beku tapi segar.

Di sekitar lembah sempat jalan-jalan sebentar lihat pemandangan, di sekitar lembah ada pohon-pohon, dan saat itu seperti mendengar suara cuitan burung, dan benar saja seekor burung kecil gendut berwarna biru dan cantik bertengger di ranting pohon sambil bercuit-cuit. Matanya bulat lucu gemes banget.

Saat berada di sana, suasananya benar-benar berbeda dengan yang ada di Kota, sejenak melupakan kebisingan bunyi kendaraan, kemacetan, musik bervolume keras, suara TV, dan cahaya lampu listrik.

Dan kemudian di saat hening seperti itu, saat sebagian teman-teman tertawa dan ngobrol ngalor ngidul sepanjang hari, sebuah ingatan pun kembali.

Di masa kuliah, saat berniat untuk belajar photography lalu dipertemukan dengan orang-orang ini, mendaftar di gelombang angkatan yang sama saat eskul photo membuka penerimaan anggota baru.

Memang dulu sempat niat banget buat belajar photography, sebagai anak-anak yang suka gambar, waktu SD sering liat photo-photo keren di buku atlas dunia. Atlasnya hardcover, foto-fotonya full colour, kertasnya jenis Art Paper, licin tebal dan kualitas gambar ok. Selain peta Indonesia dan dunia, di atlas itu ada foto bentang alam, foto human, foto kebudayaan dari negara-negara di seluruh belahan dunia. Dalam hati langsung berpikir, “Ternyata dunia itu begitu indah, begitu luas dan kehidupan manusianya sangat beragam”

Nah, dari situ berlanjut sering liat-liat foto di majalah dan memperhatikan hasil fotonya yang keren banget, ditambah suka baca tulisan yang dilengkapi dengan photo ilustrasi. Foto yang diambil benar-benar hidup, seolah foto yang bercerita, terus ditambahkan narasi, dan akhirnya efek tulisannya jadi bertambah lebih hidup.

Tapi momen belajar photography untuk saya kala itu sepertinya kurang tepat, motivasi yang kurang, tumpukan tugas dan kewajiban kuliah, keaktifan di organisasi kampus yang diwajibkan (soalnya jumlah satu angkatan di jurusan saya orangnya cuman dikit, jadi merasa punya tanggungjawab besar), dan ditambah lagi saya ikut beberapa kegiatan lain juga.

Belajar photography akhirnya jadi tersisihkan secara alami, mulai dari enggak pernah ngumpul lagi dengan teman-teman, jarang praktek, jarak belajar teknik photo. Hingga waktu berlalu, teman-teman yang sama-sama daftar eskul photography kala itu sudah pada jago, sudah lincah banget jepret pake manual, ada yang juara lomba foto, ada pula yang sudah khatam banyak teknik photography.

Jadi benar kata pepatah, Apa yang kita tanam itulah nanti yang akan kita petik, sesuatu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh tentunya akan membuahkan hasil bukan?

Dan akhirnya meski tidak aktif di eskul photo, tetapi minat pada photo masih ada, sepertinya emang efek karena dari dulu suka liat gambar, dan satu hal lagi, ada sebuah kesyukuran.

Seperti dinginnya hawa lembah, tapi terasa sejuk, minat yang sama pada lukisan cahaya telah membantu saya menemukan teman-teman angkatan yang baik dan seru di eskul photo.

IMG_20170731_153826

IMG_20170731_155227

Advertisement

11 thoughts on “Dinginnya Lukisan Cahaya di Danau Tanralili dan Lembah Loe”

  1. Foto lembah loe cantik sekali yaa, sumpah lo di foto nggak kelihatan ada tesa dimana2 wkwkwk. Sayangnya aku penasaran sama foto air mengalir dan danau tranlili he he he.

    Like

  2. sudah lama saya tidak pernah menikmati pemandangan alam yg menenangkan seperti ini.. terimakasih kak Ilmi, tulisan ini seolah mengobati kerinduan saya akan keindahan yg sering saya nikmati saat kerja sebagai Geologist 9 tahun lalu..

    Like

  3. Penasaran sama Danau Tanralili, semoga segera di edit terus di kasih masuk fotonya.. hehehe..
    Btw sy kira Parigi itu cuma ada di Sulawesi Tengah ternyata ada juga di Sulawesi Selatan

    Like

  4. View pemandangannya di Lemabag Loe indah sekali. Maa syaa Allaah. Pastinya di sana sejuk ya kak. Jadi bersyukur sekali bisa menikmati lukisan cahaya yang terbentang di sana.

    Like

  5. Masukan yaaa, kalau catatan perjalanan sebaiknya perbanyak fotonya. Tulisannya bagus sekali, bikin Saya bisa bayangkan suasana di Danau Tanralili, Lembah Loe Dan sulitnya perjalanan ke sana. Sayangnya kurang foto-fotonya huhuhu

    Like

  6. Sulawesi benar – benar punya keindahan yang semua orang harus tau kak😍. Danau dan lembah ini memang lukisan Tuhan yang menarik yang harus segera dikunjungi😊

    Like

  7. Belum pernah kesini dan sepertinya tidak akan pernah 😌 masih mau liat foto foto perjalanan disini, sepertinya bagus jika lebih banyak foto desa desa disana 😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s