Uji Ketahanan Lutut di Gunung Bulusaraung

Gunung Bulusaraung, terletak di Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan, sekitar satu sampai dua jam perjalanan dari kota Makassar, ketinggian gunung ini sekitar 1353 meter di atas permukaan laut.

1353 mdpl? berarti enggak tinggi-tinggi amat ya?

Memang tapi…

Meskipun jarak tempuhnya pendek, gunung ini memiliki elevasi kemiringan jalur yang membuat kaki dan betis bekerja keras, utamanya sendi yang ada di lutut.

Bagi yang sudah sering mendaki, mungkin tidak masalah, tapi yang udah jarang, sebaiknya rajin-rajin jogging dulu beberapa hari sebelum ke sana, soalnya antisipasi agar enggak ngos-ngosan parah, dan ritme napas tetap aman terkendali.

Ya begitulah karena banyak tanjakan yang harus dilalui.

Saran saya, jangan membawa banyak barang, bawalah peralatan yang ringan-ringan saja namun bermanfaat.

Bagi yang belum pernah mendaki atau untuk pendaki pemula, bisa jalan-jalan ke tempat ini namun disarankan tetap ditemani oleh kawan-kawannya yang sudah biasa hiking. Kawan tersebut berupa teman yang ketahanan fisiknya kuat (tapi sempat prihatin juga karena teman kayak gini selalu menjadi objek penderita, dan seringkali orang seperti ini sepaket dengan sifat sabar, karena selain berperan sebagai leader tim perjalanan, dirinya juga akan merangkap sebagai porter dimana di pembagian team biasanya isi carriernya itu tenda dan benda berat lainnya hehe… )

Sebelum ke area pendakian, jalur yang ditempuh adalah Desa Tompo Bulu, Balocci, jalan di daerah ini “benar-benar jalur khas daerah gunung”

Untuk yang membawa motor usahakan, memakai motor yang baik, agar tidak bermasalah di tengah jalan, apalagi jika membawa carrier yang berat, jika motor bermasalah plus carrier yang berat maka perjalanan jadi terganggu.

Untuk yang menggunakan mobil, pastikan bahwa sudah terbiasa menyetir di jalan pegunungan. Jangan sampai tergelincir dan masuk jurang. Sebelum berangkat berdoa dulu, biar selamat, sehat dan bahagia.

Area pendakian Bulusaraung sendiri berada di Kawasan Konservasi Taman Nasional Bulusaraung, dekat dengan Makassar, sebagian wilayahnya itu mencakup daerah Maros dan juga Pangkajenne Kepulauan, Sulawesi Selatan.

Di luar area Taman Nasional itu juga terhampar bukit karst alias bukit kapur, di daerah tersebut dijadikan pertambangan batu gamping untuk produksi marmer dan semen. Kalau mau kepoin lebih tentang Taman Nasional Bulusaraung, bisa cari tahu di Kepoin Taman Nasional Babul

Untung saja sebagian area perbukitan gamping di sana dilindungi dan dijadikan area konservasi alias Taman Nasional.

Apa saja yang dilindungi di sana?

Habitat monyet, habitat kupu-kupu cantik, karst, tumbuhan dan masih banyak lainnya.

Jadi jika ke sana, pastikan tetap menjaga alam.

Saya ingat pertama ke sana saat saat saya SMP. Menuju ke Tompo Bulu naik truk, (saat itu ikut pelatihan pramuka).

Hari itu saya duduk di truk bersama anak-anak lain, saya merasa kami seperti segerombolan sapi dalam truk (efek baju pramuka mirip warna kulit sapi).

Tapi sayangnya dalam pelatihan tersebut area pelatihan saya hanya sampai di daerah Tompo Bulu, bukannya sampai hiking ke Bulusaraung,

Dan setelah sekian lama akhirnya saya punya kesempatan mendaki ke Bulusaraung, mulai pendakian pertama ke sana, sepertinya saat itu awal perkuliahan. Lalu kemudian mengunjungi gunung itu lagi dan lagi.

Seiring waktu, banyak perubahan yang terjadi di Tompo Bulu dan Bulusaraung, dulu waktu saya masih bocah, area Tompo Bulu hawanya terasa sangat dingin, tapi sekarang rasanya tidak sedingin dulu (apakah cuman perasaan saya kisanak?), lalu sekarang tempat pendakian lebih terkoordinir, pendaki harus melapor dulu ke pos pendakian, di area basecamp di Desa Tompo Bulu (mungkin untuk tindakan pencegahan kalau ada pendaki yang tersesat, bisa diketahui segera)

Nanti di sana akan ada petugas yang minta kamu untuk registrasi, kayaknya dikenakan biaya registrasi untuk ke sana, (dulu enggak ada, sekarang udah ada). Saya enggak pernah bayar biaya registrasi (soalnya selalu dibayarkan sama teman), tapi tenang saja biaya registrasinya enggak bakalan bikin kantong kamu bolong.

Setelah melapor, titip kendaraan dulu di rumah warga, dan langsung siap-siap go ke lokasi.

Hiking dimulai di belakang rumah warga, di dekat kebunnya, terus naik ke Pos 1, saya benar-benar merasakan perubahan yang terjadi di sana, dulu jalur ke Pos satu tidak ada tangganya, tapi saat saya mendaki terakhir di sana tahun 2018 sekarang sudah ada tangga.

Di jalur ke Pos pertama tenaga sudah dikuras, karena di awal pendaki sudah disambut oleh jalan menanjak.

“Atur napas kalian saudara-saudara”

Sumpah serapah sudah keluar kalau sendal atau sepatu membuat kaki kepeleset, apalagi kalau sudah ngos-ngosan gara-gara jalan menanjak. Jadi saran saya, daripada susah di jalan tetap utamakan safety, kalau mau hiking ya, sebaiknya pakai sendal atau sepatu gunung, kecuali buat para pendaki pro yah.. mungkin lewat jalur itu santai aja meski cuman pakai sendal swallow.

Masih bicara tentang Pos 1, memang Sekarang Pendaki dimanjakan dengan kehadiran tangga menuju pos pertama. Dulu gak ada tangganya, hanya tanah. Jadi sekali lagi berbahagialah kawan-kawan.

IMG_20170731_153826

Total Pos yang ada di gunung Bulusaraung ada 10 pos pendakian, sebenarnya aneh juga mengetik “Gunung Bulusaraung” secara dalam bahasa Bugis-Makassar, “Bulu” itu berarti gunung, kan jadi dobel nulisnya, dan akhirnya dalam tulisan ini saya putuskan untuk nulis Bulusaraung saja, daripada ribet.

Lanjut perjalanan, untuk durasi perjalanam hiking ke sana sekitar 3-5 jam, 3 jam jika berhenti cuman satu kali, dan jalannya buru-buru, kayak gaya lari-larinya Naruto.

Lima jam jika banyak singgahnya dan banyak foto-fotonya.

1 BLS

“eh ada tangga nih, rejeki anak sholeh”

Setelah itu siapkan lutut anda kawan-kawan, manjat-manjat dikit, terus hiking jalan lurus, manjat lagi, jalan lurus lagi, nanjak lagi…

Di jalur nemu bunga liar yang nempel di pohon, dijepret dulu.

7 BLS

Sempat tersangkut di Pos 8, disini spot dokumentasinya bagus banget, dari kejauhan sudah bisa hamparan pemandangan alam, disini juga ada tower besi.

Lanjut perjalanan, akhirnya sampai di Pos 9 di Pos 9 ini area para pendaki buat bangun tenda, daerahnya juga datar, tapi enggak datar-datar amat soalnya banyak akar pohon, tapi lumayan kondusiflah. Di pos ini juga ada sumber air jadi aman, tapi sayangnya jarak sumber air lumayan jauh sekitar 15 menit jalan kaki nanti dapat sumber air, tapi jalur sumber airnya berupa turunan agak terjal, tips saat berada di Pos 9 yaitu sediakan jarigen air buat ngangkat air ke dekat tenda.

6 BLS

Menuju puncak, di puncak tringulasi Bulusaraung sudah menanti, disana ada bendara merah putih kebanggan kita.

Sebelum ke puncak amankan barang-barang-barang di tenda dulu, lalu siap-siap dan Let’s go!

Lalu 15 menit kemudian tiba di puncak, di area ini skill manjat lumayan diperlukan. Elevasinya miring-miring guys.

Yang paling seru itu duduk di pinggir tebing batu di puncak, rasanya tuh kayak ditampar angin (angin di atas sana memang lumayan kencang).

Kayak disadarkan bahwa manusia itu harusnya banyak bersyukur dalam hidup.

3 BLS

Anjing Setia

Dari pos satu ada anjing yang ngikutin saya terus, kata teman saya yang akhir-akhir ini sering mendaki di sana, anjing itu selalu ada. Saya memang sering melihat anjing itu di sana tapi anjing yang setia sampai ngikutin saya ke puncak baru pertama kali ini, masalahnya adalah penampilan si anjing, dia berkulit hitam legam, mengingatkan saya pada Sirius Black di buku Harry Potter.

Tapi karena mirip Sirius Black berarti si anjing itu awalnya keliatan jahat, tapi aslinya baik banget. Maka dari ini saya hapuskan sebuah cap negative yang saya stempelkan pada si anjing, maafkan saya Jing!

Sempat foto bareng ama si Sirius black nih.

2 BLS

Saat duduk di tebing, lalu sebuah pikiran melintas begitu saja, isinya yaitu “Manusia jangan pernah peliharain sifat sombong, karena sebenarnya dia itu bukan apa-apa, misalnya nih jika ia tergelincir sedikit aja ke tebing, rusuk dan tulang kaki manusia ini tentunya bisa patah-patah. takut jika nakal-nakal dengan merusak alam nanti bisa kenah karma.”

4 BLS

Ciri khas dari Bulusaraung kamu bisa melihat hamparan bukit-bukit hijau, bukit karst dan juga breksi gunung api.

5 BLS

Begitulah pemandangan yang ada di puncak Bulusaraung, rasanya tentu beda jika hanya melihat foto dengan melihat secara langsung dengan mata manusia ciptaan Tuhan.

Pada akhirnya manusia akan selalu merindukan alam. Meskipun betapa menyenangkan hiburan di kota, kota yang terus bersolek, kota dengan jalanan padat, lampu-lampu terang, kilau lantai Mall, ataupun aroma menyengat tempat nongki kekinian, dimana begitu banyak daya tarik kota yang menyilaukan mata, setelah hiking di area Bulusaraung, kemudian saya menyadari bahwa alam selalu punya daya tariknya tersendiri.

Advertisement

14 thoughts on “Uji Ketahanan Lutut di Gunung Bulusaraung”

  1. Cerita yang menarik. Saya membayangkan lebih memaknai cerita ini jika tidak ditulis berdasarkan kronologis dari perjalanan. Starting poin dari cerita anjing hitam tadi bagus. Di luar itu, kaykanya menarik kalo suatu waktu bisa hiking sama-sama

    Like

  2. hiking adalah aktivitas yang mau sekali saya coba tapi karena tidak ada teman jadinya belum juga kesampaian. Semoga nanti ada masa untuk bisa juga merasakan lelah dan nikmatnya saat sudah ada di puncak ๐Ÿ™‚

    Like

  3. Hiking dikorea menjadi rutinitas nenek nenek disetiap pekannya. Sayang meski masih muda saya tidak berkesempatan untuk hiking, bisa jadi lutut ku tak sekuat itu dan yg utama ga dapat izin nya ._.

    Like

  4. 1.300an mdpl? Ah cemen
    Di Papua saya biasa naik ke ketinggian 1.700 mdpl sama 2.200 mdpl.

    Tapi itu naiknya pakai mobil, nda jalan hahaha. Kalau disuruh jalan ya malas juga ๐Ÿ˜†

    Like

  5. Jadi ingat tracking ke Tebing Keraton di Bandung. Untuk sampai ke puncak, butuh niat yang kuat dan usaha yang besar.
    Wah kapan jg bisa menikmati pendakian di Gunung Bulusaraung yah?

    Like

  6. teringat masa masa SMA yang masih aktif aktifnya mendaki.. Setiap nanjak, selalu diphp oh itumi, sampai maki, sedikig mami sampai berjam jam selanjutnya. Tapi setiap kali nanjak, berasa lega dan senang sih..

    Like

  7. Jadi salfok dengan si sirius black hehe… ehtapi kalau saya yang diikutin Anjing pasti bakal ketakutan hehe tapi kak Ilmi berani ya bisa sampai foto bareng gitu dengan Sirius. Siriusnya juga kuat ya bisa ikut mendaki sampai ke puncak.

    Like

  8. Ini gunung (yang benar benar gunung, karena ada di Manggarupi, daerah Gowa, gunung tapi tidak tinggi ji) yang pertamakali saya daki. Sekitar tahun 2014. Dan lumayan untuk pemula seperti saya. Saya setuju dengan isi postingan ini. Bulsar bisa jadi pilihan untuk pemula. Tetapi, fotonya bagus ya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s