Suara Alarm di Bulan Agustus

Bagiku bulan Agustus kadang lebih terkenang dibandingkan dengan bulan lain, bukan karena perang dunia II mulai meredah di Agustus sehingga para penjajah ramai-ramai pulang kampung, bukan pula karena hari kemerdekaan Indonesia jatuh di bulan Agustus dimana hari tanggal kemerdekaannya hanya berbeda dua hari dengan Korea Selatan, dan bukan juga karena ada hal istimewa yang terjadi di hari biasa dalam bulan itu.

Aku mendadak mengingat bahwa ada hari dan tanggal di bulan Agustus yang sangat berbeda, tapi aku tak menyebutnya sebagai hari istimewa, sebenarnya aku hanya ingin memberitahumu bahwa di awal bulan Agustus ada hari ulang tahunku.

Dalam keluargaku, kami tak merayakan hari ulang tahun, tak ada kue  atau lilin-lilin berbentuk angka  sesuai jumlah usia, tak ada tepukan tangan perayaan, kado-kado pemberian, sesungguhnya keluargaku asing dengan semua itu. Mamaku mengatakan bahwa itu adalah budaya barat, karena lagu ulang tahun kemudian dinyanyikan dengan lagu bahasa Inggris.

Ketika aku mencocokkan jadwal kegiatanku dengan kalender dalam smartphoneku, tersadarlah aku bahwa sebentar lagi hadir di bulan Agustus.

Ada suara alarm yang berbunyi di awal Agustus, mengingatkanku berulang-ulang setiap tahun di bulan masehi tersebut. Alarm itu mengingatkan akan usia, usia seorang anak manusia, dimana bunyinya mencari perhatian diantara riuhnya bulan-bulan yang terlewati.

Alarm itu mengingatkan akan usia, usia seorang anak manusia, dimana bunyinya mencari perhatian diantara riuhnya bulan-bulan yang terlewati – Ilmi.

Waktu terasa cepat berlalu diantara rutinitas kerja monoton, hari tertentu yang penuh kesibukan hingga sulit bernapas atau hari tertentu yang sangat luang hingga tak tahu harus melakukan apa. Dan akhirnya aku menyadari aku telah berada di fase manusia dalam fase memasuki usia dewasa muda.

Aku jadi ingat pemuda bernama Urishimataro. Dia terlenan ketika hidup di dunia bawah laut yang penuh dengan kesenangan dan kenyamanan. Saat ia rindu pulang ke daratan, Urishimataro membuka kotak petinya, dia mendadak berubah wujud menjadi tua, kulitnya keriput, kisut, tulang-tulangnya keropos hingga remuk, hingga akhirnya jadi debu, seperti debu yang diterbangkan angin kencang, dia sirna…..

Dan aku menyadari bahwa hal utama yang membuat Urishimataro terlena adalah waktu.

Dan aku menyadari bahwa hal utama yang membuat Urishimataro terlena adalah waktu – Ilmi.

Waktu telah melewati sejarah yang panjang, sejak ditemukan beratus tahun lalu, sejak ditemukan penanda waktu lewat jam matahari, sejak ditemukan metode menghitung waktu, atau kehadiran jam mekanik dan sekarang jam digital.

Semua terasa terburu-buru, semua terasa cepat, karena semua hal diukur dengan waktu, semua memiliki batas waktu. Aku tersadar terkadang aku melihat Taro dari dalam diriku, aku pernah terlena oleh waktu.

Dan aku mendadak mengingat arti surah al-Ikhlas dan senandung grup nasyid Raihan samar terdengar.

Sebelum sisi negatif dari kapitalis dan liberal meracuni pikiranku  (kalau bisa tetap terhindar).  Aku akhirnya melakukan pekerjaan sosial di waktu luangku.

Waktu berlalu dan pekerjaan sosial itu membuatku semakin menjadi orang yang berbeda. Melihat dari sudut pandang berbeda, keluar dari pandangan saat kuliah atau dalam keluarga yang memiliki rupa yang hampir sama. Ketika aku melakukan kegiatan sosial, aku seperti melihat aneka rupa wajah manusia.

Wajah-wajah sukarelawan pekerja sosial dengan aneka sifatnya, wajah kemiskinan orangtua dibalik senyum anak-anak jalanan, ataupun rasa optimisme tertinggi yang memancar dari mata teman-teman difabel netra.

Aku hanya berusaha membangunkan rasa kemanusiaan dalam diriku, tapi yang kumaksud ini adalah rasa kemanusiaan yang baik, karena sesungguhnya ada kemanusiaan yang buruk, kita bisa melihat masih ada dengki, ketamakan, cemburu, dan marah dalam diri manusia. Masih ada perang yang tak kunjung usai di belahan dunia lain, perang yang diam-diam maupun perang yang terang-terangan.

Di usiaku di bulan Agustus ini, mengingatkanku pada semua perbuatan yang telah kulakukan di hari-hari yang lampau. Masa depan masih jauh ke depan, dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Aku ingin mengisi hari-hariku dengan nilai-nilai kehidupan, karena aku manusia yang lemah, maka aku cukup melakukan hal-hal sederhana yang bermanfaat.

Aku masih ingat rasa sakit saat seekor semut rangrang menggigit tanganku, rasa nyut-nyut tertusuk duri bulu babi saat berenang di pantai, atau gigitan sekelompok nyamuk beterbangan di atas kepalaku ketika aku pergi berkemah pramuka saat SMP.

Dan hal-hal sederhana lain, rasa senang ketika menemukan selembar uang Rp. 20.000 atau Rp. 5.000 di saku celanaku, bertepatan dengan momen saat aku tak punya uang untuk membeli kuota internet (saat sekolah menengah, aku kecanduan internet). Rasa senang ketika bapakku membawa buku cerita, majalah anak-anak, dan es krim coklat, atau ketika meluangkan waktu bersamanya di dalam rumah, bapak mengisi buku teka-teki silang favoritnya dengan serius sedangkan aku membaca komik atau buku cerita. Rasa senang ketika melihat senyum sumringah mamaku, karena ada hal-hal yang membuat suasana perasaannya menjadi baik.

Rasa sedih dan rasa bahagia itu berpadu menjadi satu dalam hidupku, dan semuanya telah terlewati.

Aku sejatinya mulai menghargai hal-hal sederhana dan mulai memupuk rasa terima kasihku kepada kehidupan. Kepada para manusia yang kukenal, dan tentu saja terima kasih tertinggiku kuberikan kepada Tuhan.

Jadi tulisan ini kutulis pada Tanggal 31 Juli, di sela-sela jam kerja, dan bunyi alarm yang awalnya sayup-sayup perlahan mulai terdengar bersahut-sahutan menghampiri bulan Agustus menandai pertambahan  usiaku.

 

 

 

 

One thought on “Suara Alarm di Bulan Agustus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s